Minggu, 31 Oktober 2010

HARI REFORMASI

Pada tgl 31 Oktober 1517, Martin Luther memaku pintu gereja di Wittenberg, Jerman, dengan 95 thesisnya. Karena itu, sampai saat ini tgl 31 Oktober diperingati sebagai Hari Reformasi. Salah satu semboyan dari Reformasi ialah Sola Scriptura, yang berarti Only Scripture (= hanya Kitab Suci). Mengapa Reformasi itu begitu menekankan Kitab Suci? Karena gereja saat itu sudah menyimpang dari Kitab Suci, yang adalah Firman Allah.

Bahwa Kitab Suci adalah Firman Allah sebetulnya bisa terlihat dari 2Tim 3:16.
Tetapi 2Tim 3:16 terjemahan Indonesia berbunyi: ‘Segala tulisan yang diilhamkan Allah’. Ini salah terjemahan, sehingga tidak bisa menunjukkan bahwa Kitab Suci adalah Firman Allah.

NASB: ‘All Scripture is inspired by God’ (= seluruh Kitab Suci diilhamkan oleh Allah). Ini jelas menunjukkan bahwa Kitab Suci adalah Firman Allah.
Apa sebetulnya tujuan Tuhan memberikan Kitab Suci / Firman Allah kepada kita? Tentu karena Kitab Suci / Firman Allah adalah sesuatu yang bermanfaat!

I. Manfaat Kitab Suci / Firman Allah.
A. Bagi orang yang belum percaya:
Kitab Suci / Firman Allah bisa memberikan hikmat yang bisa menuntun / mengarahkan orang yang belum percaya pada keselamatan oleh iman kepada Kristus.

Dalam 2Tim 3:15 dikatakan: ‘... Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus’. Ini lagi-lagi merupakan terjemahan yang kurang tepat.

NASB: ‘... the sacred writings which are able to give you the wisdom  leads to salvation through faith which is in Christ Jesus’ (= tulisan-tulisan kudus yang bisa memberimu hikmat memimpin pada keselamatan melalui iman di dalam Kristus Yesus).

Ada 2 hal yang bisa kita pelajari dari ayat ini:
1. Dalam diri orang yang tidak percaya selalu ada kebodohan-kebodohan tertentu. Ini menyebabkan ia tidak mau / tidak bisa datang kepada Yesus untuk mendapatkan keselamatan.

Dan Kitab Suci / Firman Allah bisa memberi hikmat untuk membuang kebodohan-kebodohan itu, sehingga orang itu akhirnya bisa dan mau datang kepada Yesus.

Contoh kebodohan-kebodohan itu:

Menganggap dirinya baik Ini jelas akan menyebabkan ia merasa tidak butuh Kristus sebagai Juruselamat. Tetapi Kitab Suci bisa ‘menyatakan kesalahan’ (3:16), sehingga menyadarkan orang itu bahwa sebetulnya ia adalah orang yang berdosa, bahkan sangat berdosa.

hanya mempedulikan hidup yang sekarang ini,ini juga akan menyebabkan orang itu tidak peduli pada kerohanian, iman dan bahkan kepada Allah sendiri. Tetapi Kitab Suci mengajar bahwa hidup yang sekarang ini fana dan singkat, dan Kitab Suci juga mengajarkan akan adanya suatu kehidupan yang lain setelah kematian, dan yang ini berlangsung selama-lamanya

ia bisa selamat dengan berbuat baik/hidup baik ,Ini akan menyebabkan ia tidak mau datang kepada Yesus. Yang penting adalah hidup baik. Tetapi Kitab Suci mengajar bahwa manusia tidak bisa baik, dan juga bahwa dengan kebaikan kita, kita tidak bisa dibenarkan (Gal 2:16 - "Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus").

2. Keselamatan bisa didapatkan melalui iman dalam Kristus Yesus.
Kitab Suci bukan hanya menunjukkan bahwa manusia itu berdosa dan karena itu akan dihukum di neraka. Kitab Suci juga menunjukkan bahwa Allah telah menyediakan jalan keluarnya, dan itu bisa kita lihat dari sederetan ajaran-ajaran ini:

Allah telah menjadi manusia di dalam diri Tuhan kita Yesus Kristus.
Yesus sudah mati di salib untuk menebus dosa-dosa manusia.
Yesus sudah bangkit dari antara orang mati, mengalahkan Iblis, maut, dan dosa.
Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga (Yoh 14:6 Kis 4:12 1Yoh 5:11-12).
Hanya dengan iman kepada Yesus, bukan dengan perbuatan, kita bisa diselamatkan (bdk. Ef 2:8-9 Gal 2:16,21).

Di sini kita bertemu dengan semboyan yang lain dari Reformasi yaitu: Sola Fide, yang berarti Only Faith (= hanya iman).

Bagi orang yang sudah percaya:
Dalam 2Tim 3:16-17 dikatakan bahwa Kitab Suci / Firman Allah itu bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran. Ini membuat orang berdosa yang sudah diselamatkan itu makin baik hidupnya.

Ini adalah urut-urutan yang benar. Orangnya sudah selamat, baru diajar untuk berbuat baik! Bukan sebaliknya!

II. Selera manusia (4:3-4).

Ada 2 hal yang perlu kita ketahui dari 2Tim 4:3-4 ini:
ini merupakan suatu nubuat.

Memang pada jaman dahulupun sudah ada orang-orang seperti itu, tetapi makin mendekati akhir jaman, makin banyak orang seperti itu.

Yang dimaksudkan dengan orang-orang di sini, bukanlah orang-orang kafir total yang ada di luar gereja, tetapi orang di dalam gereja (jemaat). Ini terlihat dari kata-kata ‘mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya ...’ (4:3).

Dari 4:3-4 ini kita bisa melihat selera banyak jemaat pada akhir jaman:
1. Mereka benci pada kebenaran / Firman Tuhan!

Hal ini dinyatakan dengan kata-kata:'Orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat’ (4:3).
Kata-kata ‘tidak dapat lagi menerima’ oleh NIV diterjemahkan: ‘will not put up with’ (= tidak tahan / tidak betah)

apakah anda sering tidak betah dalam mendengar Firman Tuhan?

‘Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran’ (4:4 bdk. Kis 7:54,57!).
mungkin pada saat kita mendengar khotbah / Firman Tuhan, kita tidak pernah betul-betul menutup telinga kita. Tetapi pernahkah kita sengaja menutup telinga hati kita atau sengaja tidak mau memperhatikan Firman Tuhan, karena kita ‘terserang’ oleh Firman Tuhan itu? Atau bisa juga dengan cara tidak mau mengundang hamba Tuhan yang betul-betul berani memberitakan kebenaran di gereja kita.

Orang-orang ini membenci kebenaran / Firman Tuhan karena kebenaran sering menyakitkan! Ingat bahwa Firman Tuhan berfungsi antara lain untuk ‘menyatakan kesalahan’ (3:16), dan hamba Tuhan harus menyatakan kesalahan dan menegur (4:2)!

2. Mereka mencari:  

a. Ajaran yang memuaskan keinginan telinga (4:3).
NIV: ‘teachers to say what their itching ears want to hear’ (= guru-guru untuk mengatakan apa yang ingin didengar oleh telinga mereka yang gatal).

Artinya: mereka mencari guru yang ajarannya menyenangkan mereka (bdk. Yes 30:9-11 Yer 23:17 1Raja-raja 22:5-23,28!).

Perlu diingat bahwa tidak semua ajaran yang menyenangkan itu adalah ajaran yang salah! Dalam 4:2 ada kata ‘nasihatilah’. Ini jelas bisa merupakan suatu penghiburan, dan penghiburan adalah sesuatu yang menyenangkan.

Jadi, Pdt bisa saja kadang-kadang memberikan ajaran yang menyenangkan. Tetapi kalau kita sebagai jemaat hanya mau mendengar ajaran yang menyenangkan, maka kita menggenapi nubuat Paulus ini!

