Jumat, 24 Desember 2010

Sifat Iman (Bagian 3)

Kita telah mempelajari bagaimana pemahaman iman menurut orang non-Kristen dan bagaimana iman dipandang dari Alkitab yang dimengerti oleh Theologi Reformed. Prinsip dan kebenaran Alkitab terbalik dari apa yang manusia seringkali pikirkan. Bukan karena melihat baru beriman, tetapi Alkitab ingin kita beriman dulu baru melihat. Seluruhnya harus kembali kepada Allah dan merupakan inisiatif Allah. Ini disebut qualitative difference. Ketika Marta sibuk melayani Yesus, Maria justru sibuk mendengar dan mengerti Firman. Saat ini ada orang-orang Kristen yang kelihatannya sibuk melakukan banyak hal untuk Yesus, tetapi tertidur ketika mendengar khotbah atau mempelajari firman Tuhan dengan mendalam. Ketika orang-orang Reformed terus belajar dan mendengar Firman, orang Kharismatik sibuk menyanyi, yang kadang menyanyi dengan nada yang tidak tepat. Tuhan ingin kita mendengarkan apa yang Ia katakan, bukan kita yang memaksa Tuhan untuk mendengar apa yang kita katakan.

Kita harus mau mengoreksi seluruh pemahaman kita sampai hal yang sekecil-kecilnya, sehingga kita lebih berkenan di hadapan Tuhan. Ketika saya berkhotbah, saya menggunakan suara keras, tetapi ketika saya berdoa, saya bersuara lembut. Mengapa demikian? Ketika saya berkhotbah, saya ingin setiap orang, setiap sudut bisa mendengarkan firman Tuhan dengan jelas dan sungguh bisa memperhatikan Firman. Tetapi ketika saya berdoa, saya sedang berbicara dengan Allah yang begitu dekat dengan saya, sehingga saya tidak perlu berteriak. Saya sedang berbicara dengan Allah yang saya hormati, sehingga tidak pantas saya berteriak-teriak kepada-Nya. Jika kita mengenal Allah yang dekat dengan kita, yang begitu mulia dan hormat, yang mendengar doa kita, maka sangat tidak sopan jika kita berteriak-teriak di hadapan-Nya, seolah-olah Dia tidak mendengar. Berbeda dengan Marta, Maria senantiasa mau mendengar dan belajar firman Tuhan. Marta terus sibuk dan menganggap dirinya sudah melayani lebih dari orang lain, akhirnya menjadi sombong dan memerintahkan Tuhan Yesus untuk memarahi adiknya. Sebaliknya, Tuhan Yesus malah menegur Marta. Maria telah mendapatkan bagian yang terbaik, yang tidak bisa direbut dari dirinya. Maka ketika Lazarus meninggal, Marta tidak mengerti dan tidak percaya bahwa Yesus mampu membangkitkan Lazarus. Ia menganggap diri sudah lebih tahu, sudah belajar theologi, dan tahu bahwa Lazarus hanya akan bangkit pada akhir zaman bersama-sama dengan yang lain. Di sini terungkap suatu kalimat dari Tuhan Yesus yang begitu indah, “Jika engkau beriman, engkau akan melihat kemuliaan Allah.” Di sini muncul metode Alkitab yang pertama kali, “Jika beriman, akan melihat kemuliaan Allah.” Ini berbeda dengan konsep orang dunia, bahwa kalau melihat, baru beriman kepada Tuhan Allah.

Pada zaman Tuhan Yesus, orang yang paling banyak membawa orang beriman kepada Tuhan Yesus sebelum Ia mati di kayu salib adalah Yohanes Pembaptis. Melalui Yohanes Pembaptis, seluruh negeri saat itu digoncangkan. Mereka bergetar dan menjadi gentar, dan mulai dibawa kembali beriman kepada Tuhan Allah. Yohanes Pembaptis lebih agung dari Elia. Elia mengakibatkan sekelompok orang di atas gunung Karmel berhenti menyembah Baal dan kembali kepada Yehova. Yohanes Pembaptis seorang diri berteriak-teriak di padang gurun tanpa dukungan siapapun. Makanannya adalah belalang, bajunya adalah kulit unta, dan ia berteriak, “Kerajaan Allah sudah dekat, bertobatlah kamu!” Beribu-ribu bahkan beratus-ratus ribu orang berduyun-duyun dari semua kota dan semua desa berkumpul di tepi sungai Yordan untuk mendengar khotbahnya dan mereka menangis lalu bertobat. Mereka mengalami kebangunan rohani yang sesungguhnya. Yohanes Pembaptis tidak pernah satu kali pun melakukan mujizat tetapi orang yang percaya kepada dia begitu banyak. Saya menghormati orang Islam yang mengakibatkan berjuta-juta orang percaya dan mereka tidak mengadakan mujizat. Sedangkan di dalam gerakan Kharismatik sudah timbul sebuah perasaan rendah diri, sehingga mereka beranggapan seolah-olah jika tidak ada mujizat maka tidak ada orang mau bertobat. Akhirnya mereka membuang firman Tuhan yang paling penting lalu mengejar terjadinya mujizat supaya orang bisa percaya. Mujizat terbesar adalah Kristus bangkit dari antara kematian, mujizat terbesar adalah kuasa kebangkitan yang membuat manusia percaya kepada Dia. Sedangkan mereka yang mengejar kesembuhan atau kekayaan akhirnya beberapa tahun kemudian menjadi sakit lagi dan kemudian tetap mati juga. Yang sementara kaya, suatu saat kekayaannya hilang dan mereka mengalami penderitaan besar. Mereka tidak mementingkan firman, hanya mementingkan anugerah dan berkat dari Tuhan. Tidak heran, akhirnya beberapa pemimpin Kharismatik yang paling penting dalam sejarah satu per satu jatuh ke dalam skandal seks dan keuangan yang tidak beres. Tuhan memperbolehkan setan memberikan umpan uang dan memberikan berkat lalu menghancurkan Kekristenan melalui kepimpinannya yang tidak beres. Sedikit pendeta yang melihat semua tipuan ini, sehingga Yesus berkata kepada Marta bahwa ia telah salah mengerti theologi. Kalau ia betul-betul beriman, ia akan melihat kemuliaan Allah. Bukan sesudah engkau melihat baru engkau beriman. Ini metode yang salah, yang pertama-tama harus dibongkar dan diberi satu kekuatan revolusi untuk membalikkan manusia kepada metode Alkitab yang benar. Ini tugas dan panggilan Theologi Reformed.

Kedua, Alkitab mengatakan bukan karena engkau mengalami atau engkau sudah mengerti secara rasio baru kemudian engkau beriman. Namun sebaliknya, ketika engkau beriman, engkau akan mengetahui. Di dalam Ibrani 11:3 dikatakan, “Karena kita percaya bahwa dunia ini dicipta oleh Allah melalui firman-Nya.” Jika saya sudah tahu, sudah masuk akal, atau saya rasa itu logis, maka barulah saya mau percaya, itu adalah metode orang berdosa, itu metode dunia. Alkitab mengatakan, “Jika engkau percaya, maka engkau akan mengetahui.” Percaya itu dari mana? Di dalam khotbah-khotbah yang lain, beberapa tahun yang lalu saya membedakan empat tahap iman, yaitu: 1) Iman yang sudah ditanam terlebih dahulu sebelum seseorang mendengar firman; 2) Iman yang timbul setelah mendengar firman; 3) Iman yang dikaruniakan Roh Kudus untuk pelayanan; dan 4) Iman yang bersandar kepada firman Tuhan setiap detik serta mengambil berkat dan kuasa Tuhan, di mana kita bisa senantiasa memegang tangan-Nya. Kita harus beriman, kita harus percaya kepada Tuhan terlebih dahulu, barulah setelah itu kita mendapatkan pengertian yang Tuhan akan berikan kepada kita. Di dalam iman mengandung pengetahuan, sehingga Paulus mengatakan, “Aku tahu siapa yang aku percaya” (1 Tim. 1:12). Maka, percaya dulu baru mengetahui akan ikut.

Saya pernah mengatakan bahwa kredo iman Kristen mengatakan bahwa, “Faith seeking understanding” (credo ut intelligas, en inteligum un credas) – iman menghasilkan pengertian dan pengertian membawa kita untuk beriman lagi. Dengan demikian iman – pengetahuan, pengetahuan – iman, seperti lingkaran tahun dari setiap pohon. Setiap pohon memiliki lingkaran tahun yang setiap tahun bertambah satu lingkaran lagi. Pertumbuhan ini menggambarkan bagaimana iman membawa kita pada pertumbuhan pengertian, lalu pengertian itu akan membawa kita pada pertumbuhan iman yang semakin kuat. Itu terus berulang menjadi putaran lingkaran yang semakin besar. Akhirnya putaran ini menjadikan kita orang yang penuh iman yang dipertanggungjawabkan oleh pengertian kebenaran karena kita patuh dan percaya kepada Tuhan.
Terakhir, Alkitab mengatakan karena iman maka nenek moyang kita mendapat bukti. Jadi, bukan karena sudah terbukti barulah nenek moyang kita percaya. Saat ini, ajaran-ajaran Alkitab yang penting ini telah diabaikan oleh banyak orang Kristen. Bahkan ajaran-ajaran Kristen banyak dimanipulasi, diubah, dan dirusak oleh orang yang tidak mau mengerti kedaulatan Tuhan Allah. Saya tidak perlu mendapatkan bukti yang dahsyat tentang Allah baru saya bisa percaya; saya juga tidak perlu mengalami anugerah besar baru saya bisa percaya; saya tidak perlu menjelaskan dengan berbagai dalil logika manusia, baru saya bisa percaya. Prinsip Alkitab mengatakan bahwa karena iman, nenek moyang kita mendapatkan bukti. Ketika firman Tuhan dikabarkan, cahaya dari firman yang mempunyai khasiat khusus akan langsung menembusi awan-awan gelap di dalam hati dan otak manusia, memberikan iman yang ditanam sebagai benih di dalam hati manusia itu. Mengapa saya percaya? Itu karena saya berespon kepada Allah yang telah menyatakan diri-Nya melalui alam ciptaan-Nya dan khususnya melalui firman-Nya. Melalui itu, saya percaya dan menjadikan saya bisa mengerti bahwa Ia ada. Melalui firman, saya mengetahui bahwa Allah yang ada itu adalah Allah yang hidup. Allah yang hidup itulah yang telah menyatakan diri-Nya kepada saya, sehingga saya bisa melihat kemuliaan-Nya dan mengerti seluruh kebenaran yang Ia wahyukan kepada saya. Dari semua itu, akhirnya terbukti bahwa Allah itu adalah Allah yang sejati, Allah yang benar. Semua metode yang tercantum dalam Alkitab ini mengakibatkan kita mengatakan, “Aku orang percaya.” Dan ketika iman kita berespon kepada Tuhan, maka respon iman ini berbeda dari semua iman agama lain. Iman ini adalah iman yang sesuai dengan firman dan merupakan respons kepada firman. Jangan karena kita mengetahui beberapa doktrin, lalu kita sudah mengaku sebagai orang Reformed atau bertheologi Reformed. Saya ingin agar di dalam segala segi termasuk metode kita, kita boleh sesuai dengan wahyu Tuhan di dalam Alkitab.

Mari kita bertobat secara pikiran; mari kita bertobat secara pelayanan; bertobat secara mental; bertobat secara metode; bertobat di dalam berapologetika; dan kembali kepada prinsip-prinsip Alkitab. Mari kita memohon kepada Tuhan agar Ia memimpin kita seumur hidup agar tidak menyeleweng, tidak jatuh, tidak terpeleset, tidak jatuh ke dalam metode-metode manusia yang salah, sehingga seumur hidup kita bisa berkenan di hadapan-Nya. Soli Deo Gloria. Amin.
Pdt. Dr. Stephen Tong

Kamis, 23 Desember 2010

Sifat Iman (Bagian 2)

Konsep iman orang Kristen sangat berbeda dengan iman yang disebut di dalam agama, di dalam kebudayaan, dan di dalam segala sesuatu yang terjadi di dalam masyarakat non-Kristen. Kita perlu mengerti dengan cermat khususnya dari Theologi Reformed. Kita perlu dengan hati-hati membedakan apa yang dimengerti oleh orang Reformed dibandingkan dengan yang dimengerti orang Injili pada umumnya. Saya berharap banyak orang akan menemukan bahwa Theologi Reformed secara komprehensif ingin kita bertanggung jawab di dalam kepercayaan yang harus diikuti dan ditunjang oleh pengertian yang sempurna, sehingga kita tidak menjadi orang Kristen yang mengikut Tuhan dengan membabi buta.

Secara pengertian iman, pandangan orang-orang non-Kristen dan agama-agama biasanya mengambil empat macam presuposisi untuk melawan kepercayaan atau iman Kristen.

Pertama, saya tidak bisa beriman kecuali jika saya bisa melihat Tuhan. Kalimat ini membuat banyak orang Kristen yang pikirannya dangkal menjadi bingung. Akibatnya banyak orang Kristen yang ingin agar Allah menyatakan diri-Nya, agar orang-orang itu bisa percaya. Sikap seperti itu tidak benar. Bukan karena Tuhan “pamer” maka orang bisa percaya. Bagi orang yang tidak mau percaya, biarpun Tuhan sendiri “pamer”, dia tetap tidak akan percaya bahwa itu adalah Tuhan; lalu Tuhan ketakutan setelah “pamer” Dia tetap belum dipercaya, akhirnya harus mengikuti apa yang orang itu inginkan. Nah, akhirnya manusianya menjadi kurang ajar. Tuhan bukan anak kecil yang bisa kita takut-takuti, lalu Ia akan mengikuti apa yang kita inginkan. Jika kita tidak mau percaya kepada Tuhan, bukan Tuhan yang harus bingung membuat kita percaya. Tuhan sudah menanamkan benih iman ke dalam hati kita, kini tanggung jawab kita untuk menggunakannya dengan bertanggung jawab. Tuhan sudah memberikan wahyu umum kepada manusia, alam semesta di luar dan hati nurani di dalam. Maka tidak ada alasan bagi manusia untuk berdalih dari teriakan bahwa Allah itu ada.
Agustinus mengatakan, “Tanyalah kepada pohon mengapa engkau begitu hijau, tanyalah kepada burung mengapa engkau begitu kecil tapi bisa bersuara merdu, tanyalah kepada ombak mengapa engkau begitu besar tapi tidak mampu melewati batas pantai; maka mereka akan menjawab secara serentak bersama-sama, karena Allah telah menciptakan kami demikian.” Jika demikian, bolehkah kita mengatakan “tidak ada Allah”? Jika Allah tidak ada, maka konsep tentang Allah pun tidak pernah ada di dalam diri manusia. Namun, kenyataannya tidak demikian.