Contoh ajaran menyenangkan yang salah:

*Theologia Kemakmuran yang menjanjikan kekayaan bagi semua orang yang beriman dan taat
*ajaran yang mengatakan bahwa orang kristen pasti sembuh dari segala penyakit.
*ajaran yang mengatakan bahwa kalau kita ikut Yesus, semua problem pasti beres (bdk. 3:12!).
*penginjilan yang membuang unsur pertobatan, seakan-akan asal kalau kita percaya, sekalipun kita terus hidup dalam dosa, kita tetap akan selamat. Ingat bahwa sekalipun kita diselamatkan hanya karena iman, tetapi iman yang sejati harus terwujud dalam kehidupan yang baik (Yak 2:17,26)!
*ajaran yang selalu mengkambing hitamkan roh jahat.

Misalnya kalau kita berzinah, itu karena roh zinah dsb. Ajaran ini selalu menimpakan kesalahan kepada roh jahat, seakan-akan diri orang yang berbuat dosa itu tidak salah.

Perlu diketahui bahwa sekalipun setan menggoda kita sehingga kita berbuat dosa, tetapi kitalah yang berbuat dosa dan kitalah yang harus bertanggung jawab / bertobat! Ini terlihat dalam Kej 3 dan juga dalam Luk 22:3,22. Karena sekalipun Adam dan Hawa, dan juga Yudas, berbuat dosa karena godaan setan, tetapi mereka tetap dihukum!
Karena ajaran-ajaran seperti ini memang banyak dicari orang, maka jangan heran kalau gereja-gereja yang mengajarkan ajaran-ajaran tersebut di atas, justru ‘sukses’ dan banyak jemaatnya! Ini memang penggenapan nubuat Paulus!

b. Dongeng (4:4).

Di sini lagi-lagi harus dingat bahwa tidak semua dongeng itu adalah salah. Yesus sendiri banyak memberikan dongeng (perumpamaan), tetapi melalui dongeng itu Ia sering menyerang tokoh-tokoh Yahudi (bdk. Mat 21:45-46). Nabi Natan juga menggunakan dongeng dalam menegur Daud (2Sam 12:1-7).

Tetapi bagaimanapun juga semua pengkhotbah harus mengingat bahwa: bahan baku / utama dari suatu khotbah adalah Firman Tuhan / Kitab Suci dan penjelasan / penguraian ayat-ayat tersebut. Sedangkan dongeng, kesaksian, lelucon dsb adalah bumbu!

Kalau pengkhotbah menghadapi jemaat dengan tingkat pendidikan dan kerohanian yang rendah, maka tidak salah untuk memperbanyak dongeng, kesaksian, illustrasi, penerapan dsb. Tetapi bagaimanapun juga, Firman Tuhan harus tetap menjadi bahan utama / bahan baku khotbahnya!

Ada banyak ‘hamba Tuhan’ yang khotbahnya betul-betul dipenuhi dengan dongeng (kadang-kadang mencapai 95%!), dan ia lalu menaburkan beberapa ayat di dalam khotbah itu! Ini jelas bukan khotbah! Tetapi aneh, sesuai dengan nubuat Paulus dalam 4:3-4 itu, jaman sekarang banyak ‘orang kristen’ senang dengan ‘khotbah’ seperti itu! Ini sama seperti orang yang senang pada junk food (= makanan yang tak bergizi seperti permen, coklat dsb)! Ini juga sama seperti kambing yang suka pada sampah!

III. Sikap / tanggapan 

1. Sebagai individu.  

a. Kalau kita adalah orang yang menggenapi nubuat Paulus tadi, maka kita adalah orang kristen KTP! Bertobatlah dan datanglah kepada Yesus, terimalah Ia sebagai Juruselamat dan Tuhan kita! Kalau kita tidak bertobat dan kita terus mengenapi nubuat Paulus itu, jangan heran kalau pada waktu anda mati, anda masuk neraka!

b. Kalau kita ternyata tidak cocok dengan nubuat Paulus tadi, dalam arti kita adalah orang yang betul-betul rindu akan Firman Tuhan, puji Tuhan! kita adalah orang kristen yang sejati. Tetapi jangan enak-enak! Karena kerinduan akan Firman Tuhan, kalau tidak dipelihara, akan pudar. Bagaimana memeliharanya?

Dengan terus rajin dan tekun belajar Firman Tuhan, sambil banyak berdoa supaya saudara dipimpin ke dalam pengertian yang benar tentang Firman Tuhan

Dengan menjauhi segala dosa
Ada orang yang mengatakan bahwa Firman Tuhan menjauhkan kita dari dosa, tetapi dosa menjauhkan kita dari Firman Tuhan. Jadi kalau kita sengaja berbuat dosa, maka itu akan menghancurkan kerinduan kita akan Firman Tuhan.

Dengan demikian kita justru akan bertumbuh dan kerinduan akan Firman Tuhan akan terpelihara.

2. Sebagai gereja.
Hati-hati dalam memilih hamba Tuhan yang berkhotbah dalam gereja kita.

Buang ‘hamba Tuhan’ yang:cuma menyenangkan telinga dengan penghiburan palsu,pinternya cuma mendongeng dan melawak!

Sebaliknya, carilah hamba Tuhan yang :berani menegur dosa dan memberitakan berita yang tidak enak di telinga tetapi benar / sesuai dengan Firman Tuhan.betul-betul menjelaskan ayat-ayat Kitab Suci kepada kita

Pdt. Budi Asali MDiv.

Sabtu, 30 Oktober 2010

Tertulianus



Tertulianus, pengacara Afrika yang menjelaskan doktrin Tritunggal
 
Quintus Septimius Florens Tertullianus, atau Tertulianus, (155230) adalah seorang pemimpin gereja dan penghasil banyak tulisan selama masa awal Kekristenan.[1][2] Ia lahir, hidup, dan meninggal di Kartago, sekarang Tunisia. Ia dibesarkan dalam keluarga berkebudayaan kafir (pagan) serta terlatih dalam kesusasteraan klasik, penulisan orasi, dan hukum. Pada tahun 196 ketika ia mengalihkan kemampuan intelektualnya pada pokok-pokok Kristen, ia mengubah pola pikir dan kesusasteraan gereja di wilayah Barat hingga digelari "Bapak Teologi Latin" atau "Bapak Gereja Latin". Ia memperkenalkan istilah "Trinitas" (dari kata yang sama dalam bahasa Latin) dalam perbendaharaan kata Kristen; sekaligus kemungkinan, merumuskan "Satu Allah, Tiga Pribadi". Di dalam Apologeticusnya, ia adalah penulis Latin pertama yang menyatakan Kekristenan sebagai vera religio (?), dan sekaligus menurunkan derajat agama klasik Kerajaan dan cara penyembahan lainnya sebagai takhyul belaka.

Sebelumnya, para penulis Kristen umumnya menggunakan bahasa Yunani – bahasa yang agak fleksibel dan halus, yang cocok digunakan untuk berfilsafat dan berdebat tentang hal-hal sederhana. Acap kali, orang-orang Kristen yang berbahasa Yunani menggunakan cara berfilsafat seperti ini terhadap keyakinan mereka.

Meskipun Tertulianus, pengacara kelahiran Afrika itu, dapat berbahasa Yunani, ia memilih menulis dalam bahasa Latin, dan karya-karyanya mencerminkan unsur-unsur moral dan praktis orang Romawi yang berbahasa Latin. Pengacara yang berpengaruh ini telah menarik banyak penulis untuk mengikuti gayanya.
Ketika orang-orang Kristen Yunani masih bertengkar tentang keilahian Kristus serta hubunganNya dengan Allah Bapa, Tertulianus sudah berupaya menyatukan kepercayaan itu dan menjelaskan posisi ortodoks. Maka, ia pun merintis formula yang sampai hari ini masih kita pegang: Allah adalah satu hakikat yang terdiri dari tiga pribadi.

Ketika dia menyiapkan apa yang menjadi doktrin Trinitas, Tertulianus tidak mengambil terminologinya dari para filsuf, tetapi dari Pengadilan Roma. Kata Latin substantia bukan berarti "bahan" tetapi "hak milik". Arti kata persona bukanlah "pribadi", seperti yang lazim kita gunakan, tetapi merupakan "suatu pihak dalam suatu perkara" (di pengadilan). Dengan demikian, jelaslah bahwa tiga personae dapat berbagi satu substantia. Tiga pribadi (Bapa, Putra dan Roh Kudus) dapat berbagi satu hakikat (kedaulatan ilahi).

Meskipun Tertulianus mempersoalkan "Apa urusan Athena (filsafat) dengan Yerusalem (gereja)?" namun, filsafat Stoa yang populer pada masa itu turut mempengaruhinya. Ada yang berkata bahwa ide dosa asal bermula dari Stoisisme, kemudian diambil alih Tertulianus dan selanjutnya merambat ke Gereja Barat. Agaknya ia berpendapat bahwa roh (jiwa) itu adalah sebentuk benda: seperti tubuh dibentuk ketika pembuahan, maka roh pun demikian. Dosa Adam diwariskan seperti rangkaian genetik.

Gereja-gereja Barat menyimak ide ini, tetapi ide ini tidak dialihkan ke Timur (yang mempunyai pandangan yang lebih optimistik tentang sifat manusia).

Kira-kira pada tahun 206, Tertulianus meninggalkan Gereja untuk bergabung dengan sekte Montanis, sekelompok orang puritan yang bereaksi melawan apa yang mereka anggap sebagai kelonggaran moral di antara orang-orang Kristen. Mereka berharap kedatangan Kristus kedua kali itu segera terjadi. Mereka juga menekankan kepemimpinan Roh Kudus secara langsung, bukan kepemimpinan para rohaniwan yang ditahbiskan. Hal ini menyebabkan ia tidak diangkat sebagai Santo dalam Gereja Katolik Roma.

Meskipun Tertulianus pernah menekankan ide suksesi para rasul – pengalihan kuasa dan wibawa para rasul kepada para uskup – namun ia tidak dapat menerima bahwa para uskup memiliki kuasa mengampuni dosa. Ia berpendapat bahwa ini akan menjurus pada terpuruknya moral. Sementara itu para uskup terlampau yakin akan kuasa tersebut. Bukankah semua orang percaya adalah imam? Apakah ini Gereja para orang kudus yang dikelola mereka sendiri, ataukah sekumpulan orang kudus dan orang-orang berdosa yang dikelola "kelas" profesional yang dikenal sebagai rohaniwan?

Tertulianus sebenarnya berenang melawan arus. Selama lebih kurang dua belas abad kaum rohaniwan mendapat tempat khusus. Ketika Martin Luther menantang gereja, maka penekanan pada 'imamat semua orang percaya' kembali terangkat.

Referensi

  1. ^ A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang & Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Immanuel, 1999.
  2. ^ Lane,Tonny. 2005. Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta:BPK Gunung Mulia. ISBN 979-9290-92-9. Hal. 11-14.

Jumat, 29 Oktober 2010

Origenes


Origenes, cendekiawan terhebat abad ketiga

Origenes (Bahasa Yunani: Ὠριγένης) lahir di Alexandria sekitar tahun 185. Ia berasal dari keluarga Kristen yang saleh. Kira-kira pada tahun 201, ayahnya - Leonidas - dipenjarakan dalam satu gelombang penyiksaan oleh Septimus Severus. Origenes pun menulis surat kepada ayahnya di penjara agar tidak memungkiri Kristus demi keluarganya. Meskipun Origenes ingin menyerahkan diri kepada penguasa agar dapat menjadi martir bersama-sama dengan ayahnya, namun ibunya mencegahnya dengan menyembunyikan pakaiannya.

Setelah Leonidas mati sebagai martir, hartanya disita, dan jandanya terlantar dengan tujuh orang anak. Origenes pun mulai menanggulangi keadaan dengan bekerja sebagai guru sastra Yunani dan penyalin naskah. Karena hanyak di antara cendekiawan senior telah meninggalkan Alexandria dalam gelombang penyiksaan, maka sekolah katekisasi Kristen sangat membutuhkan tenaga pengajar. Pada usianya yang kedelapan belas, Origenes pun memangku jabatan kepala sekolah di sekolah katekisasi tersebut dan memulai karier mengajarnya yang panjang, termasuk belajar dan menulis.

la menjalani kehidupan asketis, menghabiskan waktunya pada malam hari dengan belajar dan berdoa, serta tidur di lantai tanpa alas. Mengikuti petunjuk Yesus, ia memiliki hanya satu jubah dan tidak mempunyai alas kaki. Ia bahkan mengikuti Matius 19:12 secara harfiah; mengebiri dirinya untuk mencegah godaan jasmani. Origenes berhasrat setia pada gereja dan membawa kehormatan bagi nama Kristus.

Sebagai seorang penulis yang sangat produktif Origenes dapat membuat tujuh sekretarisnya sibuk dengan diktenya. Ia telah menghasilkan lebih dari dua ribu karya, termasuk tafsiran-tafsiran atas setiap kitab dalam Alkitab serta ratusan kotbah.

Karyanya "Hexapla" merupakan prestasi dalam bidang kritik teks. Di dalamnya, ia mencoba menemukan terjemahan Yunani yang terbaik bagi Perjanjian Lama, dan dalam enam kolom sejajar ia membentangkan Perjanjian Lama Ibrani, sebuah transliterasi Yunani, tiga terjemahan Yunani dan Septuaginta. "Melawan Celsus" adalah karya besar yang merupakan pertahanan bagi kekristenan terhadap serangan kafir. "Atas Prinsip Pertama" merupakan upaya pertamanya dalam teologi sistematis; di sini Origenes dengan saksama meneliti keyakinan Kristen tentang Allah, Kristus, Roh Kudus, penciptaan, jiwa, kehendak bebas, keselamatan dan Kitab Suci.

Origenes bertanggung jawab atas peletakan dasar-dasar penafsiran alegoris terhadap Kitab Suci yang berpengaruh hingga Abad Pertengahan. Pada setiap teks, ia percaya ada tiga tingkat pengertian: pengertian harfiah, pengertian moral - yaitu untuk memperbaiki jiwa, dan pengertian alegoris atau pengertian rohani - yakni pengertian tersirat yang penting untuk iman Kristen. Origenes sendiri mengabaikan makna harfiah atau gramatikal-historis teks dan lebih menekankan makna alegoris.

Origenes berupaya menghubungkan kekristenan dengan ilmu pengetahuan dan filsafat pada masanya. Ia percaya bahwa filsafat Yunani merupakan persiapan untuk memahami Kitab Suci, dan secara analogi, yang kemudian dianut Augustinus, bahwa khazanah pengetahuan orang kafir dapat digunakan oleh orang Kristen, seperti kisah orang Israel yang meminta seluruh harta bangsa Mesir ketika keluar dari Mesir.

Dalam mempelajari filsafat Yunani, Origenes telah mengambil banyak gagasan Plato yang sangat asing dengan kekristenan Ortodoks. Dari kesalahan-kesalahannya, yang paling mencolok adalah paham Yunani bahwa benda dan dunia ini jahat. Ia percaya akan eksistensi roh sebelum lahir dan mengajarkan bahwa keberadaan manusia di atas bumi ini ditentukan oleh perilakunya ketika dalam keadaan praeksistensi (sebelum lahir). Ia menolak paham kebangkitan daging dan mempertimbangkan gagasannya bahwa akhirnya Allah akan menyediakan keselamatan bagi semua manusia dan malaikat. Karena Allah tidak mungkin menciptakan bumi ini tanpa berhubungan langsung dengan zat awal, maka Sang Bapa memperanakkan Putra-Nya untuk menciptakan bumi yang abadi ini. Ketika Sang Putra mati di kayu salib, maka itu hanya kemanusiaan Yesus yang mati sebagai tebusan bagi iblis atas kejahatan dunia.