Di dalam hati manusia ada sensus divinitatis yang menyatakan bahwa Allah itu ada. Tuntutan yang meminta Allah harus dinyatakan agar manusia bisa percaya adalah tuntutan yang keluar dari pikiran yang sudah berdosa, yang terbatas, dan yang dicipta. Orang tersebut sedang menggabungkan Tuhan dengan dunia kelihatan. Tetapi sayangnya Tuhan bukan terkunci di dalam dunia kelihatan. Kalau terbatas dalam dunia kelihatan, pastilah dia bukan Tuhan. Tuhan adalah Tuhan justru jika Ia tidak kelihatan. Dunia yang tidak kelihatan tidak bisa dibuktikan dengan cara yang dipakai dunia kelihatan. Hanya orang yang bodoh yang meminta agar kita membelah air dengan pisau untuk membuktikan bahwa pisau kita sangat tajam. Setajam apa pun pisau tidak akan bisa membelah air karena sifat air bukan sifat yang bisa dibelah dengan pisau. Permintaan pembuktian seperti itu adalah permintaan yang bodoh. Orang Kristen tidak boleh minder ketika ditantang oleh orang dengan presuposisi yang salah tetapi kelihatan galak. Bukan karena orang sudah melihat Tuhan baru dia percaya, tetapi dia harus percaya kepada Tuhan barulah dia mengerti dan mengenal siapa Tuhan Allah itu.

Kedua, orang non-Kristen mengatakan jika saya bisa mengalami Allah, maka saya percaya. Orang seperti ini sebenarnya sedang mengatakan kalau ia tidak pernah mengalami Allah maka ia tidak akan bisa percaya. Kalimat ini sekali lagi  adalah produksi dari otak yang dicipta, yang terbatas, dan yang sudah terpolusi. Pengalaman manusia berada di dalam wadah yang terbatas, sedangkan Tuhan Allah berada di dalam wilayah yang tidak terbatas. Yang terbatas mengalami yang tidak terbatas itu tidak mudah, bahkan dapat dikatakan tidak bisa. Sebagaimana seorang anak mengatakan, “Saya baru percaya ada lautan jika lautan itu datang ke rumahku.” Permintaan pengalaman seperti ini adalah bodoh, karena jika benar terjadi maka ia akan mati. Ia tidak sadar bahwa ia meminta sesuatu yang jauh lebih besar dari kemampuannya untuk dialami. Kita tidak bisa mengalami pengalaman tidak terbatas, karena diri kita memiliki wadah yang terbatas.

Apa artinya mengalami Tuhan Allah? Jika engkau mengalami anugerah Allah janganlah engkau mengira wadahmu itu begitu besar sehingga bisa menampung semua. Engkau hanya boleh mencicipi rasa keselamatan. Metode kedua ini sering menjadikan manusia menggunakan kemampuan diri yang terbatas untuk memaksa Allah yang tidak terbatas. Mereka mengatakan, “Jika Tuhan menyembuhkan saya, barulah saya mau percaya,” atau “Jika Tuhan memberkati dan memberi kekayaan kepada saya, barulah saya mau percaya.” Jika syarat-syarat seperti ini ditetapkan oleh manusia yang sudah berdosa dan dijadikan syarat mutlak, maka setanlah yang akan menjadi allah mereka. Setan berkata kepada Tuhan Yesus, “Sembahlah saya, maka saya akan berikan seluruh dunia dan semua kemuliaannya.” Yesus menolak hal itu, karena Yesus bisa membedakan mana berkat dari Tuhan dan mana berkat dari setan. Kesembuhan mungkin bisa dari setan, mujizat palsu juga bisa berasal dari Iblis, dan kekayaan juga bisa datang dari Iblis. Semua hal ini dinyatakan jelas di dalam Alkitab. Jika kita tidak bisa membedakan mana berkat dari Tuhan dan mana berkat dari Iblis, maka kita akan mudah tertipu. Pengalaman bisa berbeda bila berasal dari sumber yang berbeda. Kalau menunggu berkat baru percaya, itu hal yang salah. Tuhan Yesus berkata: apa gunanya engkau memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawa. Kristus tidak menyembah Iblis karena dia mewakili Gereja sebagai Kepala. Kalau Kepala Gereja sendiri kompromi dan takluk kepada setan, maka seluruh Gereja yang berbakti kepada Kristus akan dengan sendirinya berbakti kepada Iblis. Itu sebabnya pemimpin-pemimpin tidak boleh lupa prinsip ini. Pendeta-pendeta Reformed jangan lupa bahwa engkau tidak boleh berkompromi dengan apa pun karena engkau adalah pemimpin yang bersifat wakil. Puji Tuhan! Semua teladan Kristus telah menjadikan Gereja Tuhan mengerti sifat dan prinsip Alkitab sehingga imannya dapat bertahan terus sampai Kristus datang kembali. Tetapi Tuhan Yesus mengatakan satu kalimat yang menyedihkan luar biasa, “Pada saat Anak Manusia kembali, bolehkah Dia menemukan iman?” Kita harus menjadi orang Kristen yang setia, menjadi orang Kristen yang konsisten, menjadi orang-orang yang memegang teguh prinsip-prinsip yang menyatakan bahwa kita adalah orang beriman yang setia kepada Tuhan.

Jikalau engkau setia bukan untuk menjadi sombong, melainkan bersedia untuk menjadi martir, untuk menjadi orang yang mungkin dibunuh, mungkin dibenci, diejek, difitnah, diumpat, diiri,  dan didengki oleh manusia, it is simply because you want to be a Christian, remain faithful until the end of the world.  Berikan kepada saya pengalaman, setelah saya mengalaminya saya baru percaya. Maka Tuhan akan mengatakan, “Kau kira anugerah-Ku  bisa dipermainkan seperti itu? Tidak! Aku menganugerahi siapa, siapa mendapat anugerah, Aku mengasihani siapa, siapa mendapat belas kasihan!” Di dalam kalimat yang begitu jitu kita melihat prinsip dasarnya adalah kedaulatan Allah yang menguasai pemberian anugerah Allah. The sovereignty is the principle of giving grace to any people. Tidak ada satu orang pun yang berhak berkata: “Kalau Engkau memberikan anugerah maka aku akan percaya kepada Engkau.” Tuhan akan mengatakan, “Tidak! Sebab Akulah yang menentukan kepada siapa Aku memberikan anugerah dan bukan kamu yang menentukan sehingga Aku harus taat kepadamu.”

Ketiga, kalau aku bisa mengerti, rasional, dan masuk akal, maka saya akan percaya, inilah presuposisi ketiga dari orang berdosa memberikan tantangan kepada orang Kristen. If you come pursuit me, convince me that your religion is reasonable, is logical, and make my reason surrender, then I will believe in your God. Nyatakanlah secara masuk akal dengan segala metode yang menaklukkan rasioku! Setelah aku merasa itu rasional, itu masuk akal, aku akan percaya kepada Tuhan. Metode ini merupakan hal ketiga produksi manusia dengan otak yang sudah dicipta, yang terbatas, dan dicemari dosa yang mengakibatkan penyataan kebodohan akan diri sendiri. Jawaban atas pertanyaan, “Kalau Tuhan masuk akalku maka aku percaya kepada Tuhan” adalah “Mengapa Tuhan mesti masuk akalmu? Bukan Tuhan yang mesti masuk akalmu tetapi akalmu yang mestinya masuk Tuhan.” Kamu minta kebenaran itu dimasukkan ke dalam otak sampai sesuai dengan apa yang dimaui otakmu? Otakmu itu terbatas, otakmu itu dicipta, otakmu terpolusi, otakmu dicemarkan oleh dosa, lalu kebenaran Tuhan harus sesuai dengan otakmu? Tidak ge-er-kah kamu? Tidak malukah kamu? Menganggap otakmu mempunyai daya penampungan yang cukup besar untuk menerima kebenaran Allah yang tidak terbatas? Apakah engkau tidak sadar bahwa otakmu betul-betul sudah tercemar? Apakah engkau kira bahwa engkau berhak untuk menguji kebenaran? Kebenaran jauh lebih besar daripada otakmu! Di dalam filsafat Grika, seks itu diibaratkan sebagai kemauan manusia. Sebagai wakil, seks itu kalau dilampiaskan tanpa kasih yang sejati, manusia turun menjadi binatang. Kalau engkau mempunyai kemauan yang diutarakan melalui nafsu seks, tanpa ada emosi yang baik untuk mengatur seks, engkau turun menjadi binatang. You lower yourself, you will become an animal;  you satisfy your sex desire and expression, you will not be controlled by the true and proper emotion.

Ini bahaya sekali. Manusia yang lebih tinggi dari itu adalah manusia yang membereskan emosinya, setelah itu dengan emosi yang sungguh-sungguh dan dengan cinta yang murni ia memerlukan seks. Manusia yang lebih tinggi dengan seks yang dikuasai oleh emosi yang suci pun tetap bahaya karena emosi kalau tidak mempunyai rasio yang benar, tidak mempunyai pengertian kebenaran untuk mengontrol, maka emosi itu bisa meluap dan membanjir. Sehingga yang lebih tinggi lagi adalah pikiranmu menguasai emosimu, baru emosimu menguasai seks dan kemauanmu. Dengan demikian, manusia yang seluruh kegiatan hidupnya berpusat pada seks dan kemauan, manusia itu mirip binatang. Manusia yang menguasai seks dengan emosi tapi tidak ada pikiran, asal emosi, asal cinta, tanpa kontrol, itu manusia yang sangat bahaya. Manusia yang mengerti kebijaksanaan, mengerti kebenaran, lalu dengan rasio dia menguasai emosinya, baru emosi ini menyatakan kontrolnya kepada seks, itu orang tertinggi. Maka di dalam kebudayaan Grika, filsuf itu orang tertinggi. Filsuf itu orang yang paling tinggi derajatnya di antara semua manusia dan kita semua harus menuntut kebijaksanaan menjadi pencinta kebenaran. Ketika Socrates ditanya, “Engkau orang berbijak kan?” Pertanyaan ini dijawab dengan, “Tidak, aku hanya pencinta kebijaksanaan.” Manusia yang mencari kebenaran sebenarnya dengan tidak sadar sedang membuktikan bahwa manusia tidak mempunyai kebenaran maka manusia perlu kebenaran. Yang tidak ada kebenaran, perlu kebenaran dan mencari kebenaran, supaya kebenaran dan hidup yang mencari kebenaran bersatu. Itu yang disebut orang sebagai filsuf. Philea - Sophia artinya I love the wisdom, I am only a wisdom-lover and I am not the wisdom. I should not be identified with wisdom. Aku tidak boleh diidentifikasikan sebagai kebenaran atau kebijaksanaan, aku hanya pencinta kebijaksanaan.

Tapi saya menemukan bahwa seluruh sistem Grika ini masih lemah. Yang menguasai kemauan adalah emosi, yang menguasai emosi adalah rasio, tetapi saya mau tanya, “Siapa yang menguasai rasio?” Di sini saya menemukan kemuliaan Tuhan melalui wahyu-Nya dalam Kitab Suci: Roh Kudus yang menguasai rasio. Waktu manusia merajalelakan, mengidolakan, dan memutlakkan akal sebagai Tuhan Allah, lalu berpikir bahwa yang masuk akal adalah kebenaran dan kalau tidak masuk akal bukan kebenaran; maka orang ini telah jatuh ke dalam jerat modernisme yaitu mengidolakan rasio, memutlakkan rasio, dan menjadikan rasio tuhan allah yang kedua. Memutlakkan yang tidak mutlak ini satu pelanggaran terhadap Allah yang Esa. Itu sebabnya orang yang mengatakan, “Tanpa masuk akal, saya tidak percaya,” itu berarti iman disejajarkan dengan rasio dia, kebenaran harus bisa diterima oleh pikiran yang sudah ternoda oleh dosa, ini bukan ajaran Alkitab. Alkitab mengatakan: bukan karena rasiomu  maka engkau beriman, melainkan karena engkau beriman baru engkau mengetahui kebenaran. Ini semua dibalik. Manusia pada umumnya memakai ilmu untuk membuktikan Allah ada, memakai rasio untuk membuktikan Allah ada, memakai pengalaman untuk membuktikan Allah ada. Orang Reformed mengatakan, “No! You are wrong! That is an anthropocentric presupposition; that is the result of the human fall; that is the result of the pollution, of the fall of Adam on your brain.” Ini semua salah: presuposisi pertama, jikalau aku melihat, maka aku percaya; presuposisi kedua, jikalau aku mengalami, maka aku percaya; presuposisi ketiga, jika aku merasa sudah masuk akal, maka aku percaya.

Presuposisi terakhir, jikalau bisa dibuktikan maka aku akan percaya. Give me proof, give me evidence! Itu namanya evidensial metodologi. Evidensial metodologi di dalam apologetika adalah metodologi orang dunia, bukan Alkitab. Saya kira saudara tahu ada satu buku yang namanya “Evidence That Demands a Verdict”. Inilah buktinya, coba engkau test; inilah buktinya, coba engkau buktikan, engkau konfirmasikan! Buku itu ditulis oleh seorang dari Campus Crusade yang terkenal yaitu Josh McDowell. Sebenarnya judul buku itu sudah salah, karena berarti kebenaran Allah boleh dihakimi oleh manusia. Mestinya orang berdosa yang dihakimi oleh Allah, bukan Allah dengan bukti-bukti supaya dihakimi oleh manusia. Engkau menilai sendiri, engkau hakimi sendiri, betul atau tidak. Mengapa menjadikan Allah boleh dihakimi oleh manusia dan bukan membawa manusia berdosa untuk dihakimi oleh Tuhan Allah. Itu adalah metode total evidensial, berbeda dengan Reformed Theology. Theologi Reformed menganggap Allah tidak dapat dibuktikan oleh manusia dan manusia tidak sanggup memakai bukti apa pun untuk menyatakan keilahian Tuhan Allah. Itulah sebabnya bukan Allah dibuktikan, tetapi Allah menyatakan diri-Nya. Apa perbedaan ‘Allah dibuktikan’ dengan ‘Allah menyatakan’? Pikiran yang tajam harus menjawab perbedaan antara ‘Allah dibuktikan oleh manusia’ dan ‘Allah menyatakan diri kepada manusia’. Jika Allah dibuktikan oleh manusia, siapa inisiator? Siapa subjek? Siapa objek? Jika Allah dibuktikan oleh manusia, manusianya menjadi subjek, manusia menjadi inisiator, Allah pasif – manusia aktif. Tetapi Allah menyatakan diri artinya Allah aktif – manusia pasif, Allah subjek – manusia objek, Allah inisiator - manusia responser, ini bedanya. Waktu Allah menyatakan diri maka engkau mengatakan, “O, I see Your glory, I know Your existence, I understand Your will.” Di situ Allah menjadi inisiator, inilah yang digunakan oleh Alkitab. Saya tidak tahu mengapa begitu banyak sekolah theologi memberi gelar tinggi kepada murid-muridnya yang katanya studi sampai S1, S2, tetapi tidak pernah mengerti metode ini. Saya tidak mau ditipu oleh, “Oh, saya sudah sekolah S1, S2, S3 dari luar negeri.” Saya mau tanya sebenarnya engkau mengerti Alkitab sampai di mana? Saya berkata kepada saudara bahwa di sekolah Institut Reformed, engkau boleh pakai uang paling sedikit untuk mengerti kebenaran yang paling dalam. Meskipun engkau bukan lulusan luar negeri, tidak usah minder. Karena di sini bobot dan pengertian dengan metode yang sungguh-sungguh sudah kita cari dan temukan di dalam Alkitab. Dan semua ini akan dikonfirmasikan oleh semua yang mengerti Theologi Reformed di seluruh dunia bahwa engkau sudah berada di dalam jalur yang benar. Allah menyatakan diri sehingga kita tahu Dia ada. Manusia mencoba membuktikan memakai ilmu alam untuk menemukan Allah itu ada, itu metodenya sama sekali berbeda. Alkitab tidak pernah mengatakan: silakan membuktikan Allah melalui ciptaan-Nya, melainkan engkau harus melalui ciptaan-Nya mengaku Dia ada, itu bukan hasil dari engkau membuktikan Allah ada. Itu adalah pengakuan. Mengapa? Karena Allah menyatakan diri melalui ciptaan di dalam alam maka Alkitab tidak memakai proof atau evidence, Alkitab memakai the manifestation of God, God manifests Himself, God shows Himself, God displays His work in the universe
Pdt. Dr. Stephen Tong

Rabu, 22 Desember 2010

Sifat Iman (Bagian 1)

Apakah perbedaan antara sifat iman yang dimengerti oleh orang-orang Reformed dengan orang lain? Telah dibicarakan sebelumnya bahwa iman ada yang dilihat dan diinisasikan oleh manusia berdosa, menurut keinginan manusia itu sendiri, dan dituntut oleh manusia itu sendiri. Ini disebut iman antroposentris. Tetapi kita melihat bahwa iman itu pemberian Tuhan dan berasal dari Tuhan. Maka di sini ada perbedaan kualitatif antara iman yang diinisiasi oleh manusia dengan iman yang berpusat dan berasal dari Allah. Semua theologi antroposentris mengutamakan dan menjadikan manusia sebagai pusat dan dasar untuk mengeluarkan satu produksi yang bersifat agama, yang berlainan dengan ajaran Alkitab. Semua agama dan semua penganut agama menyatakan iman, tetapi iman yang berada di dalam agama berbeda dengan iman di dalam Kristus.