Karena kesalahan-kesalahan semacam ini, maka Uskup Demetrius dari Aleksandria mengadakan sidang yang mengekskomunikasi Origenes dari gereja. Meskipun Gereja Roma dan Barat menerima ekskomunikasi ini, namun Gereja di Palestina dan sebagian besar Gereja Timur tidak menerimanya. Mereka masih mencari Origenes karena pengetahuan, kebijaksanaan dan kecendekiawanannya.

Dalam gelombang penyiksaan pada masa Kaisar Decius, Origenes dipenjarakan, disiksa dan diputuskan untuk dihukum mati pada tiang. Tetapi hukurnan itu tidak terlaksana karena kaisar telah meninggal dunia. Karena penderitaan (batin) inilah Origenes jatuh sakit, kemudian meninggal sekitar tahun 251 di Kaisarea. la telah berbuat banyak, lebih daripada yang orang lain pernah lakukan untuk meningkatkan pemikiran Kristen dan membuat Gereja dihormati di mata dunia. Di kemudian hari, Bapa Gereja di Barat maupun di Timur merasakan pengaruhnya. Keanekaragaman pikiran dan tulisannya telah membawa reputasi baginya sebagai bapa ortodoksi.

Ajaran Origenes

Ajaran Origenes dipengaruhi oleh filsuf-filsuf Yunani seperti Plato. Dari sana ia mengajarkan ajaran-ajaran yang oleh gereja dianggap salah.

Origen mengajarkan bahwa dari awal semua mahkluk yang rasional mulanya adalah berupa roh; ia mengajarkan bahwa setelah penebusan dosa melalui penyaliban Yesus di kayu salib maka baik orang yang telah masuk neraka juga akan ditebus dosanya dan kembali menjadi suci dan percaya bahwa jika orang sudah berada di surga dan melakukan pelanggaran disana akan dikeluarkan dari surga. Semua ajaran Origen merupakan dianathema dalam konsili Konstantinopel ke II pada tahun 553 M. Gereja mempercayai bahwa orang yang telah masuk neraka telah kehilangan kesempatan untuk bertobat, sehingga dosanya tidak terampuni lagi. Demikian juga orang yang sudah masuk surga tidak dapat berbuat dosa lagi sehingga kembali berdosa, sebab jika demikian maka neraka dan surga tidak ubahnya seperti dunia.

Referensi

A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang & Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Immanuel, 1999 Dapat dibaca di sini

Kamis, 28 Oktober 2010

Yohanes Krisostomus ( John Chrysostom )


Sebuah mosaik Byzantium Santo Yohanes Krisostomus berusia satu milenium

Yohanes Krisostomus (bahasa Yunani Ιωάννης ο Χρυσόστομος, Ioannes Chrysostomos), 347-407, adalah Uskup Agung Konstantinopel. Dia tersohor karena kefasihannya dalam berkhotbah dan berpidato di muka umum, penentangannya terhadap penyalahgunaan wewenang baik oleh para pemimpin gereja maupun para pemimpin politik, Liturgi Santo Yohanes Krisostomus, dan sensibilitas asketiknya. Sesudah kematiannya, dia diberi julukan Chrysostomos, kata Yunani yang berarti "Si Mulut Emas", ditransliterasi ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Krisostomus.[1][2]

Gereja Ortodoks dan Gereja-Gereja Katolik Timur menghormatinya sebagai seorang santo (hari peringatan, 13 November) dan menempatkannya sebagai salah satu dari Tiga Hierark Kudus (hari peringatan, 30 Januari), bersama Santo Basil Agung dan Santo Gregorius sang Teolog. Dia diakui oleh Gereja Katolik Roma sebagai seorang santo dan Doktor Gereja. Gereja-Gereja Barat, termasuk Gereja Katolik Roma, Gereja Inggris, dan Gereja Lutheran memperingatinya tiap tanggal 13 September. Relikui Yohanes Krisostomus diambil dari Konstantinopel oleh para prajurit Perang Salib IV pada tahun 1204 dan dibawa ke Roma, namun dikembalikan pada tanggal 27 November 2004 oleh Paus Yohanes Paulus II.[3]

Krisostomus dikenal dalam Kekristenan terutama sebagai seorang pengkhotbah dan pakar liturgi, khususnya dalam Gereja Ortodoks Timur. Di luar tradisi Kristiani, Krisostomus dikenal karena delapan khotbahnya yang cukup berperan dalam sejarah Antisemitisme Kristiani, dan digunakan secara ekstensif oleh Nazi dalam kampanye ideologis mereka menentang kaum Yahudi.[4][5]

Dia kadang kala disebut Yohanes dari Antiokhia, akan tetapi nama itu lebih tepat digunakan untuk menyebut uskup Antiokhia yang bernama Yohanes (429-441), yang memimpin sekelompok uskup Timur moderat dalam kontroversi Nestorianisme. Yohanes Krisostomus juga secara keliru dikira adalah orang yang sama dengan Dio Chrysostom.

Referensi

  1. ^ Paus Vigilius, Konstitusi Paus Vigilius, 553
  2. ^ "St. John Chrysostom" dalam Catholic Encyclopedia, tersedia pada online; diakses 20 Maret, 2007.
  3. ^ Lihat Surat-Surat Paus Yohanes Paulus II, tersedia padaonline; diakses 20 Maret, 2007.
  4. ^ Walter Laqueur, The Changing Face of Antisemitism: From Ancient Times To The Present Day, (Oxford University Press: 2006), hal.48. ISBN 0-19-530429-2. 48
  5. ^ Yohanan [Hans] Lewy, "John Chrysostom" dalam Encyclopedia Judaica (CD-ROM Edition Version 1.0), Ed. Cecil Roth (Keter Publishing House: 1997). ISBN 965-07-0665-8.

Rabu, 27 Oktober 2010

Ignatius dari Antiokhia ( Ignatius of Antioch )

Santo Ignatius dari Antiokhia
Ikon kesyahidan Santo Ignatius
Uskup dan Martir; Patriark; Teoforus
Lahir sekitar 35
Wafat sekitar 108, Roma
Dihormati di Kekristenan Timur, Gereja Katolik Roma
Dikanonisasikan pra-kongregasi
Tempat ziarah utama Relikui di Basilica di San Clemente, Roma
Hari peringatan Gereja Barat dan Gereja Suryani: 17 Oktober
Kalender Liturgi Ritus Romawi sejak abad ke-12 sampai 1969: 1 Februari
Gereja Ortodoks Timur: 20 Desember
Atribut seorang uskup dikelilingi singa atau dibelenggu
Pelindung Gereja di Mediterania Timur; Gereja di Afrika Utara


Ignatius dari Antiokhia (dikenal pula sebagai Teoforus) (sekitar 35 atau 50-antara 98 dan 117)[1] salah seorang Bapa Apostolik, adalah Uskup dan Patriark Antiokhia ke-3, dan sangat mungkin merupakan salah satu murid Yohanes Rasul. Dalam perjalanan menyongsong kesyahidannya di Roma, Ignatius menulis serangkaian surat yang terlestarikan sebagai sebuah contoh teologi Kristen paling awal. Topik-topik penting yang diuraikan dalam surat-surat tersebut mencakup eklesiologi, sakramen-sakramen, dan peranan para uskup.

Hari peringatan Ignatius adalah 20 Desember dalam Kristianitas Bizantium, dan 17 Oktober dalam Kristianitas Barat dan Suriah,[2] atau 1 Februari bagi mereka yang mengikuti Kalender Romawi Umum 1962.

Riwayat hidup

St. Ignatius adalah Uskup Antiokhia sesudah Santo Petrus dan St. Evodius (yang wafat sekitar tahun 67 Masehi). Eusebius[3] mencatat bahwa St. Ignatius menggantikan St. Evodius. Suksesi Apostolik Ignatius bahkan lebih langsung lagi, karena Theodoret (Dial. Immutab., I, iv, 33a) mencatat bahwa Pertus sendiri yang menunjuk Ignatius untuk menduduki tahta Antiokhia.