Dosa, Iman, dan Diperkenan Tuhan

Tanpa iman tidak ada orang yang diperkenan oleh Tuhan Allah. Manusia yang minta diberkati oleh Tuhan karena dia merasa cukup baik, hanyalah menyatakan kerusakan, ketidakmengertian, dan kebodohan manusia saja. Nabi Yesaya mengatakan, “Segala kebenaran yang ada pada kami hanya bagaikan pakaian yang compang-camping saja.” Tidak ada seorangpun yang dapat memperkenan Tuhan Allah di dalam sorga. Allah tidak terharu karena engkau berbuat baik. Jikalau engkau betul-betul berbuat baik dengan motivasi seratus persen murni, itu pun hanya merupakan refleksi dari sifat yang disebut sebagai peta dan teladan Allah, bukan kapasitas murni dari diri kita sendiri. Terlebih ketika kita sudah tercemar dosa, yang kita perlukan hanyalah pengampunan dan belas kasihan Tuhan. Kita butuh penghapusan dosa yang memerlukan pengorbanan Yesus Kristus. Oleh karena itu, barangsiapa yang masih merasa dirinya benar dan cukup syarat untuk diterima oleh Tuhan, ia sedang menyatakan semacam sifat arogansi yang sulit diampuni. Dosa terbesar bukan dosa yang besar; dosa terbesar adalah dosa tidak mengaku diri berdosa. Dosa terbesar bukan dosa itu sendiri; dosa terbesar adalah sikap yang menganggap diri tidak perlu pengampunan.

Mengapa “anak yang terhilang” itu diterima kembali? Kenapa “anak yang tidak terhilang” ditegur oleh ayahnya? Karena dia merasa dirinya lebih baik. Orang Reformed yang sudah mendapatkan kebenaran lebih ketat daripada orang lain, lalu merasa diri jauh lebih baik daripada orang lain, mungkin sulit diampuni oleh Tuhan. Jika kita dapat menjadi lebih baik daripada orang lain, itu semata-mata adalah anugerah Tuhan; dan anugerah Tuhan diberikan bukan untuk membuat seseorang menjadi sombong, melainkan untuk membuat orang tersebut menjadi lebih rendah hati, lebih berserah kepada Tuhan, dan lebih rela dipakai oleh Tuhan. Segala kegiatan kita, pengorbanan kita, dan penyangkalan diri kita, bukanlah untuk mendirikan jasa atau untuk menegakkan suatu kontribusi yang mengakibatkan arogansi kita, tetapi untuk menyatakan Tuhan sedang bekerja memakai kita, sebagaimana Kristus telah menjadi teladan dalam melayani.

Kristus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia. Dia menjadi manusia, merendahkan diri, dan bersifat seperti budak, melayani dengan giat tanpa menghiraukan nyawa-Nya sendiri, tanpa menghitung untung rugi diri sendiri, tidak menghiraukan kesehatan atau kelelahan-Nya sendiri. Dia bahkan rela melayani sampai mencuci kaki Yudas. Apakah ini belum cukup menjadi teladan pelayanan kita? Sekarang banyak gereja tidak bisa maju karena pendeta-pendetanya menganggap diri lebih tinggi dari orang lain. Hari Senin tidak mau menelepon dan tidak mau terima telepon, karena merasa hari Senin adalah hari sabat bagi dirinya yang sudah melayani dari Selasa hingga Minggu. Mereka mengambil konsep yang disebut “Sabbatical Leave” (cuti sabat), yaitu setelah enam tahun bekerja, maka pada tahun ketujuh boleh cuti selama satu tahun. Alkitab tidak pernah menulis bahwa orang Lewi boleh cuti satu tahun setelah bekerja enam tahun sambil terus menerima gaji. Andai cuti sabat itu ada, mengapa itu hanya untuk pendeta? Mengapa orang Kristen pada umumnya tidak berhak juga mendapat cuti satu tahun setelah bekerja enam tahun sambil terus menerima gaji? Banyak pendeta tidak mengerti hal ini dan menyangka dirinya mempunyai hak yang lebih tinggi daripada orang lain sehingga melumpuhkan gereja. Selain dari apa yang harus dan sudah kita kerjakan, jangan kita menganggap diri kita berjasa; selain mengikuti Tuhan, jangan kita menganggap diri kita lebih dari orang lain; selain doktrin kita sudah menjadi Reformed, jangan kita menganggap diri kita lebih benar dari orang lain. 
Iman adalah Respons Anugerah
Saya rindu membawa seluruh gereja Reformed ke dalam berbagai prinsip lain yang kembali sesuai dengan semangat Alkitab. Saya bukan hanya sedang melatih orang yang berada di dalam sekolah theologi, melainkan juga melatih seluruh orang yang mengikuti kebaktian dan mendengar firman Tuhan di gereja untuk menjadi laskar Kristus yang sungguh-sungguh berbobot, yang sungguh-sungguh bersemangat sesuai dengan Alkitab. Iman yang kita nyatakan di hadapan Tuhan adalah respons setelah anugerah Tuhan terlaksana di dalam hidup kita masing-masing. Anugerah Tuhan Allah selalu mendahului respons manusia (the grace of God is always prior to human response). Anugerah Tuhan selalu menjadi fondasi kita bereaksi kepada Tuhan.

Iman dan Sains

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu bereaksi kepada Tuhan. Semua binatang hanya bereaksi kepada alam; hanya manusia yang dapat bereaksi kepada Allah. Manusia dicipta berada di bawah Allah, namun di atas alam. Itulah sebabnya manusia menyelidiki alam berdasarkan rasio yang diberikan Allah, berdasarkan kuriositas (rasa ingin tahu) yang ditanam di dalam hatinya oleh Tuhan Allah, sehingga ilmu pengetahuan menjadi mungkin. Namun, kita harus selalu sadar bahwa sains (ilmu pengetahuan) adalah lapisan yang paling bawah, karena manusia – yang lebih tinggi dari alam – menyelidiki alam yang dicipta lebih rendah dari manusia. Oleh karena itu, tidak ada alasan bahwa menyelidiki sains boleh mengakibatkan kesombongan lalu menjadikan kita berperan seperti Allah. Itu dosa besar.

Apa bedanya ilmuwan Kristen dan non-Kristen? Ilmuwan non-Kristen menyelidiki alam yang dicipta oleh Allah dengan menggunakan rasio yang diberikan Allah sebagai anugerah dasar, dan setelah dia menemukan suatu penemuan kebenaran Allah di dalam alam, ia menganggap itu sebagai jasanya. Ia meloncatkan posisinya dari posisi manusia ke posisi Allah lalu mencuri kemuliaan Allah. Ia mempergunakan penemuannya itu untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, lalu memanipulasi semua pengetahuan itu sehingga manusia tidak lagi memuliakan Tuhan, tetapi memuliakan dirinya. Sedangkan ilmuwan Kristen adalah orang yang menggunakan rasio yang diciptakan Tuhan sebagai alat untuk menemukan kebenaran yang disimpan oleh Tuhan di dalam alam, lalu dia sadar bahwa dunia ini telah dicipta dengan begitu ajaib, dan dia mulai memuliakan Allah, Penciptanya. Ia sadar dan tahu bahwa ia begitu kecil dan Allah begitu besar. Ia hanyalah alat di tangan Allah untuk menemukan kebenaran yang telah Tuhan tanamkan di dalam alam, dengan sarana rasio yang telah Tuhan tanamkan di dalam diri untuk memuliakan Tuhan. Inilah bedanya reaksi ilmuwan non-Kristen dengan ilmuwan Reformed kepada Tuhan.

Kita boleh bersyukur bahwa kita dilahirkan sebagai manusia sehingga kita bisa bereaksi kepada Allah. Pernahkah engkau berpikir: “Puji Tuhan, saya bukan anjing, bukan kucing, bukan kerbau, saya bukan kuda, dan seterusnya.” Bukankah engkau dicipta sebagai manusia bukan atas pilihanmu? Itu adalah anugerah. Mengapa kita diberi rasio untuk sekolah? Mengapa kita dapat mengerti alam? Sola Gratia. Setelah itu, saya harus mengerti bahwa saya diberi status sebagai wakil Tuhan yang diberi peta dan teladan Allah di dalam diri saya. Sebagai manusia yang demikian, saya diberi rasio sebagai alat untuk mampu melakukan penyelidikan, menemukan, dan mengetahui segala rahasia Allah yang dicipta dan ditanam di dalam alam. Sehingga akhirnya manusia itu boleh tercengang dan bersyukur menemukan keindahan dunia yang begitu menakjubkan.
Dengan iman kita melihat dunia ciptaan ini begitu ajaib. Dengan iman kita mengerti bahwa seluruh kemampuan rasio yang Tuhan berikan boleh menjadikan kita seorang ilmuwan yang melihat semua itu dan memuliakan Allah. Kita memang tidak perlu membuktikan Allah ada, tetapi melalui mengerti rahasia alam dengan rasio yang Tuhan tanam dan iman yang Tuhan anugerahkan, kita bisa melihat keajaiban dan menemukan kemuliaan Allah di dalam ciptaan. Puji Tuhan!

Kita tidak perlu membuktikan Allah ada. Allah terlalu besar dibandingkan dengan semua bukti yang mungkin dipakai oleh manusia. Oleh karena itu, wahyu Tuhan Allah adalah satu-satunya sarana yang memungkinkan kita mengakui bahwa Allah ada. Melalui alam semesta yang dicipta, kita mengetahui kodrat Allah, kita mengetahui sifat kebesaran Allah, kita mengetahui kebijaksanaan Allah, kita menemukan kemuliaan Allah yang tersimpan di dalam alam semesta yang begitu indah, begitu mulia, dan begitu ajaib. Allah yang memberikan pengetahuan itu kepada manusia. Allah memberikan kemampuan kepada manusia untuk mengerti. Allah memberikan segala pengetahuan kebenaran di luar diri manusia agar manusia sebagai subjek boleh mengenal alam sebagai objek. Baik subjek maupun objek sama-sama adalah anugerah Allah, karena bukan berasal dari manusia.

Suatu kali di tahun 1973, saya mengunjungi Historical and Natural Museum di Washington, DC. Di satu sudut saya melihat ada satu gambar yang begitu indah dan rumit. Ternyata itu adalah foto elektronik yang membesarkan kaki lalat lima ratus ribu kali. Ternyata, struktur pembentuk sel-sel kaki lalat sedemikian halus, seperti orang membordir. Lukisan manusia yang bernilai ratusan juta ketika difoto dengan mikroskop elektronik hasilnya adalah gambar yang rusak. Tetapi kaki lalat yang diciptakan oleh Tuhan, terikat menjadi satu kesatuan yang begitu rumit dan indah. Seketika itu juga saya mengatakan, “Betapa dahsyatnya Engkau, Tuhan.” Iman adalah reaksi terhadap Tuhan. Iman itu menjadi suatu reaksi; reaksi setelah menemukan segala keajaiban Tuhan di dalam ciptaan, reaksi setelah mengetahui betapa besarnya anugerah yang memberi saya hak untuk mengerti sifat ilahi melalui wahyu khusus, reaksi karena saya mengalami keselamatan dari Tuhan.
Kiranya kita bisa semakin memuliakan Allah dengan iman yang Tuhan berikan, menggunakan rasio kita dengan benar, melihat alam ciptaan dengan benar, dan menemukan berbagai rahasia keajaiban dan keagungan Tuhan di dalam ciptaan, kemudian menjadi suatu ilmu pengetahuan yang pada akhirnya kembali dipakai untuk kemuliaan-Nya. Sungguh betapa indahnya iman yang Tuhan anugerahkan kepada umat pilihan-Nya. Sola Gratia, Soli Deo Gloria. Amin.


Pdt. Dr. Stephen Tong

Selasa, 21 Desember 2010

Iman dari Allah Roh Kudus

Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.

(1Kor. 12:7-11)

Di dalam 1 Korintus 12:7-11 ini, kita melihat bahwa Roh Kudus memberikan berbagai karunia kepada umat Allah, kepada setiap orang percaya. Ini yang kemudian dikenal sebagai karunia Roh Kudus. Setiap orang percaya dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Karunia Roh diberikan “seperti yang dikehendaki-Nya” yaitu seturut kehendak Roh Kudus, bukan menurut kehendak kita, doa kita, ataupun ambisi kita. Karunia Roh Kudus hanya berasal dari Roh Kudus dan atas kehendak Roh Kudus. Di sini dinyatakan bahwa Roh Kudus yang memberikan iman kepada umat-Nya. Ayat ini adalah satu-satunya ayat yang menyatakan bahwa iman berasal dari Roh Kudus, dan sekaligus satu-satunya ayat yang menyatakan bahwa iman adalah karunia.

Allah Tritunggal dan Iman

Allah Bapa memberikan iman dasar; Allah Kristus memberikan iman keselamatan; dan Allah Roh Kudus memberikan iman pelayanan sebagai karunia. Allah Bapa menanamkan iman kepada kita sehingga kita bisa mengetahui adanya Tuhan Allah dan Dialah yang memberikan anugerah kepada manusia. Melalui Kristus, kita mengetahui bahwa Allah menciptakan kita dan menyelamatkan kita dengan Kristus mati dan bangkit bagi kita. Melalui iman yang ditanamkan oleh Roh Kudus, kita percaya kepada Tuhan dan bersandar kepada-Nya sambil berani melakukan banyak hal yang dianggap sulit atau tidak mungkin bagi orang lain. Jikalau ketiga macam iman yang diberikan oleh Allah Tritunggal ini ada di dalam diri kita, maka kita akan menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh beriman. Orang Kristen yang sungguh-sungguh beriman adalah orang yang tidak menghasilkan iman dari diri sendiri yang berdosa, tidak mengandalkan diri yang hanya ciptaan ini, melainkan yang mendapatkan imannya dari Allah Tritunggal - Dialah satu-satunya dan yang paling berhak memberikan iman yang benar kepada manusia. Hal ini mengungkapkan apa yang dikenal sebagai theologi yang theosentris, yaitu theologi yang berpusat pada Allah, yaitu iman dimulai dan didasarkan pada Allah sendiri. Theosentris berarti berpusat pada Allah, bukan pada diri. Ada dua macam agama, yaitu agama yang dari Allah dan agama yang dari manusia; demikian juga ada dua macam gereja, yaitu Gereja yang dari Allah dan gereja yang dari manusia.

Jika ada manusia yang pandai, mempunyai banyak uang, dan kemampuan manajemen mendirikan gereja, maka gereja itu menjadi gereja yang antroposentris, yaitu gereja yang berpusat pada manusia, bukan pada Allah. Gereja yang berpusat pada manusia akan selalu mengandalkan kekuatan manusia, mengandalkan orang pandai, orang kaya, atau orang-orang yang mempunyai pengaruh sosial atau politik di masyarakat. Gereja yang berpusat pada Allah adalah Gereja yang mengandalkan kuasa Allah, anugerah Allah, pimpinan Allah, dan berjalan berdasarkan gerakan Roh Kudus yang memimpin seluruh Gereja-Nya untuk memuliakan Allah, bukan diri.

Demikian juga ada dua macam theologi, yaitu theologi yang berpusat pada Allah (theologi theosentris) dan theologi yang berpusat pada manusia (theologi antroposentris). Theologi antroposentris menggunakan pendekatan psikologis untuk menjelaskan Alkitab, memakai pengalaman manusia untuk menafsirkan Alkitab, dan memakai rasio manusia untuk membuat tafsiran Alkitab. Diri manusia menjadi pusat, kemudian memperalat firman Tuhan dan memanipulasi firman Tuhan agar sesuai dengan pengalaman, rasio, dan pergumulan manusia yang salah. Theologi theosentris berdasarkan pada wahyu Tuhan, percaya penuh akan kebenaran firman Tuhan - bahwa Alkitab tidak mengandung kesalahan, dan percaya pada Allah yang memberikan Firman.

Iman Palsu

“Siapa yang percaya kepada Tuhan Yesus pasti diselamatkan.” Benarkah pernyataan ini? Pernyataan ini baru benar sebagian karena firman Tuhan mengatakan, “Barangsiapa ditarik oleh Bapa akan datang kepada Kristus.” Barulah kalimat berikutnya adalah kalimat yang di atas. Di sini kita melihat perlunya mengerti kebenaran firman Tuhan secara penuh.

Saat ini, ada begitu banyak orang yang mengajarkan iman yang berpusat pada manusia. Mereka berkata, “Asal percaya saja, nanti engkau pasti sembuh.” Banyak orang senang mendengar pengkhotbah seperti Benny Hinn, Reinhard Bonnke, dan lain-lain, yang berbicara tentang iman yang berbeda dari ajaran Alkitab. Iman yang bukan kembali kepada Allah dan kebenaran-Nya, tetapi kepada keinginan dan kepentingan manusia. Kalau saya mau berkhotbah seperti ini, tentu pendengar saya akan menjadi jauh lebih banyak, karena lebih menyenangkan bagi manusia. Akan tetapi saya harus taat kepada Allah dan Firman-Nya, karena ini bukan untuk kepentingan ataupun kenikmatan manusia. Theologi sejati adalah theologi yang theosentris bukan antroposentris. Theologi sejati menyenangkan Allah bukan manusia. Saat ini, semua yang menyenangkan Allah tetapi merugikan dan tidak menguntungkan manusia, dibuang.

Saluran Iman

Dengan jalur apakah Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus memberikan iman kepada kita?
Pertama, iman datang dari pendengaran. Ini prinsip Alkitab yang pertama. Di dalam Roma 10:17, “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” Khotbah tentang Kristus yang menyatakan kerahasiaan Kristologi adalah khotbah yang paling penting untuk menimbulkan iman. Orang yang sungguh-sungguh memberitakan Firman dengan benar, berkatnya besar sekali dari Tuhan. Tetapi orang yang terus-menerus mengkhotbahkan berkat yang besar, mungkin akan mendapat pukulan yang berat sekali dari Tuhan. Jikalau engkau memberitakan tentang Kristus dan terus memuliakan Kristus, maka tidak mungkin Roh Kudus tidak bekerja untuk mendukung engkau. Di mana ada seorang pemuda, seorang hamba Tuhan, seorang pengkhotbah, yang membicarakan Kristologi dengan sungguh-sungguh, di situ Roh Kudus mengurapi, memenuhi, mendampingi, memberi kekuatan, mengesahkan, dan mengkonfirmasikan apa yang dikhotbahkan, karena Roh dikirim untuk itu. Oleh karena itu, anak muda tidak boleh takut bersaksi tentang Kristus.
Saya menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan pada usia 17 tahun dan selalu bersaksi. Saya menggunakan sekitar 20% dari pendapatan saya untuk membeli dan membagikan traktat penginjilan, serta 40% untuk pelayanan pekerjaan Tuhan. Suatu waktu ketika menginjili di kereta api, saya takut menginjili seorang polisi yang galak sekali wajahnya. Saya takut ia marah, tetapi akhirnya saya memberanikan diri. Saya katakan, “Pak, silahkan percaya kepada Tuhan Yesus.” Sambil menerima traktat, Ia menjawab, “Oh, terima kasih.” dan tersenyum. Saya baru tahu orang galak kalau tersenyum manis juga. Itu membuat saya lebih berani membagikan traktat kepada orang lain. Saya bersyukur Tuhan terus memberkati saya hingga saat ini, semakin banyak orang yang menghadiri khotbah penginjilan yang saya kerjakan setiap tahun. Puji Tuhan! Jika engkau betul-betul mengabarkan Injil, betul-betul memberitakan Kristus, betul-betul mencintai Tuhan dan jiwa sesama, maka Tuhan akan memberkati. Orang beriman akan sungguh-sungguh meninggikan Kristus. Jika orang meninggikan diri, Tuhan tidak akan memberkati dan orang lain akan melihat bahwa motivasinya tidak beres.

Kedua, iman datang dari tuntutan doa yang sungguh-sungguh. Murid Tuhan Yesus berkata, “Tuhan, iman kami tidak cukup, tambahkanlah iman kepada kami.” Itu berarti doa yang meminta iman tidaklah salah. Banyak orang berdoa minta uang, minta kekayaan, minta kesembuhan, minta kesuksesan, tetapi jarang sekali yang berdoa meminta iman, minta mengerti kehendak Tuhan, dan minta diberi kekuatan untuk menjalankan kehendak Tuhan. Doa yang baik adalah berdoa untuk kemuliaan Tuhan, kerajaan Tuhan, kehendak Tuhan, dan kebesaran nama Tuhan. Doa untuk diri sendiri cukup satu kalimat saja yaitu, minta makanan yang secukupnya untuk hari itu. Itu saja tidak ada yang lain. Iman datang dari mana? Iman datang dari permohonan doa yang sungguh - permohonan untuk mau mengenal Allah, mau mengerti kehendak-Nya dengan benar, minta kekuatan untuk mengerjakan kehendak-Nya dengan benar, itulah permohonan yang benar. Tidaklah salah seseorang berdoa meminta iman.

Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semua yang lain akan ditambahkan kepadamu. Saya jarang berdoa untuk kesehatan saya, terus terang saya jarang berdoa untuk keamanan diri saya. Saya tidak pernah berdoa minta uang, minta kesehatan, ataupun minta keamanan, tetapi saya berdoa minta agar firman Tuhan dapat saya jelaskan dengan baik, minta agar Injil dapat dikabarkan, minta agar banyak pemuda menyerahkan diri, minta agar Tuhan memberkati orang yang memberitakan Injil dengan berani, serta minta agar Tuhan memberkati dan menolong para misionaris. Saya berdoa agar saya dapat menjalankan kehendak-Nya dan hanya kehendak-Nya sajalah yang jadi.

Ketiga, iman datang dari ujian. Mereka yang mengalami ujian iman akan menjadi lebih berharga daripada emas yang murni. Kalimat ini muncul dua kali, pertama di Perjanjian Lama yaitu, kitab Ayub: “Setelah aku diuji, aku akan menjadi seperti emas murni.” Lalu di Perjanjian Baru yaitu, surat Petrus: “Tidak tahukah kamu, imanmu setelah diuji akan lebih berharga dari emas yang murni?” Dalam dua perjanjian ini, secara konsisten dikatakan bahwa iman diperkuat bagaikan emas yang diuji, makin dibakar dan dicairkan, semakin murni.  Pada mulanya iman kita tidak murni karena banyak si “aku” dan “keuntunganku”, tetapi akhirnya iman bisa menjadi murni. Pemurnian ini hanya dapat dilakukan oleh Tuhan. Jika kita melayani bagi kepentingan diri kita sendiri, bagi kemuliaan kita, profit kita, keluarga kita, maka kita tidak bisa dipakai oleh Tuhan.

Jika kita melayani bagi kemuliaan Allah dan bagi Kristus, maka pelayanan kita akan diperkenan oleh Tuhan.
Iman datang dari ujian. Setelah diuji melalui api, maka cairan yang kotor dapat dibuang sehingga emas menjadi semakin murni. Ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego diperintahkan untuk menyembah berhala yang dibuat dari emas, mereka berada di dalam ujian. Jika mereka menolak, maka dapur api yang sedemikian panas menanti mereka. Ini adalah ujian. Akhirnya, bukan saja tidak mati, tetapi ketika mereka keluar, sama sekali tidak ada bau terbakar ataupun bekas api. Hal ini membuat saya kagum. Banyak orang saat ini masih berbau hangus ketika baru keluar dari ujian, sehingga semua orang tahu bahwa dia baru saja susah. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego berbeda, mereka tidak ada bau terbakar sama sekali. Banyak orang berpuasa tapi membuat orang lain tahu bahwa dia sedang susah dan mengharuskan orang lain ikut susah.

Sudah lelah, tidak terlihat lelah; sudah susah, tidak terlihat susah, sudah menderita tidak terlihat menderita, inilah sikap orang Kristen. Orang yang melayani Tuhan dengan beriman tidak bisa dilelehkan oleh api, karena “api” mereka lebih dari itu. Setelah melampaui ujian, aku menjadi lebih murni dari emas murni. Inilah kesaksian Alkitab.

Di sorga nanti, yang paling keras bukanlah berlian, melainkan orang Kristen yang pernah dilatih, yang pernah pikul salib, yang pernah dianiaya, yang pernah diumpat, difitnah, ditekan, maupun disalah mengerti. Ketika semua ujian sudah dilewati namun ia masih tetap berdiri tegak, maka saat itulah ia akan melebihi berhala. Berhala dibuat dari emas yang dicairkan dan akhirnya menjadi cair oleh api. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tidak bisa dicairkan oleh api, karena mereka jauh lebih keras dari api yang mau membakarnya. Jika demikian, mengapa kita mau menyembah apa yang bisa dicairkan? Maukah engkau menjadi manusia beriman? Iman yang sejati adalah iman yang lebih keras dari berlian, platinum, ruby, atau batu apapun. Iman yang sudah teruji lebih kuat, lebih tinggi, lebih bernilai, dan lebih berharga daripada emas murni. Siapakah mereka? Mereka adalah orang beriman yang sudah lewat ujian.

Maka, pertama, iman datang dari Firman; kedua, iman datang dari tuntutan doa yang sungguh-sungguh; dan ketiga, iman yang mengalahkan ujian. Kiranya kita boleh menjadi orang yang beriman. Amin.


Pdt. Dr. Stephen Tong

Senin, 20 Desember 2010

Iman dari Allah Bapa

Ketika ada pendeta berteriak: “Asal Anda beriman, Anda sembuh!” Iman seperti apa yang ia pikirkan? Ada orang belum Kristen yang berkata: “Saya percaya,” maka ia segera minta Tuhan menyembuhkan. Apakah ia akan sembuh? Apakah karena seseorang beriman, maka Tuhan berkewajiban menyembuhkan? Apa itu iman? Apakah karena seseorang mengaku beriman kepada Tuhan, maka Tuhan berhutang untuk harus menyembuhkan dia? Banyak orang Kristen berbicara tentang iman, menganggap diri sudah mengerti tentang iman, tetapi ketika ditanya secara mendalam dan teliti, mereka sulit memberikan jawaban yang akurat sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Saya berharap banyak orang Kristen yang bukan sekedar berbicara tentang iman tanpa mengerti iman itu apa dan berasal dari mana. Apakah iman berasal dari manusia, atau iman berasal dari Tuhan? Apakah asal kita yakin, iman itu muncul dengan sendirinya? Ataukah harus Allah yang mendorong dan melahirkan iman?

Sepintas kita membaca Alkitab, sepertinya dituliskan bahwa: “Karena imanmu, maka hal itu terjadi.” Apakah itu berarti iman berasal dari orang berdosa? Setelah Adam jatuh ke dalam dosa, apakah keturunannya otomatis mempunyai iman? Atau jika tidak demikian, dari mana iman itu berasal?

Orang Reformed menekankan bahwa: “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Roma 10:17). Lalu, bagaimana dengan orang yang belum pernah ke gereja, orang bukan Kristen, orang yang sama sekali belum pernah mendengarkan firman Tuhan? Apakah mereka bisa memiliki iman? Apabila kita sembarangan menjawab, kita sangat mungkin akan terjebak oleh pikiran kita sendiri dan tidak kembali kepada firman Tuhan. Ada orang yang mengatakan bahwa theologi Reformed itu sesat, karena berpikir menurut pikiran mereka sendiri yang mereka anggap benar, sehingga yang berbeda dari mereka pasti salah. Orang mengatakan: “Stephen Tong sesat!” atau mengatakan: “Stephen Tong tidak mempunyai Roh Kudus.” Tetapi mereka juga bingung, mengapa orang yang sesat dan tidak ada Roh Kudus bisa mempertobatkan begitu banyak orang kaya, orang pandai, bahkan orang yang begitu kompleks pemikirannya, menjadi orang yang setia kepada firman Tuhan dan mau belajar firman Tuhan dengan baik. Mereka menjadi goncang dan takut sekali jika berhadapan atau berdiskusi tentang kebenaran Firman. Kalau seseorang menganggap diri benar, padahal ia tidak benar, lalu bisa digoncangkan oleh orang yang dianggap tidak benar olehnya, itu berarti ada harapan untuk dia bisa kembali. Tetapi kalau dia sudah tidak goncang dan membiarkan itu semua, maka ia tidak mungkin untuk bisa kembali.