Selain nama Latinnya, Ignatius, dia juga menyebut dirinya Teoforus ("Pemanggul Tuhan"), dan menurut tradisi dia adalah salah satu dari anak-anak yang digendong dan diberkati Yesus. St. Ignatius mungkin adalah murid dari Rasul Yohanes.[4]

St. Ignatius adalah salah satu dari para Bapa Apostolik (kelompok otoritatif terawal dari para Bapa Gereja). Dia mendasarkan otoritasnya pada statusnya sebagai seorang uskup Gereja, menjalani hidupnya dengan meneladani Kristus.

Kesyahidan

Surat-surat yang dikaitkan dengan St. Ignatius memberikan keterangan mengenai penangkapannya oleh penguasa dan perjalanannya ke Roma:

dari Suriah bahkan sampai Roma aku bertempur dengan binatang-binatang buas, di darat dan laut, di malam dan siang hari, terbelenggu di tengah-tengah sepuluh ekor macan tutul, bahkan sekompi serdadu, yang hanya bertambah parah bilamana diperlakukan dengan baik. —Ignatius kepada jemaat di Roma, 5.

Sepanjang perjalanan dia menulis enam pucuk surat kepada Gereja-Gereja di kawasan itu dan sepucuk surat kepada seorang rekan uskup.

Dia menjalani hukuman mati di Colosseum, diumpankan kepada singa.
Dalam Kronik, Eusebius menulis bahwa Ignatiaus wafat pada tahun 2124 sesudah Adam, setara dengan tahun ke-11 pemerintahan Kaisar Traianus, yakni tahun 108 Masehi.[5] Jenazahnya kini terbaring dalam makam di bawah Basilika Santo Petrus di Roma.

Surat-surat

Tujuh surat yang dianggap otentik:

Surat-Surat Pseudo-Ignatius

Epistolae (surat-surat) di bawah ini dikaitkan dengan Ignatius, namun identitas penulisnya diragukan:[6]
  • Surat kepada jemaat di Tarsus
  • Surat kepada jemaat di Antiokhia
  • Surat kepada Hero, seorang diakon jemaat Antiokhia
  • Surat kepada jemaat di Filipi
  • Surat dari Maria si proselit (orang yang takut akan Tuhan) kepada Ignatius
  • Surat kepada Maria di Neapolis, Zarbus
  • Surat pertama kepada St. Yohanes
  • Surat kedua kepada St. Yohanes
  • Surat Ignatius kepada Perawan Maria
  • Surat balasan dari Perawan Maria kepada Ignatius

Referensi

  1. ^ Lihat "Ignatius" di The Westminster Dictionary of Church History, ed. Jerald Brauer (Philadelphia:Westminster, 1971) dan juga David Hugh Farmer, "Ignatius of Antioch" di The Oxford Dictionary of the Saints (New York: Oxford University Press, 1987).
  2. ^ Calendarium Romanum (Kota Vatikan, 1969).
  3. ^ Historia Ecclesiastica, II.iii.22.
  4. ^ Kemartiran Ignatius
  5. ^ Dati terjemahan Latin Hieronimus, Kronik, hal. 276.
  6. ^ newadvent.org: Surat-surat yang diragukan dari St. Ignatius dari Antiokhia

Pranala luar

Didahului oleh:
Evodius
Patriark Antiokhia
68 — 107
Digantikan oleh:
Santo Herodion

Selasa, 26 Oktober 2010

Irenaeus


Ireneus, uskup Lugdunum di Galatia (sekarang Lyons, Perancis) yang memerangi ajaran-ajaran sesat.
Ireneus atau Irenæus130-202M) adalah Uskup Lugdunum, Galatia, (sekarang Lyon/Lyons, Perancis).[1][2]

Tidak banyak yang diketahui tentang Ireneus. Mungkin ia dilahirkan di Asia Kecil lebih kurang pada tahun 125. Perdagangan yang lancar antara Asia Kecil dan Gaul/Gallia (Perancis) memberi peluang bagi orang-orang Kristen untuk membawa agamanya ke Perancis, tempat mereka mendirikan sebuah gereja yang mapan di kota Lyons.

Sebagai imam di Lyons, Ireneus hidup sesuai namanya, yang artinya 'damai', dengan berkunjung ke Roma untuk meminta kepada uskup kelonggaran bagi kaum Montanis di Asia Kecil. Ketika itulah pembantaian orang-orang Kristen sedang marak di Lyons, dan dalam peristiwa ini uskup Lyons terbunuh.
Ireneus diangkat menjadi uskup untuk menggantikan uskup yang terbunuh. Ketika itu terdapat banyak orang yang telah menganut Gnostisisme di Perancis. Penyebaran aliran ini sangat pesat karena kaum Gnostis (gnosis dalam bahasa Yunani artinya "pengetahuan") menggunakan istilah orang-orang Kristen — meskipun mereka memberikan interpretasi yang berbeda secara radikal.

Ireneus pun mempelajari bentuk-bentuk ajaran Gnostik. Meskipun sangat berbeda dengan Kristen, secara umum mereka mengajarkan bahwa dunia fana ini jahat; bahwa dunia ini diciptakan dan diperintah oleh kuasa malaikat, bukan Tuhan; bahwa Tuhan berada jauh dan tidak ada hubungannya dengan dunia ini; bahwa keselamatan dapat diraih dengan mempelajari ajaran-ajaran rahasia khusus; bahwa kaum Gnostik itulah orang-orang rohani (bahasa Yunani: pneumatikoi) yang lebih unggul daripada orang-orang Kristen (bahasa Yunani: psychikoi) biasa. Para guru aliran Gnostik sangat mendukung pendapat ini dengan Injil Gnostiknya – buku yang biasanya membawa-bawa nama para rasul dan menggambarkan Yesus yang mengajarkan doktrin-doktrin Gnostik.

Setelah uskup Lyons itu mempelajari ajaran sesat itu, ia menulis "Melawan Ajaran Sesat", suatu karya besar yang membeberkan kebodohan "ajaran yang secara keliru disebut Gnostik" tersebut. Dengan menyitir gambaran dari Perjanjian Lama dan Baru. Dengan menyitir gambaran dari Perjanjian Lama dan Baru, ia membuktikan bahwa dunia diciptakan Allah yang penuh cinta kasih, yang kemudian ternoda oleh dosa-dosa manusia. Adam, manusia pertama yang tak berdosa, menjadi orang yang berdosa karena menyerah pada godaan. Tetapi kejatuhannya telah ditanggulangi oleh karya manusia tak berdosa yang kedua, yaitu Kristus, Adam baru / Adam kedua. Tubuh sebenarnya tidaklah jahat; pada hari penghakiman, tubuh dan jiwa orang-orang percaya akan diangkat, mereka akan tinggal bersama-sama Allah untuk selamanya.
Ireneus paham bahwa ajaran Gnostik memikat kecenderungan manusiawi yang ingin mengetahui hal-hal rahasia yang belum diketahui orang lain. Tentang orang-orang Gnostik ia menulis, "Segera setelah seseorang dimenangkan, orang tersebut menjadi sombong dan merasa dirinya begitu penting, ia pun berjalan mengangkat dada dengan gaya seekor ayam jantan." Tetapi orang-orang Kristen seharusnya menerima anugerah Allah dengan rendah hati, dan tidak mengandalkan kegiatan-kegiatan intelektualnya yang akan membuat ia sombong.