Ada sekelompok orang yang ketika mendengar berita dari theologi Reformed, ia mulai merasakan perbedaannya. Dan hal itu mendorong mereka untuk mulai mempelajari firman Tuhan dengan serius dan intensif sekali. Akhirnya mereka mulai menyadari kebenaran firman Tuhan yang begitu indah. Ketika seseorang mau taat pada Firman, mau belajar dan rendah hati mengikuti kebenaran Firman, maka ia akan diubahkan. Orang-orang di Berea menjadi lebih pandai dari jemaat lainnya karena mereka bertekun menyelidiki firman Tuhan. Orang-orang mulai menyadari bahwa selama ini mereka hanya dipengaruhi oleh pendeta mereka, tanpa mereka sendiri secara serius belajar firman Tuhan. Akhirnya, dangkalnya dan sedikitnya mereka belajar firman Tuhan, menyebabkan mereka tidak mempunyai cukup waktu dan modal untuk secara serius menyelidiki firman Tuhan. Dan yang menyedihkan, banyak pendeta yang sendirinya juga sangat dangkal dan tidak cukup studi untuk bisa mempelajari firman Tuhan secara serius dan mendalam, sehingga tidak mampu memberikan interpretasi firman Tuhan yang akurat dan mendalam kepada jemaatnya. Saya rindu ada orang-orang Kristen yang mau setia belajar firman Tuhan, yang membaca secara teratur dari Kejadian hingga Wahyu beberapa kali di dalam hidupnya. Saya percaya ada orang-orang yang mau setia kepada Firman dan mau sungguh-sungguh taat pada Tuhan. Banyak pendeta yang banyak berbicara tentang Roh Kudus yang dia sendiri justru paling tidak mengerti tentang Roh Kudus. Banyak orang suka pemberitaan firman Tuhan disesuaikan dengan keinginannya. Kalau berita firman Tuhan begitu keras dan berlawanan dengan keinginan dan pikirannya, maka ia marah dan ia meninggalkan gereja itu. Ia mencari gereja lain, bukan karena kebenaran, tetapi karena cocok dengan dirinya. Inikah iman Kristen? Inikah yang disebut sebagai kepercayaan atau beriman kepada Kristus?

Iman sepertinya adalah satu hal yang sederhana, tetapi sebenarnya tidaklah demikian. Iman itu mengalahkan dunia. Iman itu mengakibatkan setan gemetar. Iman itu menjadikan semua yang terbatas harus tunduk pada yang tak terbatas, sehingga yang terbatas itu menjadi hina, kecil, remeh, dan terlihat kekurangannya. Ini bukan hal yang menyenangkan bagi manusia berdosa. Iman adalah suatu penerobosan.

Ada dua ekor ayam yang masih di dalam cangkangnya dan hampir menetas. Anak ayam yang pertama berkata pada yang kedua, bahwa dunia ini begitu sempit, gelap, dan pengap. Dan ayam kedua menyetujui pernyataan itu. Namun, kemudian tiba waktu ayam pertama menetas, maka ia secara naluri mencucukkan paruhnya ke cangkangnya, dan pecahlah cangkangnya. Maka kini ia melihat dunia yang begitu luas, yang terang, dan penuh warna-warni, segar luar biasa. Ia mengatakan itu kepada ayam kedua, dan kini ayam kedua tidak bisa menerima pernyataan ayam pertama. Ia beranggapan bahwa ayam pertama sudah menjadi gila, karena tidak tahan di dalam kondisi yang begitu sulit. Menerobos kulit itulah suatu penerobosan. Itulah iman.

Iman adalah penerobosan akan semua keterbatasan kita. Keterbatasan keluarga, keterbatasan orang tua, keterbatasan kemampuan kita, keterbatasan pengetahuan, keterbatasan pendidikan, keterbatasan suku, budaya, dan berbagai hal lain yang membuat kita tidak bisa menaati dan mengerjakan rencana Allah yang besar di dalam dan melalui diri kita. Ketika kita bisa menerobos keluar, melewati yang terbatas, dan masuk ke dalam kekekalan, kita baru bisa melihat sesuatu yang melampaui dunia terbatas ini.

Iman dari Allah

Lalu iman itu berasal dari mana? Apakah dari dalam diri manusia berdosa itu sendiri? Atau apakah iman itu tumbuh di dalam diri kita? Jika tumbuh, seharusnya ada bibit yang ditanam, yang menjadikan iman itu bisa bertumbuh. Dari mana bibit iman itu? Dalam hal ini, theologi Reformed berbeda total dari pandangan theologi yang lain. Theologi Reformed ingin kita betul-betul masuk dan mengerti kebenaran firman Tuhan. Jika orang mengatakan bahwa iman berasal dari tekad manusia itu sendiri, berarti manusia berdosa tidak membutuhkan pertolongan dari luar. Ini bukan ajaran Alkitab.

Tuhan Yesus berkata kepada perempuan itu, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel” (Matius 8:10). Sepintas sepertinya iman itu berasal dari manusia itu sendiri. Dan sepertinya, pujian Tuhan Yesus menunjuk kepada kekuatan dan kemampuan manusia itu. Sebenarnya tidak demikian. Orang ini telah berkali-kali mendengarkan berita Firman dari Tuhan Yesus sendiri. Sangat mungkin ia bukan baru hari itu mengenal Yesus. Maka konsisten dengan apa yang dinyatakan oleh Alkitab, sebenarnya imannya datang dari pendengaran akan Firman. Ia telah mendengar Firman, dan kini iman itu telah bertumbuh dan mulai nyata keluar. Dari hal ini, kita bisa mempelajari hal utama:
Iman berasal dari Tuhan Allah. Di dalam surat Efesus 2:8, dikatakan: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.” Secara lebih jelas dapat dikatakan, bahwa kita diselamatkan karena anugerah dan melalui iman. Tuhan Allah menurunkan anugerah-Nya kepada kita, dan manusia yang menerima anugerah itu menyatakan iman. Dan iman ini adalah pekerjaan Tuhan Allah juga. Iman itulah yang kemudian menyelamatkan kita.

Iman Natural dan Iman Keselamatan 

Lalu, apakah itu berarti terjadi kerjasama antara Allah dan manusia dalam hal keselamatan? Allah memberikan anugerah, dan manusia memberikan iman, barulah ada keselamatan. Konsep ini tidak benar, karena iman itu pun juga berasal dari Allah. Dan jika iman itu berasal dari Allah, apakah itu berarti saya boleh tidak beriman? Karena toh iman itu juga dari Allah, sehingga saya boleh merasa bahwa saya tidak diberi iman. Jadi, saya juga bisa merasa saya tidak mendapat anugerah dan tidak mendapat iman, sehingga saya boleh saja tidak beriman. Alkitab mengatakan tidak demikian. Tuhan sudah memberikan “bibit iman” di dalam setiap pribadi manusia. Ini yang disebut sebagai iman natural (natural faith), yang dibedakan dari iman yang menyelamatkan (saving faith). Ketika seseorang dicipta, di dalam dirinya ditanam benih iman. Sehingga di titik awal, manusia itu sudah mengetahui secara samar bahwa Allah itu ada. Dan di dalam dirinya juga telah diberikan anugerah secara umum, yang dikenal sebagai “anugerah umum” (common grace). Anugerah umum ini telah diberikan kepada manusia secara keseluruhan, tidak peduli Kristen atau tidak Kristen. Maka anugerah dan iman keduanya berasal dari Allah, itu semua adalah pemberian Allah.

Tetapi kini kita melihat satu langkah lebih lanjut. Ketika kita diselamatkan, Tuhan memberikan kepada kita anugerah yang khusus (special grace). Anugerah ini memberikan iman yang bukan merupakan jasa manusia. Bukan suatu kapasitas atau kemampuan manusia yang membuat manusia bisa diselamatkan. Itu semuanya hanya mungkin dilakukan melalui pemberian Tuhan Allah. Iman ini adalah iman keselamatan (saving faith).

Pemberian dan Penindasan Iman

Apakah karena manusia memiliki kualifikasi atau keistimewaan tertentu, sehingga Allah memberikan iman itu kepadanya, dan tidak memberikan kepada yang lain? Tidak. Tidak ada kualifikasi apapun pada manusia yang membuat Allah berhutang untuk harus memberikan anugerah dan iman. Semua itu semata karena kedaulatan dan belas kasih-Nya. Lalu, mengapa Tuhan menggunakan kedaulatan-Nya sehingga ada orang yang bisa menerima anugerah dan iman, sementara ada orang lain yang tidak? Orang yang tidak menerima anugerah harus menanggung hukuman karena telah menindas anugerah dan kebenaran natural yang telah diberikan kepadanya. Ini konsep penting di dalam theologi Reformed yang membutuhkan pemikiran dan ketekunan untuk bisa mengertinya. Dia tidak beriman bukan karena tidak diberi iman, karena iman itu sudah diberikan secara umum kepadanya, tetapi ia telah menindasnya. Murka Allah justru turun ke atas orang-orang yang tidak beribadah dan telah menindas kebenaran ini (Roma 1:18-19). Inilah kefasikan dan kelaliman manusia. Apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak daripada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak kepada pikiran melalui karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. Allah adalah pencipta. Ia mencipta dunia ini dengan hikmat dan kebenaran-Nya. Ketika kita manusia menindas hal ini dalam diri kita, kita mulai melawan iman, melawan kebenaran, melawan suara Allah yang berfirman kepada kita. Akibatnya kita akan berhadapan dengan penghakiman-Nya. Maka kita harus menyadari bahwa iman itu berasal dari Allah. Anugerah dan iman yang dari Allah (Bapa) boleh membawa kita kepada keselamatan. Inilah konsep asal usul iman yang pertama. Nanti kita akan melihat juga bahwa iman berasal dari Yesus Kristus dan Roh Kudus. Amin.

Pdt. Dr. Stephen Tong

Minggu, 19 Desember 2010

What is a Revival ?

Kebaktian Kebangunan Rohani dan kebangunan rohani adalah dua hal yang berbeda. Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) adalah kebaktian yang ditujukan dengan satu tujuan dan harapan terjadinya kebangunan rohani. Tetapi banyak sekali Kebaktian Kebangunan Rohani yang terjadi begitu heboh, begitu spektakuler, namun setelah selesai, tidak terjadi kebangunan rohani yang memadai, bahkan tidak terjadi kebangunan rohani sama sekali pada diri orang-orang yang hadir dan sekelilingnya. Sebaliknya, terkadang kebangunan rohani itu tiba pada satu gereja, satu kelompok orang, satu bangsa tanpa diminta, tanpa diharapkan, dan tanpa direncanakan. Maka kita bertanya satu pertanyaan, “Apakah kebangunan rohani merupakan rencana dan keinginan manusia, atau merupakan karunia dan persiapan dari Tuhan Allah sendiri?” Kalau merupakan rencana manusia, kita tentu boleh merumuskan cara mengorganisir, mempersiapkan, membuat suatu rumusan untuk terjadi kebangunan rohani yang dimimpikan manusia. Jika jawabannya adalah “mungkin”, maka kita boleh mendirikan sebuah seminari yang disebut sebagai seminari kebangunan rohani untuk melatih, merencanakan, mendidik, mengorganisir KKR-KKR dengan menggunakan prinsip-prinsip dan rumusan yang telah ditetapkan. Akhirnya KKR itu pasti sukses mencapai kebangunan rohani dalam diri orang-orang yang hadir. Jika kebangunan rohani tidak mungkin diupayakan manusia, maka pertanyaan lainnya adalah, “Buat apa merencanakan KKR kalau itu bukan sesuatu yang mungkin direncanakan oleh manusia?”

Rencana Siapa?

Bisakah atau haruskah kebangunan rohani direncanakan? Ataukah kebangunan rohani itu suatu kiriman berkat yang mendadak atau di luar dugaan manusia dan diberikan oleh Tuhan? Kedua hal ini memang saling bertentangan, sehingga kalau secara ekstrim kita menerima yang satu, kita akan melalaikan tugas yang lain. Misalnya kita percaya kebangunan rohani datang mendadak dari Tuhan, lalu kita sama sekali tidak siap. Ini tidak bisa. Tetapi kalau kita siap tetapi tidak bersandar pada Tuhan, menganggap diri hebat, maka Tuhan akan membiarkan kita. Akhirnya semua menjadi kosong, supaya membuktikan bahwa yang kita kerjakan tidak berfungsi apa-apa.

Saya menunjukkan satu prinsip Alkitab yang tidak disadari banyak gereja karena gereja jatuh ke dalam cara manajemen dan administrasi yang diturunkan oleh gereja Barat. Segala sesuatu direncanakan dengan rapi dan dikerjakan dengan baik, lalu sesudah itu mulai sombong dengan melihat semua sebagai kesuksesan dan kehebatan manusia.

Ada dua ayat Alkitab yang saling bersahutan dari dua pasal berbeda. Yang pertama mengatakan, “Engkau melakukan banyak rencana hingga lelah” (Yesaya 47:13)1. Dan ayat kedua mengatakan, “Tuhan berkata, ‘Aku mengerjakan mendadak dan terjadilah’” (Yesaya 48:3b)2. Kedua ayat ini sebenarnya harus dilihat secara organis dan integratif. Dari dua ayat ini kita melihat kedaulatan Allah. Kita melihat bagaimana Allah mengerjakan sesuatu dengan bijaksana-Nya, sementara kita mengerjakan sesuatu dengan susah payah. Betapa manusia sangat terbatas, sehingga kita harus selalu bersandar pada  Allah. Tuhan adalah penguasa sejarah. Pada saatsaat tertentu Tuhan mengirimkan kebangunan bagi manusia. Pada waktu kebangunan dikirimkan, jangan kita menganggapnya sebagai jasa atau rencana manusia, melainkan semata-mata merupakan anugerah Tuhan yang Tuhan turunkan atas kehendak-Nya sendiri. Saya mengharapkan Gerakan Reformed Injili merupakan satu persiapan datangnya kebangunan sejati yang akan datang. Jika memang demikian, marilah kita bersatu, bersehati, untuk tidak melihat ke belakang, tidak menoleh ke kanan atau ke kiri, mari kita tidak menghiraukan untung rugi diri sendiri, tetapi dengan sehati berkata kepada Tuhan, “Tuhan Allah, aku mau bergabung, aku mau berbagian di dalamnya, dan aku mau menaati setiap langkah yang Engkau pimpin.”