Sepanjang hidupnya, Ireneus dengan gembira mengenang perkenalannya dengan Polikarpus, yang pernah akrab dengan Rasul Yohanes. Jadi, tidaklah mengherankan bahwa ia berpegang pada keabsahan para rasul ketika ia menolak paham Gnostik. Sang uskup menegaskan bahwa para rasul mengajar di tempat-tempat umum dan tidak ada satu pun yang dirahasiakan. Di seluruh kekaisaran, gereja-gereja berpegang pada ajaran-ajaran yang hanya disampaikan para rasul Kristus, dan hanya inilah satu-satunya dasar keyakinan. Ireneus menyatakan bahwa para uskup yang merupakan pelindung iman Kristen adalah penerus para rasul. Dengan demikian, ia telah mengangkat martabat para uskup. Dalam bukunya "Melawan Ajaran Sesat", Ireneus menetapkan standar bagi teologi gereja. Semua kebenaran yang kita butuhkan sudah tercantum dalam Alkitab. Ia juga membuktikan bahwa dirinya adalah seorang teolog terbesar semenjak Rasul Paulus. Argumentasinya yang tersebar luas merupakan pukulan besar bagi aliran Gnostik pada masanya.

Ia diakui sebagai Santo baik oleh Gereja Ortodoks Timur maupun Gereja Katolik Roma. Gereja Katolik Roma bahkan menganggap Ireneus sebagai salah satu Bapa Gereja. Ireneus adalah murid dari Polikarpus, yang merupakan murid dari Yohanes, salah satu murid dari Yesus sendiri. Tanggal peringatan Ireneus adalah 28 Juni.

Referensi

  1. ^ A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang & Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Immanuel, 1999.
  2. ^ Lane,Tonny. 2005. Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta:BPK Gunung Mulia. ISBN 979-9290-92-9. Hal. 9-10.

Senin, 25 Oktober 2010

Polycarp


Polikarpus, uskup tua dari Smyrna yang setia hingga akhir hayatnya di tiang bakar.
Polikarpus dari Smirna (mati syahid pada sekitar usia 87 tahun, sekitar 155–167 Masehi) adalah uskup Gereja di Smirna (sekarang di daerah Izmir di Turki) pada abad kedua. Ia ditikam dan mati sebagai syahid setelah usaha untuk membakarnya hidup-hidup pada tiang pancang gagal. Polikarpus dikenal sebagai seorang santo oleh Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur.

Menurut kisah, Polikarpus adalah murid langsung dari Yohanes. Yohanes yang dimaksud bisa merujuk pada Yohanes anak Zebedeus yang menurut tradisi merupakan penulis Injil Yohanes, atau Yohanes Sang Presbiter[1]. Eusebius berkeras bahwa koneksi apostolik dari Papius adalah dengan Yohanes Sang Penginjil yang merupakan penulis Injil keempat. Jika demikian, mungkin ialah orang terakhir yang berhubungan dengan gereja para rasul. Polikarpus tidak mengutip Injil Yohanes dalam surat-suratnya yang masih dapat ditemukan. Hal itu menjadi sebuah indikasi bahwa Yohanes yang ia kenal bukanlah penulis Injil keempat, atau bisa jadi juga merupakan suatu indikasi bahwa Injil Yohanes belum diselesaikan selama Polikarpus berguru kepada Yohanes.

Kira-kira empat puluh tahun sebelumnya, ketika Polikarpus memulai pelayanannya sebagai uskup, Bapa Gereja Ignatius telah menulis surat khusus untuknya. Polikarpus sendiri telah menulis suratnya untuk orang-orang Filipi. Meskipun surat tersebut tidak begitu cemerlang ataupun merupakan pendapatnya sendiri, namun mengandung unsur-unsur kebenaran yang ia pelajari dari para gurunya. Polikarpus tidak mengulas Perjanjian Lama, seperti orang-orang Kristen yang muncul kemudian, tetapi ia menyitir para rasul dan pemuka gereja lainnya untuk meyakinkan orang-orang Filipi.

Kira-kira satu tahun sebelum kemartirannya, Polikarpus berkunjung ke Roma untuk menyelesaikan perbedaan pendapat tentang tanggal Hari Raya Paskah dengan uskup Roma. Ada cerita yang mengisahkan bahwa ia terlibat dalam perdebatan dengan Marcion, yang ia juluki "Anak sulung setan". Ajaran-ajaran para rasul yang ditampilkannya telah membuat beberapa pengikut Marcion bertobat.

Polikarpus dan Papias

Polikarpus adalah sahabat dari Papias (Irenaeus V.xxxii) yang termasuk "Pendengar Yohanes" yang lain, seperti yang Ireneus interpretasikan dari kesaksian Papias dan sebuah surat Ignatius dari Antiokhia. Ignatius mengirimkan surat kepadanya dan menyebutkan dia pada surat kepada jemaat Efesus dan Magnesia. Murid Polikarpus yang paling dikenal adalah Ireneus, yang kepadanya ingatan-ingatan Polikarpus diwariskan dan menjadi mata rantai yang menghubungkannya dengan rasul-rasul terdahulu.

Ireneus menceritakan bagimana dan kapan ia menjadi seorang Kristen. Ia menyatakan pada bagian awal suratnya kepada Florinus bahwa ia bertemu dan mendengarkan Polikarpus secara pribadi di Asia Kecil. Pada keterangan-keterangan selanjutnya, ia mencatat hubungan Polikarpus dengan Yohanes Sang Penginjil dan dengan orang-orang lain yang telah bertemu Yesus. Ireneus juga melaporkan bahwa Polikarpus dikristenkan oleh para rasul sendiri, ditahbiskan menjadi seorang uskup, dan berkomunikasi dengan banyak orang yang telah bertemu dengan Yesus.

Menjelang mati syahidnya Polikarpus, ia memberitahukan sendiri usia ketika ia mati dengan mengucapkan kalimat, "Delapan puluh enam tahun aku telah melayani Dia", yang kemudian dimengerti bahwa ia telah berusia 86 tahun pada saat itu dan telah dibaptiskan ketika masih bayi. [1].

Kunjungan ke Anisetus, Uskup Roma

Polikarpus mengunjungi Roma saat sahabatnya Syria-nya yang bernama Anisetus menjadi uskup Gereja Roma pada sekitar tahun 150 atau 160-an Masehi. Mereka berdua merayakan perayaan Paskah Kristen secara berbeda. Polikarpus mengikuti praktek Timur dalam merayakan Paskah, yaitu pada tanggal 14 bulan Nisan, yang bertepatan dengan Paskah Yahudi, tanpa memperhatikan pada hari apa Paskah itu jatuh.

Tulisan-tulisan dan catatan-catatan awalnya

Seluruh karyanya yang tersisa adalah suratnya kepada jemaat Filipi, yang merupakan kepingan keterangan kepada Perjanjian Baru. Surat itu dan sebuah catatan Polikarpus mengenai mati syahidnya (Martyrdom of Polycarp) ditemukan sebagai surat berantai dari Gereja Smirna kepada Gereja-gereja Pontus. Surat-surat tersebut membentuk kumpulan tulisan-tulisan dari “Bapa Gereja Apostolik” (suatu istilah untuk menegaskan kedekatan mereka dengan para Rasul dalam tradisi Gereja).

Mati syahid diyakini sebagai daftar catatan asli para syahid Kristen yang ditulis paling awal, dan juga merupakan salah satu dari sedikit catatan asli dari tahun-tahun penganiayaan Kristen.

Akhir hidupnya

Karena orang-orang Kristen menolak menyembah kaisar dan dewa-dewa Romawi, tetapi memuja Kristus secara sembunyi-sembunyi di rumah masing-masing, mereka dianggap orang kafir. Orang-orang Smyrna memburu orang-orang Kristen dengan pekikan, "Enyahkan orang-orang kafir."

Polikarpus, uskup yang disegani di kota itu, diburu oleh prajurit Smyrna. Para prajurit itu sudah mengirim orang-orang Kristen lainnya untuk dibunuh di arena, kini mereka menghendaki sang pemimpin. Polikarpus telah meninggalkan kota itu dan bersembunyi di sebuah ladang milik teman-temannya. Bila pasukan mulai menyergap, ia pun melarikan diri ke ladang lain. Meskipun hamba Tuhan ini tidak takut mati, dan memilih berdiam di kota, teman-temannya mendorongnya bersembunyi. Mungkin karena mereka takut kalau-kalau kematiannya akan mempengaruhi ketegaran gereja.