Kebenaran Kebangunan Rohani

Dari komitmen itu, barulah kita mau mengetahui kebenaran kebangunan rohani itu meliputi apa. Saya melihat hal ini melalui salah satu sifat Tuhan, satu pekerjaan Tuhan yang hampir tidak disinggung banyak orang. Pendekatan ini saya sebut sebagai Organic Theology. Banyak orang Kristen yang sudah mengetahui Mazmur 23, bahkan banyak yang sudah menghafalkannya. Kita seringkali membaca ayat ini berulang-ulang. “Allah menyegarkan jiwa saya, Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.”3 Dia membangunkan aku dari tidur lalu membimbing aku kembali ke jalan yang benar. Inilah semangat Gerakan Reformed. Gerakan Reformed berarti kembali kepada yang benar. Gerakan Reformed berarti berhenti sesat, berhenti salah, berhenti menyeleweng, berhenti menyimpang, dan mau kembali kepada yang benar, kembali kepada jalur yang arahnya ditetapkan oleh Tuhan. Gerakan Reformed mau kembali, pertama, demi nama Tuhan yang Kudus. Bukan karena jasa kita, bukan kehebatan kita, bukan kelayakan kita, tetapi karena nama Tuhan. Tuhan begitu menghargai nama-Nya sendiri, Tuhan begitu mengasihi nama-Nya sendiri, Tuhan tidak mau nama-Nya dicemarkan di hadapan orang kafir, maka Dia mengerjakan kebangunan di dalam diri kita. Kalau gereja sudah menyeleweng, kalau orang Kristen sudah rusak, maka yang rusak bukan hanya Saudara atau gereja, tetapi yang dirusak adalah nama Tuhan. Berapa banyak gereja sudah mempermalukan nama Tuhan? Berapa banyak pendeta mempermalukan nama Tuhan? Berapa banyak orang Kristen menghancurkan hati Tuhan? Berapa banyak orang Kristen lama yang membiarkan orang kafir menghujat Tuhan, karena mereka melihat kehidupan kita yang tidak beres? Bangun! Kita semua harus dibangun! Maukah Saudara dibangun? Bagaimana kita bisa dibangun? Mengapa kita harus dibangunkan? Di sini kita melihat relasi antara “dibangunkan, sehingga kita mengerti dan kembali ke jalan yang benar,” dengan kehidupan kita dan kaitannya dengan nama Tuhan yang begitu mulia.

What is a Revival ? (Bagian 1)

Anda dan saya hanyalah orang yang bias mati, tetapi nama Allah yang abadi tidak boleh dipermalukan! Kita seringkali tidak menghiraukan masalah ini. Kita telah berulang kali mempermalukan nama Tuhan dan tidak mau bertobat! Tuhan berkata, “Demi nama-Ku, Aku membangunkan engkau!” Berkali-kali Alkitab berkata, “Hai engkau yang tertidur, bangunlah!” Saudara harus dibangunkan. Jikalau Saudara tidak bangun, maka semua yang Saudara impikan akan dianggap sebagai fakta, dan mimpi akan dianggap sebagai realita. Orang yang tidak bangun, hidupnya berada di dalam mimpi, bukan realita sesungguhnya. Ada dua macam gereja. Satu macam gereja melihat jelas apa yang Tuhan mau. Pada saat gereja seperti ini bekerja, ia akan dilawan oleh orang-orang yang tidak melihat apa yang Tuhan mau. Yang kedua adalah gereja yang hanya melihat apa yang dunia perlu. Inilah konflik di antara kedua jenis gereja. Dan jika kita menyadari, semua konflik yang terjadi di dalam gereja adalah konflik antara dua arahini. Sebagian orang Kristen melihat dan menyadari apa yang menjadi rencana Tuhan dalam kedaulatan-Nya yang mutlak; lalu mereka mendedikasikan diri, menyerahkan diri untuk taat melakukan dan menggenapkan apa yang Tuhan inginkan. Sebagian orang Kristen lainnya sibuk mau menyelesaikan kesulitan dan problema hidupnya dengan cara mereka sendiri. Mereka hidup di dalam mimpi mereka dan membicarakan dengan semangat mimpi-mimpi itu. Orang-orang ini akan menuduh orang-orang yang menjalankan kehendak Tuhan sebagai orang yang bermimpi. Ketika Tuhan membangunkan umat-Nya, demi nama-Nya, itulah yang kita kenal sebagai kebangunan rohani. Kebangunan rohani sejati berarti Tuhan membangunkan umat-Nya lalu membawa kita semua kembali ke jalan-Nya yang benar, demi nama-Nya. Dengan demikian, kebangunan harus berasal dari Tuhan sendiri, kebangunan adalah demi memuliakan nama Tuhan sendiri. Kebangunan membawa kita kepada kebenaran sejati dan kebangunan akan dipimpin oleh Tuhan sendiri. Amin.

Endnotes

1 Kutipan merupakan terjemahan langsung dari Alkitab bahasa Mandarin
2 Kutipan merupakan terjemahan langsung dari Alkitab bahasa Mandarin
3 Dalam terjemahan lain disebut “di dalam nama-Nya sendiri,” sebagai suatu gambaran bahwa semua itu dikaitkan dengan kredibilitas dan akuntabilitas Allah sendiri sebagai Allah yang layak disandari.

What is a Revival ? (Bagian 2)

Kita telah membicarakan mengenai kebangunan rohani. Tuhan adalah Tuhan yang membangun manusia. Tuhan adalah Tuhan yang menyegarkan jiwa manusia yang ditebus dan yang dipilih oleh Dia. Gereja tanpa penyegaran dari Tuhan tidak mungkin hidup secara normal. Orang Kristen tanpa penyegaran yang terus-menerus dari Tuhan tidak mungkin hidup dalam jalan yang benar. Mengapa di Indonesia kita tidak melihat kebangunan besar terjadi? Kita perlu berdoa dan berjuang agar boleh terjadi kebangunan sejati. Jika kebangunan itu terjadi, apakah hal-hal yang akan menandai atau terlihat?

Bagaimana Kita Mengetahui Suatu Kebangunan Rohani Sejati?

Kebangunan rohani selalu dimulai dari beberapa orang yang menerima kebangunan pertama. Elia pertama-tama melihat kuasa Allah, lalu ia berani berkata kepada Ahab bahwa jika ia tidak berdoa, maka hujan tidak akan turun selama tiga setengah tahun. Ahab merasa memiliki kuasa politik besar, sehingga ia merasa lebih kuat, tetapi akhirnya ia harus mengakui bahwa ia tidak bisa berkutik di hadapan kuasa Allah. Akhirnya 400 orang nabi Baal dibinasakan oleh Elia. Elia telah mendatangkan kebangunan besar di gunung, di mana mereka berdoa mendatangkan api dari langit. Elia berdoa dan api Allah menyambar korban yang dipersembahkan. Maka kebangunan terjadi saat itu. Orang Israel diajak menerima tantangan Elia yang berkata, “Jikalau Yehova adalah Allah, mengabdilah kepada Yehova; jikalau Baal adalah Allah, mengabdilah kepada Baal. Sampai kapan hatimu bercabang?” Seluruh kebangunan terjadi pada hari itu, setelah air yang lebih mahal dari emas dibuang habis oleh Elia. Elia bertindak seperti orang gila; dia bertindak melawan logika; tindakannya tidak dimengerti oleh manusia.

Karena tiga setengah tahun tanpa hujan, maka air yang tersisa menjadi lebih mahal dari berlian. Air itu kini ditumpahkan semua oleh Elia di mezbah untuk membuktikan bagaimana pun basahnya, api akan tetap menghanguskan korban yang dipersembahkan. Tuhan ingin kita menyerahkan semua yang tersisa dengan sungguh-sungguh untuk menjadi korban demi kehendak Tuhan. Apakah air itu habis? Tidak. Tuhan akan menurunkan air berjuta-juta kali lebih banyak dari apa yang dituang.

Kebangunan dan Pengorbanan

Kita menginginkan kebangunan; kita menunggu kebangunan; kita berdoa minta kebangunan. Tetapi satu hal kita tidak mau lakukan—berkorban. Sama seperti orang Israel berkata, “Mesias datanglah....” Tetapi setelah Mesias itu datang, mereka mempertanyakan, mereka menyangkal dan bahkan mereka menyalibkan Dia. Demikian juga gereja yang meminta kebangunan gereja. Banyak doa memohon kebangunan gereja adalah doa yang munafik, karena yang meminta kebangunan tidak mau membuang air yang terakhir, tidak mau berkorban. Orang yang berdoa meminta kebangunan adalah orang yang terus mempertahankan kehendak dan kepentingan diri, dan tidak menyerahkan diri. Kita ikut retreat, ikut kebaktian, kita mendengar khotbah, mendengar kesaksian, tetapi siapa yang berkata, “Saya mau pergi mengabarkan Injil?”

Kita menginginkan kebangunan, tetapi kita tidak mau berkorban. Itu omong kosong! Itu pura pura, egois, dan hanya berpusat pada diri sendiri. Kita hidup menipu Tuhan. Jika saya masih memiliki banyak air mata, saya akan terus berlinang-linang menangisi zaman ini, menangisi hidup kita, menangisi keegoisan kita. Setiap kali saya mendengarkan orang berkorban, mendengar orang mengabarkan Injil, mendengar orang yang meninggalkan keluarga, rumah, negara, dari jauh melintasi gunung, laut, hutan pergi ke tempat di mana dia harus belajar bahasa yang baru, masuk dalam tempat yang berbahaya, saya ingin menangis. Sudah ada dua misionaris yang berkata kepada saya sebelum mereka naik pesawat terbang, “Saya kecewa di Indonesia, karena setelah studi di dua sekolah khusus untuk pengertian Islamologi, mendapatkan gelar Master, mempelajari penginjilan lintas budaya, lalu waktu masuk ke dalam pelayanan misi, ternyata saya dilarang memberitakan Injil kepada orang Islam oleh badan misi di mana saya bergabung.” Bukankah misi datang untuk mengabarkan Injil? Tetapi justru misi itu ketakutan pemerintah menutup kantor mereka, maka mereka hanya diminta ke dalam gereja yang ada dan menjadi pendeta di situ. Mereka tidak diperkenankan menyentuh atau menginjili orang Islam yang belum mendengar Yesus Kristus.

What is a Revival ? (Bagian 2)

Orang yang mengabarkan Injil adalah orang yang membayar harga. Mereka menanti dan melihat kebangunan itu sungguh-sungguh terjadi. Ketika air yang lebih berharga daripada emas dibuang habis barulah air hujan turun untuk memberikan air yang berlimpah kepada kita. Ketika Elia tidak takut dibunuh, barulah dia mempunyai kekuatan untuk membunuh 400 orang nabi palsu. Jikalau dia sendiri tidak berkorban, tidak mungkin dia melihat Tuhan mengaruniakan satu lembar baru untuk kerajaan dan untuk umat-Nya. Apa yang digerakkan dan apa yang dikerjakan adalah kita mau melihat adanya lembaran baru di dalam sejarah Indonesia.

Apa yang Terlihat Ketika Kebangunan Itu Hadir?

1. Ada visi sejati. Kebangunan sejati datang dari visi yang benar dari Tuhan. Visi adalah suatu sharing Tuhan Allah untuk membukakan rahasia rencana kekal-Nya dan apa yang Ia mau kerjakan di bumi bagi umat-Nya. Visi berarti kita melihat rencana kekal Allah yang sejati. Kebangunan rohani harus dimulai dari visi ini. Tanpa visi, rakyat akan binasa; tanpa visi, rakyat menjadi buta; tanpa visi, manusia hidup secara rutin dan tidak mempunyai arah. Karena itu, visi menghidupkan anak-anak Allah, visi mengarahkan hidup anak-anak Allah, dan visi memberikan kekuatan di dalam pelayanan anak-anak Allah.

2. Ada Firman sejati.

Kebangunan sejati terjadi ketika kita kembali mendengar suara dari Firman Tuhan untuk mengarahkan apa yang dilihat. Apa beda budaya Yunani atauHelenistik dengan budaya Ibrani? Budaya Helenistik adalah budaya penelitian untuk melihat alam, sedangkan budaya Ibrani adalah budaya mendengarkan interpretasi wahyu Allah atas dunia ciptaan. Tuhan minta orang-orang di dunia melihat apa yang dicipta, tetapi Tuhan berbicara kepada orang-orang pilihan-Nya. Bahagia paling besar di dunia adalah boleh mendengar Firman Tuhan yang keluar dari mulut Tuhan Allah sendiri. Untuk mengerti dan mengintepretasi segala sesuatu yang dicipta dalam alam hanya mungkin ketika supra alam memberikan kepada kita bijaksana untuk mengertinya. Itulah sebabnya, hal kedua, kebangunan terjadi karena mendengarkan Firman yang mengandung makna untuk mengerti isi hati Tuhan dan untuk memberikan kunci interpretasi mengerti segala yang diciptakan. Jikalau tidak mendengar dulu Firman Tuhan yang benar tidak mungkin ada kebangunan rohani yang sejati.

3. Ada iman sejati.

Kebangunan membentuk iman kepercayaan yang sejati. Di mana ada kebangunan sejati, di situ terjadi pengajaran doktrin yang benar. Kalau tidak kembali kepada doktrin yang benar tidak akan terjadi kebangunan yang sejati. Doktrin atau pengajaran iman yang benar akan membentuk iman kepercayaan yang sejati. Inilah ciri ketiga dari kebangunan: iman kepercayaan.

4. Ada pemikiran sejati.

Kepercayaan sejati akan disusul dengan pemikiran-pemikiran yang benar. Secara metodologi studi, definisi saya mengenai iman adalah kembalinya rasio untuk setia kepada kebenaran. Rasio yang suka memberontak harus kembali dan tunduk di bawah kebenaran, itulah iman. Kesetiaan kekuatan pikiran kembali kepada kebenaran, disebut sebagai iman. Di mana kebangunan rohani terjadi, di situ orang berhenti berbuat dosa; di mana kebangunan rohani terjadi, di situ dosa dibasmikan. Manusia mulai belajar saling mengasihi, belajar hidup suci, belajar membantu orang lain, belajar jujur, berhenti korupsi, belajar untuk berhenti dari segala dosa dan perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Di mana kebangunan rohani terjadi, kelakuan etika masyarakat dan moral rakyat meningkat. Jika kebangunan terjadi maka hal-hal tersebut akan terjadi dimana-mana. Di mana ada kebangunan rohani sejati, di sana ada perubahan moral menuju kesucian, keadilan, dan kebajikan.

Kiranya tanda-tanda kebangunan rohani yang sejati ini boleh terlihat di dalam dunia kita sekarang ini, karena Allah telah memberikan kebangunan kepada kita. Amin.

What is a Revival ? (Bagian 3)

Tuhan sendiri telah mengatakan bahwa jika kita mau merendahkan diri dan mau mengakui dosa-dosa kita, maka Tuhan akan memulihkan kita. Itulah kebangunan yang sejati. Kebangunan sejati dimulai dari janji Tuhan sendiri dan merupakan berkat bagi umat-Nya. Gereja membutuhkan kebangunan sejati. Ketika kebangunan itu tiba, umat Allah akan melihat visi yang jelas. Gerakan Reformed Injili tidak melihat visi sebagai penglihatan fisik, tetapi pengertian di dalam roh kita, melihat bagaimana Allah membagikan rencana kekal-Nya di zaman di mana kita berada. Dengan demikian kita bisa mengerjakan rencana yang Tuhan telah pampangkan kepada kita dan menggenapkan rencana-Nya tersebut.

Kedua, kebangunan sejati ditandai dengan adanya pemberitaan dan pendengaran akan Firman Tuhan yang sejati. Firman berkuasa di tengah umat. Tuhan ingin kita menjadi pendengar Firman yang baik, dan melalui mendengar Firman iman kita diperkuat. Iman yang sejati datang dari pendengaran, dan itu membangkitkan pengertian, memiliki doktrin (ajaran) dan pengakuan yang menyatakan arah kita kepada Tuhan. Gerakan dengan pemberitaan yang sejati harus disertai dengan penafsiran Firman yang sejati dan adanya pengkhotbah yang sejati. Pelayanan seperti ini dilandasi perasaan yang takut akan Tuhan, kesungguhan mempelajari Firman dan merangsang pikiran orang untuk kembali kepada rencana Allah. Dengan itu, kebangunan akan menyatakan kehadiran pemerintahan dan takhta Allah di tengah-tengah jemaat-Nya.

Kebaktian yang sukses bukan dilihat dari banyaknya hadirin, tetapi Tuhan hadir atau tidak. Di situ kita merasakan takhta Allah yang berkuasa, otoritas Allah nyata dalam pemberitaan, dan adanya urapan pada hamba-Nya. Dalam buku ‘The Preaching and the Preacher’, Dr. Martyn-Lloyd Jones mengatakan bahwa kebangunan harus dimulai dari mimbar. Itu sebab awal dari Gerakan Reformed Injili memakai nama Mimbar Reformed Injili. Dengan itu kita mau agar mimbar betul-betul menjadi mimbar, di mana Firman diberitakan, tempat Reformed theology dinyatakan dan merangsang orang memberitakan Injil. Kelengkapan ini baru menyatakan Gerakan Reformed Injili.

Di mana terjadi kebangunan rohani sejati, di situ inspirasi pikiran manusia dirangsang untuk mulai mengarah kepada kebenaran Firman. Khotbah yang baik, mimbar yang sukses, akan merangsang dan menginspirasikan pikiran manusia kembali kepada kebenaran. Inilah pistos (iman) yang juga berarti kesetiaan (fidelity). Fide berarti iman kepercayaan. Ketika Roh Kudus bekerja, orang ingin diubah oleh kebenaran dan mereka berkonsentrasi pada apa yang Tuhan kehendaki. Maka terjadi perubahan pola pikir (mindset), perubahan konsep, perubahan fokus pemikiran, sehingga membentuk paradigma baru hidup di dalam Kristus.
Konsep kebangunan sejati yang dinyatakan di dalam Alkitab sangat berbeda dengan gejala-gejala yang sekarang kita lihat di dalam gereja. Orang menyangka kebangunan adalah berguling-guling di lantai, berteriak, tertawa-tawa, menangis, atau bergemetaran berdoa dan bersuara keras. Itu bukan kebangunan yang Alkitabiah. Gejala sedemikian tidak sesuai dengan Alkitab, tidak ada dukungan sejarah dan bersifat tidak Kristen sama sekali. Mari kita peka dan mengerti pimpinan Roh Kudus atau roh yang lain.

Ketiga, kebangunan terjadi ditandai dengan emosi yang mulai diarahkan untuk mencintai hal-hal yang dicintai Tuhan, dan membenci hal-hal yang dibenci oleh Tuhan. Sebelum kita bertobat, kita tidak sinkron dengan emosi Tuhan. Kita menjadi musuh Tuhan dengan mencintai yang dibenci Tuhan dan membenci yang dicintai Tuhan. Ketika kebangunan tiba, kita akan berbalik. Kita mulai tidak senang dengan hal-hal yang najis. Kita mulai membenci dosa. Kita mulai mengadopsi emosi Tuhan. Kita mulai mencintai jiwa-jiwa yang tersesat. Kita melihat pada waktu Roh Tuhan bekerja, kebangunan terjadi, maka manusia mempunyai suatu perubahan emosi. Mereka suka berdoa, mereka suka firman Tuhan, mereka suka bersekutu, mereka suka kesucian dan keadilan.

What is a Revival ? (Bagian 3)

Keempat, kebangunan rohani sejati melepaskan kita dari ikatan geografis dan kondisi tertentu. Tuhan Yesus berkata, “Kamu berdoa di gunung ini atau di Yerusalem, tetapi Aku berkata bahwa hendaklah kamu menyembah Allah di dalam roh dan kebenaran” (Yoh.4:24). Tuhan sudah melepaskan kita dari ikatan geografis, tetapi kini muncul gerakangerakan yang kembali membawa kita terikat pada kota, gunung, lokasi tertentu, seolah hanya di situlah Tuhan bisa mendengar doa. Hal ini melawan konsep dan pengajaran Tuhan Yesus. Semua ini adalah tanda bahwa kebangunan itu sudah tiba kepada kita. Selain daripada hal ini tanda selanjutnya adalah pengarahan semua kehendak pribadi disinkronkan dengan kehendak Tuhan.

Kelima, kebangunan terjadi berarti kehendak Allah mengambil alih kehendak manusia. Kita akan berjalan sejalan dengan Allah. Kita tidak lagi membantah atau melawan. Kita tidak lagi mempertahankan rencana dan kehendak kita melawan rencana dan kehendak Tuhan. Di mana ada kebangunan rohani di situ manusia berkata, “Saya melakukan apa yang Engkau ingin aku lakukan. Aku akan menyelaraskan hidupku di bawah kehendak-Mu.” Pikiran kembali kepada Firman, emosi sinkron dengan emosi Tuhan, kehendak sejalan dengan kemauan Tuhan. Inilah kebangunan sejati. Kadang-kadang saya sangat meragukan seorang bergelar pendeta seumur hidup tidak pernah membawa satu jiwa pun kembali kepada Yesus Kristus. Apakah dia pendeta sejati? Mengapa dia menjadi hamba Tuhan? Kalo tidak pernah cinta jiwa yang lain, tidak pernah mengabarkan Injil, apa haknya dia berani menyebut diri pendeta? Saya takut orang yang masuk sekolah teologia akhirnya tidak diperkenan oleh Tuhan. Orang yang paling kasihan adalah orang yang sudah membuang semua lalu berkata, “Tuhan aku milik-Mu.” kemudian Tuhan mengatakan, “Aku membuang kamu! Sebab itu adalah kemauanmu dan bukan kemauan-Ku.” Orang yang sudah membuang semua lalu dibuang oleh Tuhan, mau ke mana?

Keenam, kebangunan rohani sejati ditandai dengan gereja mulai bergerak mengabarkan Injil. Gereja mulai peduli kepada orang-orang yang tersesat, yang terhilang di dalam dosa. Dengan cinta kasih yang murni dan ajakan dari surga mereka diajak kembali kepada Tuhan. Gereja harus memberitakan Injil, hamba Tuhan yang sejati harus mengabarkan Injil! Di zaman seperti sekarang ini, sangat sedikit orang Kristen dan hamba Tuhan yang berteriak keras dan menuntut setiap orang percaya untuk mengabarkan Injil seperti yang Alkitab tuntut. Sebagai pendiri Gerakan Reformed Injili saya berkata, “Jika Engkau tetap dingin dan tidak memiliki hati yang mengabarkan Injil, Engkau belum mengerti kebangunan yang sejati, Engkau belum mengerti Gerakan Reformed Injili.” Ketika Roh Kudus bekerja, Ia akan mendorong orang untuk memberitakan Injil.

Ketujuh, kita melihat masih ada tanda yang penting sekali, yaitu ketika kebangunan rohani sudah terjadi, di situ orang mulai hidup suci dan minta kuasa dari Tuhan untuk hidup suci. Ini satu hal yang tidak mungkin dipalsukan. Pada saat kebangunan rohani yang sejati datang mengunjungi suatu kelompok atau suatu daerah, pasti meninggalkan satu hasrat hidup suci. Tanda ini tidak dapat ditiru dan tidak dapat dipalsukan. Karunia dapat dipalsukan, kharisma dapat dipalsukan, tetapi kesucian tidak dapat dipalsukan. Ini merupakan tanda kebangunan yang sejati.

Tanda kebangunan yang terakhir, yaitu yang kedelapan, adalah semangat dan niat perjuangan yang tidak takut dianiaya dan tidak takut kesusahan. Inilah tanda-tanda yang bisa kita lihat di dalam setiap zaman. Pada waktu gereja di Tiongkok dibangun, semua orang Kristen rela mati untuk Tuhan. Mereka disiksa, mereka digantung, rambutnya dipasang tali diikat kepada balok di atas kepalanya. Ini tanda kebangunan, di mana kebangunan terjadi di situ orang sudah tidak lagi menghiraukan untung rugi diri sendiri, tidak lagi menghiraukan mati hidup sendiri, mereka lebih menghiraukan kehendak Tuhan yang terjadi. Apakah engkau mau mengalami pengalaman kebangunan rohani yang sesungguhnya?

Pdt. Dr. Stephen Tong

Sabtu, 18 Desember 2010

Justification by Faith Alone: The Doctrine by which the Church Stands or Falls


Martin Luther (1483-1546) menyebut doktrin justification by faith alone sebagai dasar di mana kelangsungan atau kehancuran Gereja dipertaruhkan (articulus stantis et cadentis ecclesiae). Kurang dari seratus tahun kemudian, Francis Turrentin (1623-1687), seorang pastor and profesor theologi di Geneva, memperingatkan Gereja agar tetap setia mengajarkan doktrin ini secara jelas dan akurat karena penyelewengan atas doktrin ini pasti mengakibatkan penyelewengan yang lebih lanjut akan doktrin-doktrin lainnya dan Iblis pasti selalu berusaha dengan segala cara untuk menggeser perhatian Gereja akan pentingnya mengajarkan doktrin ini. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa doktrin ini begitu penting bagi Gereja? Apakah yang dicatat oleh Alkitab mengenai doktrin ini? Serta bagaimana sejarah keKristenan mencatat perkembangan doktrin ini?
Development of the Doctrine in Church History

Doktrin justification by faith alone sudah diajarkan secara tersirat dalam tulisan-tulisan bapa-bapa Gereja mula-mula, dan hingga abad ke-16 barulah Gereja menjawab panggilan untuk menggali kebenaran doktrin pembenaran secara lebih akurat dan jelas dari Alkitab. Pelagius (354-420) mengajarkan bahwa manusia diciptakan Allah tanpa mewarisi dosa turunan (original sin). Akibat dari pemahaman doktrin dosa yang salah ini, Pelagius sampai pada kesimpulan yang begitu menyimpang dari Alkitab, yaitu manusia dimungkinkan untuk memperoleh keselamatan melalui upaya perbuatan baik dan menjalankan perintah-perintah agama. Pelagius menolak akan keabsolutan anugerah Allah di dalam Kristus melalui iman yang memimpin kepada keselamatan pribadi. Ajaran Pelagius (Pelagianism) ini akhirnya dinyatakan sebagai ajaran sesat oleh tiga sidang Gereja: Synod of Carthage, Council of Ephesus, dan Synod of Orange.

Agustinus (354-430) melawan ajaran Pelagius karena tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Ia memakai starting point yang sangat berbeda dengan Pelagius. Natur manusia adalah natur yang berdosa akibat dosa turunan Adam sehingga tidak mungkin untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik di mata Allah yang suci. Oleh karena itu manusia membutuhkan anugerah spiritual dari Roh Kudus yang mencerahkan akal budi manusia, mengubahkan hati manusia untuk mencintai hal-hal yang kudus, menumbuhkan iman, dan memungkinkan manusia untuk berbuat baik. Menurut Agustinus, iman di dalam Kristuslah yang membenarkan orang berdosa. Manusia berdosa dibenarkan oleh darah Kristus yang dialirkan di atas kayu salib untuk menggantikannya. Anugerah ini diberikan oleh Allah secara bebas sesuai dengan kedaulatan Allah dan tidak tergantung kepada jasa perbuatan baik manusia. Jadi bisa dilihat bahwa anugerah Allah mendahului perbuatan baik manusia.

Di dalam konsep justification-nya, Agustinus mencampuradukkan doktrin pembenaran (justification) dengan doktrin pengudusan (sanctification). Menurutnya di dalam membenarkan orang berdosa, Allah tidak mendeklarasikan orang berdosa sebagai orang benar tetapi membuat pendosa itu menjadi orang benar. Kegagalan Agustinus dalam membedakan secara jelas dan akurat mengenai doktrin pembenaran dan pengudusan ini kemudian diwariskan kepada theolog-theolog Gereja setelahnya.

Thomas Aquinas (1225-1274) mengembangkan doktrin justification yang telah diajarkan oleh Agustinus. Menurutnya, pembenaran oleh Allah bekerja melalui anugerah pengudusan yang diinfusikan ke dalam jiwa manusia oleh Allah sehingga mengubah orientasi kehendak bebas manusia untuk pertama-tama taat kepada Allah, dan kemudian melawan dosa, serta akhirnya menghasilkan pengampunan dosa. Aspek pengudusan menjadi lebih jelas dan sistematik di dalam konsep justification yang diajarkan oleh Thomas Aquinas dan menjadi ajaran resmi gereja Katolik Roma sampai dengan abad ini.

Kondisi gereja Katolik pada abad ke-16 menjadi semakin bergeser, gereja mengajarkan bahwa untuk mendapatkan pengampunan Tuhan atas dosa-dosa yang telah dilakukan, seseorang harus melakukan work of penance, seperti perbuatan baik, membayar denda atau menerima hukuman, sesuai dengan yang ditetapkan oleh pastor yang menjadi perantara antara pendosa dan Tuhan. Bahkan gereja pada puncak kegelapannya “menjual” anugerah pengampunan dan pembenaran oleh Tuhan kepada publik melalui penjualan selembar surat pembebasan dosa demi memperoleh dana untuk kelangsungan pembangunan gedung gereja St. Peter Basilica di Vatikan. Disebabkan oleh dua hal itu, Martin Luther (1483-1546) mengadakan reformasi di Jerman dengan memakukan 95 tesisnya di pintu utama gereja Schloβkirche di Wittenberg. Ia sendiri adalah seorang biarawan dari ordo Agustinian, dan melakukan work of penance secara sungguh-sungguh untuk mendapatkan pengampunan dosa sebelum akhirnya mendapatkan terang kebenaran pada saat merenungkan Roma 1:17 bahwa manusia dibenarkan Tuhan melalui iman saja. Dalam anugerah Allah, Luther mendapatkan pengertian yang benar bahwa pengampunan dosa dan pembenaran dari Tuhan bukan tergantung kepada pengakuan dosa kepada pastor, ataupun perbuatan baik kita, dan apalagi melalui pembelian surat pengampunan dosa; melainkan melalui penyesalan yang mendalam akan dosa-dosa yang telah dilakukan serta pertobatan sungguh-sungguh untuk menjalani hidup yang baru – yang mana kedua hal ini merupakan anugerah Allah melalui iman kepada Kristus. Luther dipakai Tuhan untuk mengembalikan konsep anugerah dari Allah menjadi poros dari Doktrin Keselamatan yang telah diselewengkan oleh Gereja Katolik; serta mendeklarasikan doktrin pembenaran melalui iman kepada Kristus saja sebagai dasar di mana kelangsungan atau kehancuran Gereja dipertaruhkan.