Ketika polisi mendatangi ladang pertama, mereka menyiksa seorang budak untuk mencari tahu tentang Polikarpus. Kemudian mereka menyerbu dengan senjata lengkap untuk menangkap uskup itu. Meskipun ada kesempatan lari, Polikarpus memilih tinggal di tempat, dengan tekad, "Kehendak Allah pasti terjadi." Di luar dugaan, ia menerima mereka seperti tamu, memberi mereka makan dan meminta izin selama satu jam untuk berdoa. Ia berdoa dua jam lamanya.

Beberapa penangkap merasa sedih menangkap orang tua yang hegitu baik. Dalam perjalanannya kembali ke Smyrna, kepala prajurit yang memimpin pasukan itu berkata, "Apa salahnya menyebut Tuhan Kaisar dan mempersembahkan bakaran kemenyan?"

Dengan tenang Polikarpus mengatakan bahwa ia tidak akan melakukannya.

Gubernur Romawi yang mengadilinya berusaha mencarikan jalan keluar untuk membebaskan uskup tua itu. "Hormatilah usiamu, Pak Tua," seru gubernur Romawi itu. "Bersumpahlah demi berkat Kaisar. Ubahlah pendirianmu serta berserulah, "Enyahkan orang-orang kafir!" "

Sebenarnya, gubernur Romawi itu ingin Polikarpus menyelamatkan dirinya sendiri dengan melepaskan dirinya dari orang-orang Kristen yang dianggap "kafir" itu. Namun, Polikarpus hanya memandang kerumunan orang yang sedang mencemohkannya. Sambil mengisyaratkan ke arah mereka, ia berseru, "Enyahkan orang-orang kafir!"

Gubernur Romawi itu berusaha lagi: "Angkatlah sumpah dan saya akan membebaskanmu. Hujatlah Kristus!"
Polikarpus pun berdiri dengan tegar. Ia mengatakan kalimat terakhirnya yang terkenal, "Selama delapan puluh enam tahun aku telah mengabdi kepada Kristus dan Ia tidak pernah menyakitiku. Bagaimana aku dapat mencaci Raja [Kristus] yang telah menyelamatkanku?"

Pertukaran pendapat antara sang uskup dan gubernur Romawi berlanjut. Pada suatu saat, Polikarpus menghardik lawan bicaranya: "Jika kamu... berpura-pura tidak mengenal saya, dengarlah baik-baik: Saya adalah seorang Kristen. Jika Anda ingin mengetahui ajaran Kristen, luangkanlah satu hari khusus untuk mendengarkan saya."

Gubernur Romawi itu pun mengancam akan melemparkan dia ke binatang-binatang buas. "Panggil binatang-binatang itu!" seru Polikarpus. "Jika hal itu akan mengubah keadaan buruk menjadi baik, tetapi bukan keadaan yang lebih baik menjadi lebih buruk."

Ketika ia diancam akan dibakar, Polikarpus menjawab, "Apimu akan membakar hanya satu jam lamanya, kemudian akan padam, namun api penghakiman yang akan datang adalah abadi."

Akhirnya Polikarpus dinyatakan sebagai orang yang tidak akan menarik kembali pernyataan-pernyataannya. Rakyat Smyrna pun berteriak: "Inilah guru dari Asia, bapa orang-orang Kristen, pemusnah dewa-dewa kita, yang mengajar orang-orang untuk tidak menyembah (dewa-dewa) dan mempersembahkan korban sembelihan."

Gubernur Romawi menitahkan agar ia dibakar hidup-hidup. la diikat pada sebuah tiang dan dibakar. Namun, menurut seorang saksi mata, badannya tidak termakan api. "la berada di tengah, tidak seperti daging yang terbakar, tetapi seperti roti di tempat pemanggangan, atau seperti emas atau perak dimurnikan di atas tungku perapian. Kami mencium aroma yang harus, seperti wangi kemenyan atau rempah mahal." Ketika seorang algojo menikamnya, darah yang mengalir memadamkan api itu.

Kisah ini tersebar ke jemaat-jemaat di seluruh kekaisaran. Gereja menyimpan laporan-laporan semacam itu dan mulai memperingati hari-hari kelahiran serta kematian para martir. Bahkan mereka juga mengumpulkan tulang-tulangnya serta peninggalan lainnya.

Tanggal kematian Polikarpus diperdebatkan. Eusebius mencatat kematiannya pada masa pemerintahan Marcus Aurelius, 166–167 Masehi. Namun, sebuah catatan yang ditambahkan setelah masa Eusebius menuliskan kematian Polikarpus pada Sabtu, 23 Februari pada masa pemerintahan konsul Statius Quadratus yang berkuasa pada 155 atau 156 Masehi. Tanggal yang ditulis sebelumnya lebih cocok kepada tradisi yang memberitahukan hubungan Polikarpus dengan Ignatius dan Yohanes Sang Penginjil. Setiap tanggal 23 Februari, diperingati hari "kelahiran Polikarpus" masuk ke surga.

Sabat Agung

Karena surat jemaat Smirna yang dikenal sebagai mati syahidnya Polikarpus menyatakan bahwa Polikarpus dibunuh pada Sabat Agung, beberapa pihak berpendapat bahwa tulisan tersebut adalah bukti bahwa Gereja Smirna yang dipimpin oleh Polikarpus menjalankan ibadah Sabat pada hari ketujuh (Sabtu).

Pihak yang lain mengatakan bahwa Sabat Agung yang dimaksudkan merujuk kepada Paskah Kristen atau hari-hari besar yang lain. Jika hal tersebut benar, maka kematian Polikarpus terjadi antara satu dan dua bulan setelah tanggal 14 bulan Nisan (tanggal saat Polikarpus merayakan Paskah) yang tidak mungkin terjadi sebelum akhir bulan Maret. Sabat Agung yang lain (jika ingin merujuk kepada hari-hari besar Yahudi) dirayakan pada musim semi, akhir musim panas, atau musim gugur. Tidak ada perayaan pada musim dingin.

Peranannya

Polikarpus memegang peranan penting dalam sejarah Gereja Kristen. Dia termasuk di antara orang-orang Kristen perdana yang tulisan-tulisannya masih tersisa. Dia adalah uskup dari sebuah Gereja penting di tempat di mana para rasul bekerja. Dan dia hidup pada masa di mana ortodoksi (nilai-nilai tradisi, ajaran, dan kebiasaan turun-temurun) diterima secara luas oleh Gereja-Gereja Ortodoks, Gereja-Gereja Timur, kelompok-kelompok yang masih menjalankan Sabat pada hari ketujuh, dan kelompok-kelompok yang mirip dengan Protestan dan Katolik.

Polikarpus bukanlah seorang filsuf atau teolog. Dari catatan-catatan yang tersisa, ia muncul sebagai pemimpin ibadah dan guru yang berbakat. “Seorang dengan kelas yang lebih tinggi, dan saksi kebenaran yang tabah daripada Valentinus, dan Marsion, dan bidat-bidat yang lain”, kata Ireneus yang mengingatnya sejak masa mudanya. (Adversus Haereses III.3.4).

Ia hidup pada masa setelah wafat para rasul, ketika bermacam-macam interpretasi ajaran Yesus diajarkan. Peranannya adalah dengan menegaskan ajaran asli yang didapatkannya dari Rasul Yohanes. Catatan yang tersisa menunjukkan keberanian di wajah Polikarpus tua saat menghadapi kematian dengan dibakar pada tiang pancang menunjukkan betapa bisa dipercayanya perkataan-perkataan Polikarpus.