Doktrin Justification by Faith Alone in the Bible

Justification adalah tindakan anugerah Allah, di mana Ia mengampuni segala dosa kita dan menerima kita sebagai orang benar di mata-Nya, hanya karena kebenaran Kristus telah ditanamkan ke dalam kita dan semuanya itu kita terima melalui iman saja (Westminster Shorter Catechism Q. 33).  Dari definisi ini, justification adalah semata-mata anugerah Allah saja yang diterima melalui iman dan mengandung dua aspek penting yaitu pengampunan dosa dan pendeklarasian status sebagai orang benar di mata Tuhan.
Doktrin justification paling banyak dibicarakan oleh Rasul Paulus khususnya di dalam kitab Roma dan Galatia. Tiga pasal pertama kitab Roma mengajarkan bahwa semua orang (termasuk kamu dan saya) adalah orang yang sungguh berdosa karena motivasi kita adalah melawan Allah dan menekan kebenaran Allah. Kita menukar Allah sebagai satu-satunya yang pantas menjadi objek persembahan kita dengan patung, ilah-ilah ciptaan manusia, harta, kemuliaan, dan kekuasaan dunia (yang ironisnya merupakan ciptaan Allah), bahkan kita menolak untuk mengakui keberadaan Allah. Kita penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Kita adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan (Roma 1:24-32). Kita adalah orang yang sungguh berdosa dan sungguh pantas menjadi objek kemurkaan Allah yang suci dan benar.

Kita mungkin sadar dengan keberdosaan kita, namun masih menaruh harapan untuk menyenangkan Allah dengan melakukan perbuatan baik menurut Hukum Taurat. Rasul Paulus dengan jelas mengajarkan bahwa justru melalui Hukum Taurat kita menyadari ketidakmampuan diri untuk mencapai standar Allah dalam mematuhi setiap perintah-Nya sehingga mustahil untuk menyenangkan Allah. Dan sebagai klimaksnya, Paulus memberitahukan kepada kita secara jelas dan tepat bahwa tidak ada seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan Hukum Taurat (Roma 3:19-20). Jikalau tidak ada satu pun manusia yang berkenan kepada Allah, bagaimana dengan kita? Siapkah kita untuk menerima murka Allah yang menyala-nyala atas dosa-dosa yang kita perbuat?

Dengan kondisi di bawah murka Allah, kita yang berdosa tentu saja akan membaca bagian akhir pasal ketiga dari Kitab Roma dengan penuh sukacita dan penuh pengharapan. Paulus men-sharing-kan rahasia rencana Allah kepada jemaat di Roma bahwa orang berdosa dapat menerima pengampunan dan sekaligus dinyatakan sebagai orang benar melalui iman kepada Yesus Kristus (Roma 3:21-26). Kita yang dahulu berada di bawah tuntutan covenant of work sehingga berada di dalam bayang-bayang penghukuman Allah akibat kegagalan dalam melakukan perintah Allah secara sempurna; sekarang berada di bawah covenant of grace karena Kristus telah menggenapi tuntutan covenant of work dengan menggenapi secara sempurna segala perintah Allah yang tidak mungkin kita patuhi; dan Kristus juga sekaligus memuaskan kemarahan Allah (propitiation) dengan kematian-Nya di atas kayu salib. Sehingga darah Kristus yang tercurah di Golgota yang diterima (imputation) melalui iman menyucikan dosa-dosa kita (1Ptr. 2:24, 2Kor. 5:21). Kebenaran Kristus di dalam ketaatan-Nya kepada perintah Bapa yang juga kita terima (imputation) melalui iman membuat kita bukan lagi orang berdosa di hadapan Allah, tetapi Allah menyatakan kita sebagai orang benar (Roma 5:9b).

Dalam pasal keempat, Paulus memberikan bukti bahwa fondasi doktrin pembenaran oleh iman saja bukanlah hasil pemikiran manusia tetapi adalah kebenaran yang didasarkan kepada kebenaran Allah yang dinyatakan Alkitab. Melalui kisah Abraham, bapak orang beriman, ia menunjukkan bukti yang jelas bahwa Abraham dibenarkan melalui imannya kepada janji Allah (yang tidak ia kenal sebelumnya karena pada saat itu mayoritas penduduk Ur-Kasdim menyembah dewa bulan ‘Camarina’) bukan melalui perbuatan ketaatan kepada perintah Allah (lihat ayat 9-10). Pada saat Allah ‘asing’ meminta Abraham untuk meninggalkan rumah, keluarga, sanak saudara, dan kampung halamannya, untuk pergi ke tempat yang jauh dan belum pernah ia kunjungi sebelumnya, Abraham percaya kepada Allah. Di dalam iman ia melangkah pergi menuju ke tempat yang dijanjikan Allah untuknya walaupun tanpa penjelasan yang detail mengenai tempat tujuannya. Dan Alkitab mencatat bahwa Abraham dibenarkan oleh karena imannya kepada Allah (Kej. 15:6, Gal. 3:5-6 dan Rm. 4:3).

The Ground of Justification

Pada bagian sebelumnya kita telah mempelajari bahwa orang berdosa dibenarkan Allah melalui iman saja bukan melalui perbuatan ataupun kombinasi keduanya seperti tertulis dalam Alkitab: “Melalui perbuatan ketaatan kepada hukum Allah tidak ada satu orang pun yang dibenarkan dihadapan-Nya” (Rm. 3:20 dan Gal. 2:16). Pertanyaan yang muncul adalah jikalau kita dibenarkan melalui iman, apakah iman yang menjadi dasar bagi Allah untuk membenarkan orang berdosa?

Perlu mendapat perhatian khusus bahwa di antara justification dan faith di dalam bahasa Yunani diikuti dengan preposisi dia sebagai genitive bukan dia sebagai accusative (Rm. 3:25, 28, 30, 5:1, Gal. 2:16, dan Flp. 3:9). Preposisi dia sebagai genitive menekankan fakta bahwa iman adalah alat atau instrumen di dalam proses justification. Selain itu Alkitab tidak pernah menggunakan preposisi dia sebagai accusative yang berarti “sebagai dasar atau alasan” di dalam menjelaskan proses justification. Jadi, melalui analisa gramatikal bahasa asli yang dipakai Alkitab, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa iman tidak pernah menjadi dasar di dalam proses justification.

R.C. Sproul memberikan satu ilustrasi yang sangat baik untuk menjelaskan fungsi iman dalam proses justification. Iman menurut dia adalah prakondisi yang perlu (necessity) di dalam proses justification seperti halnya oksigen di dalam proses pembakaran, tetapi bukan merupakan prakondisi yang cukup (sufficient). Jikalau oksigen adalah prakondisi yang cukup (sufficient), maka hal ini akan menjadi problem besar bagi manusia di mana proses pembakaran akan terjadi jikalau oksigen tersedia, termasuk di dalam paru-paru kita! Walaupun tidak menjadi prakondisi yang cukup, oksigen tetap menjadi suatu kebutuhan yang diperlukan didalam proses pembakaran, sehingga tanpa oksigen tidak mungkin ada nyala api. Problema yang lebih lanjut kini muncul: “Jika iman bukan menjadi dasar di dalam proses justification, apakah yang menjadi dasar Allah membenarkan orang berdosa?”.

Jawaban atas pertanyaan di atas menjadi salah satu poin penting yang membedakan theologi Yudaisme, theologi Roma Katolik, dan theologi Protestan khususnya yang mewarisi ajaran para Reformator. Dasar pembenaran Allah untuk orang berdosa bukanlah ketaatan orang berdosa kepada hukum Allah (ajaran Yudaisme), bukan pula kebenaran Kristus ditambah dengan perbuatan baik (ajaran Roma Katolik), melainkan karena ketaatan sempurna Kristus dalam menjalankan perintah Allah yang secara anugerah diberikan Allah kepada orang berdosa seperti ada tertulis: “karena ketaatan satu orang maka semua orang menjadi benar” (Roma 5:19). Manusia yang telah berdosa dibenarkan oleh karena kasih karunia yang telah diberikan dengan cuma-cuma karena penebusan Kristus Yesus dalam darah-Nya, yang memuaskan murka Allah yang menyala-nyala, dan semua ini diterima melalui iman (Roma 5:9, Roma 3:24-25).
Dasar pembenaran orang berdosa tidak berada di dalam diri kita yang berdosa, bukan pula kebenaran dalam tindakan, pikiran dan karakter, bukan pula ketaatan kita kepada Hukum Taurat, melainkan karya Kristus yang genap di atas Golgota yang menjadi milik kita berdasarkan kasih karunia Allah dan diterima melalui iman kepada Kristus. Iman hanyalah menjadi instrumen di dalam kita untuk menerima semua karya Kristus tersebut. Sehingga tidak ada satu orang pun yang boleh menjadi sombong atas status orang benar yang ia miliki (Roma 4:2).

Justification by Faith Alone in Book of James

Problem lain yang muncul di dalam memahami doktrin justification by faith alone adalah bahwa Yakobus di dalam suratnya menuliskan bahwa orang dibenarkan melalui perbuatan baik dan bukan iman saja (Yakobus 2:24), yang secara sekilas terlihat bertentangan dengan ajaran Paulus yang telah kita bahas di atas. Sebelum kita menganalisa kedua hal tersebut, perlulah kita mengingat bahwa Allah yang mewahyukan Diri-Nya di dalam Alkitab dan menginspirasikan penulis Alkitab (termasuk Paulus dan Yakobus) untuk menuliskan isi hati-Nya adalah Allah yang suci, benar, tidak berubah dan tidak berkontradiksi di dalam Diri-Nya (Yakobus 1:17), sehingga Dia tidak mungkin mewahyukan Diri-Nya dalam pengajaran-pengajaran yang berkontradiksi satu sama lain. Dengan sikap yang hormat kepada Alkitab sebagai firman Allah, barulah kita berusaha untuk merekonsiliasi kedua hal yang yang tampaknya bertentangan ini.
Jika kita menganalisis lebih lanjut surat Yakobus, maka jelaslah bahwa ajaran Yakobus mengenai justification tidaklah bertentangan dengan ajaran Paulus melainkan saling melengkapi. Yang menjadi kunci di dalam ‘perbedaan’ ini adalah perbedaan konteks di dalam tulisan mereka. Surat Yakobus ditulis lebih dahulu (sekitar abad 40-50M) dibandingkan dengan surat Roma (sekitar 57M), sehingga surat ini tidak mungkin ditulis untuk memberikan sanggahan terhadap tulisan Paulus kepada Jemaat di Roma (lihat Yakobus 2:23). Yakobus di dalam suratnya memiliki tujuan untuk mengajarkan cara hidup yang benar dan berkenan kepada Tuhan kepada orang Kristen mula-mula yang memiliki cara hidup antinomianisme (kesalahan akibat penekanan berlebihan terhadap aspek anugerah dengan mengabaikan ketaatan kepada hukum Allah). Sebelum sampai kepada kesimpulan di ayat 23, Yakobus di ayat 14 memulai dengan contoh seseorang yang berkata bahwa ia memiliki iman tetapi tidak merefleksikan imannya di dalam perbuatan. Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seseorang memiliki iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkan iman itu menyelamatkan dia? (Yakobus 2:14). Di dalam hal ini Yakobus menghadapi persoalan yang berbeda dengan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Yakobus berhadapan dengan orang-orang yang yang memiliki iman yang “mati” sedangkan Paulus berhadapan khususnya dengan orang yang Yahudi yang merasa sebagai orang benar (righteous) karena mereka memiliki Hukum Taurat dan “menjalankannya”.
Oleh karena itu Yakobus menggunakan pendekatan yang berbeda dengan Paulus. Paulus di dalam surat kepada jemaat di Roma menggunakan ide forensic untuk menjelaskan konsep justification. Seperti halnya seorang terhukum dinyatakan tidak bersalah oleh hakim di dalam pengadilan, begitu pula orang berdosa dinyatakan sebagai orang benar di hadapan Allah. Sebaliknya di dalam problem yang dihadapi oleh Yakobus, orang Kristen yang memiliki iman yang “mati” telah dinyatakan sebagai orang benar di hadapan Allah, akan tetapi perbuatan mereka di hadapan manusia tidak mempermuliakan Allah dan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Oleh karena itu Yakobus menantang mereka untuk menunjukkan iman mereka tanpa perbuatan dan ia akan menunjukkan kepada mereka iman yang ia (Yakobus) miliki dengan perbuatannya (ayat 18).  Lebih lanjut Yakobus mengingatkan bahwa iman yang tanpa disertai dengan tindakan tidak banyak berbeda dengan iman yang dimiliki oleh Iblis. Terakhir, ia memberikan contoh iman yang diperkenan Allah. Abraham (yang juga menjadi contoh dalam surat Paulus) dan Rahab dicatat sebagai orang-orang yang tidak hanya beriman tetapi juga mengerjakan iman mereka di dalam kehidupan mereka dengan setia (Yakobus 2: 23-25 dan Ibrani 11).      

Orang berdosa memang hanya dibenarkan di hadapan Allah berdasarkan ketaatan sempurna Kristus hingga rela mati tersalib di Golgota. Kebenaran Kristus ini menjadi milik mereka berdasarkan kasih karunia Allah dan diterima hanya melalui iman kepada Kristus, sehingga mereka tidak lagi berstatus sebagai orang berdosa tetapi sebagai orang benar. Akan tetapi sesudah mendapat status orang benar, seorang tidak bisa menjalani hidupnya tanpa bertanggung jawab di dalam melakukan kehendak Allah. Justru sebaliknya, setelah mendapatkan anugerah yang begitu besar, seseorang harus memiliki kerinduan untuk menaati perintah Allah, bukan agar diselamatkan melainkan sebagai ekspresi ucapan syukur atas anugerah keselamatan yang diterima. Seperti halnya Paulus yang mengikuti teladan ketaatan Kristus, marilah kita juga mengerjakan bagian yang Tuhan percayakan kepada kita sehingga pada akhir dari waktu yang Tuhan percayakan, kita dapat berkata, "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman[ku]" (II Timotius 4:7).

Penutup

Seperti yang telah dibahas di atas, justification by faith alone adalah doktrin yang sangat penting dan menjadi inti dalam keKristenan. Kesalahan dalam memahami doktrin  justification by faith alone akan menyebabkan distorsi terhadap pengertian Injil yang seutuhnya seperti yang diajarkan di dalam Alkitab. Selain itu, doktrin ini juga yang membedakan ajaran Alkitab dengan ajaran Roma Katolik (yang telah terdistorsi dengan perbuatan baik dan tradisi) dan agama-agama lainnya di dunia. Jikalau agama-agama di dunia mengajarkan bahwa manusia perlu melakukan perbuatan baik, mengerjakan ritual-ritual ibadah, membuang segala hawa nafsu, memberi sedekah dan berpuasa, dan lain-lain agar mereka mungkin diselamatkan, maka doktrin justification by faith alone mengajarkan sebaliknya. Justification by faith alone mengajarkan bahwa Allah sendirilah yang merencanakan dan menggenapi rencana keselamatan bagi kaum pilihan yang Ia kasihi, terlepas dari segala campur tangan manusia. Dan jaminan keselamatan menjadi suatu hal yang pasti seperti halnya Allah yang pada Diri-Nya kudus dan tidak berubah.

Akhir kata, tiada lain yang dapat dikatakan selain ucapan syukur kepada Tuhan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Jikalau bukan karena kasih karunia dari Allah, maka kita layak menerima murka Allah yang menyala-nyala untuk selama-lamanya. Soli Deo Gloria.        

Jesus, thy blood and righteousness.
My beauty are, my heavenly dress.
Midst flaming worlds in these arrayed
With joy shall I lift up my head.

Wiryi Aripin
Pemuda GRII Singapura