Kematian syahid Polikarpus sangat penting untuk memahami posisi Gereja ketika Kekaisaran Romawi masih menganut agama kafir. Ketika penganiayaan masih didukung oleh jenderal-jenderal konsul lokal, berbagai penulis mencatat betapa haus darahnya orang-orang yang meneriakkan kematian bagi Polikarpus (bab 3). Catatan-catatan tersebut juga menunjukkan kebencian tak mendasar pemerintah Romawi terhadap kekristenan, ketika orang-orang Kristen diberikan kesempatan untuk tidak dihukum jika mau mengingkari imannya dan mengaku bahwa menjadi seorang Kristen berarti telah melakukan tindakan kriminal. Sistem pengadilan yang ganjil ini di kemudian hari dicemooh oleh Tertullianus (orang yang pertama kali memperkenalkan ajaran Trinitas) dalam buku Pembelaan (Apologi)-nya.

Polikarpus adalah seorang penyebar dan pemurni wahyu Kristen yang hebat pada masa Injil dan surat-surat mulai diterima secara luas. Meskipun kunjungannya ke Roma untuk bertemu uskup Roma digunakan pihak Gereja Katolik Roma untuk memperkuat klaim keutamaan Roma (sistem kepausan), namun sumber-sumber Katolik menyatakan bahwa Polikarpus tidak menerima kuasa dari uskup Roma untuk mengganti hari Paskah (bahkan, Polikarpus dan Anicetus uskup Roma setuju untuk tidak setuju. Keduanya percaya bahwa praktek Paskah mereka sesuai dengan tradisi Rasuli) –- Penerus spiritual Polikarpus seperti Melito dari Sardis dan Polikrates dari Efesus sependapat dengan hal yang sama.

Ada empat sumber utama mengenai Polikarpus :
  1. Surat otentik Ignatius dari Antiokhia, yang salah satunya ditujukan kepada Polikarpus.
  2. Surat Polikarpus kepada Gereja Filipi
  3. Bagian-bagian dalam Adversus Haeresis karya Ireneus
  4. Dan surat dari jemaat Smirna yang menceritakan kematian syahid Polikarpus

Referensi

  1. Catatan So Andrew Louth's dalam the Martyrdom "Early Christian Writings" terbitan Penguin Classics.
  2. Encyclopaedia Britannica, edisi 1958, vol. 18, hal 178-180
  3. Kirsopp Lake 1912. The Apostolic Fathers, vol. I, hal. 280-282
  4. Henry Wace, Dictionary of Christian Biography and Literature to the End of the Sixth Century A.D., with an Account of the Principal Sects and Heresies: "Polycarpus, bishop of Smirna"
  5. A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang & Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Immanuel, 1999. Dapat dibaca di sini

Pranala luar

  1. Letter to the Phillipians from the Ante-Nicene Fathers
  2. Corrected Translation of Polycarp's Letter to the Philippians. Tulisan ini mengoreksi penghapusan kata bahasa Latin yang secara tak disengaja dihapus oleh Roberts dan Donaldson.
  3. Early Christian Writings: Polycarp; text and introductions
  4. N. Tobin, "The Apostolic Succession: Polycarp and Clement": A skeptical assessment finds inconsistencies in the tradition as reported in this article.
  5. Location of the Early Church: Another Look at Rome, Ephesus & Smirna This documented article explains some of the reasons why the history of the orthodox Church in the second century should be traced through John and Polycarp.
  6. account of his death in the letter of the Smyraeans.
  7. The Catholic Encyclopedia: "Polycarp"

Referensi

  1. ^ (Lake 1912)

Minggu, 24 Oktober 2010

Pengakuan Iman Nicea

Pengakuan Iman Nicea merupakan hasil dari konsili pertama gereja-gereja yang diadakan di Nicea pada 325 AD. Dalam konsili ini, hal utama yang dipermasalahkan adalah ajaran dari seorang pemimpin gereja Alexandria di Mesir bernama Arius. Ia mengajarkan bahwa Yesus bukanlah Allah, melainkan termasuk dalam bilangan ciptaan Allah, meskipun sebagai ciptaan yang utama dan pertama. Yesus hanyalah mirip, atau menyerupai Allah, namun bukan Allah.

Konsili Nicea menolak ajaran Airus dan menganggapnya sebagai bidat. Sebaliknya, para pimpinan gereja yang hadir dalam konsili tersebut menegaskan kebenaran Alkitab bahwa Yesus Kristus adalah Allah, sehakekat dengan Allah Bapa. Konsili tersebut mensistematiskan atau meringkaskan pemahamannya dalam Pengakuan Iman Nicea sebagai berikut: 

Aku percaya kepada Allah yang Esa, Bapa yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, serta segala sesuatu yang nampak maupun tak nampak.

Dan kepada satu Tuhan Yesus Kristus, Anak Tunggal Allah, dilahirkan dari Bapa sebelum segala ciptaan; Allah dari allah, Terang dari terang, Allah sejati; dilahirkan, bukan diciptakan, sehakekat dengan Bapa, dan dari pada-Nya segala sesuatu diciptakan.

Yang bagi kita umat tebusan-Nya, turun dari surga, dan berinkarnasi dengan pimpinan Allah Roh Kudus melalui anak dara Maria, dan menjadi serupa dengan manusia; disalibkan bagi kita pada masa Pontius Pilatus; menderita dan dikuburkan; dan pada hari yang ketiga bangkit kembali, sesuai yang dinubuatkan dalam Alkitab; naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa; dan Ia akan datang lagi, penuh kemuliaan, untuk menghakimi yang hidup dan yang mati; dan Kerajaan-Nya akan kekal selamanya.

Aku percaya kepada Roh Kudus, Tuhan dan Sumber Kehidupan; keluar dari Allah Bapa dan Allah Anak. Bersama-sama dengan Allah Bapa dan Anak disembah dan dimuliakan.

Aku percaya kepada gereja rasuli yang kudus, esa, dan am. Aku percaya kepada baptisan sebagai tanda penebusan dosa, dan aku menantikan kebangkitan orang mati, dan hidup yang kekal sesudah kematian. AMIN.
 

Sabtu, 23 Oktober 2010

Pengakuan Iman Athanasius

Pengakuan iman ini diperkirakan ditulis pada akhir abad ke lima atau permulaan abad ke enam. Tidak diketahui dengan pasti siapa penulis pengakuan iman ini. Diberi nama Athanasius sangat mungkin karena isi pengakuan iman ini mencerminkan ajaran seorang bapak Gereja bernama Athanasius (296-373), yaitu Bishop di Alexandria, yang sangat menekankan pada Ketritunggalan Allah dan Keilahian Yesus Kristus. Dalam konsili di Nicea (325), Athanasius merupakan lawan yang mematahkan argumentasi Arius (lihat pengakuan iman Nicea). Itulah sebabnya jikalau kita amati isi pengakuan iman Athanasius, secara garis besar terbagi ke dalam dua garis besar, yaitu bagian pertama yang merupakan kesimpulan mendasar tentang doktrin Tritunggal, dan bagian kedua tentang dua sifat Yesus Kristus. Barangkali ini adalah pengakuan iman yang paling keras karena dalam pernyataan terakhirnya dikatakan bahwa orang yang tidak memiliki iman seperti yang tertuang dalam pengakuan iman Athanasius, sama saja dengan tidak diselamatkan!

Berikut isi Pengakuan Iman Athanasius:

1. Barangsiapa hendak diselamatkan, maka ia harus memiliki iman yang am;

2. Yaitu iman yang jikakalau tidak dijaga kemurniaannya, pastilah orang tersebut binasa.

3. Dan iman yang am itu adalah ini: bahwa kita menyembah Allah yang Esa di dalam Ketigaan, dan Ketigaan di dalam Keesaan;

4. Tanpa percampuran pribadi maupun pemisahan substansi.

5. Karena hanya ada satu pribadi Bapa, satu Anak, dan satu Roh Kudus.

6. Tetapi Keilahian Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah esa, demikian pula kemuliaan dan keagungannya.

7. Sebagaimana Bapa, demikian pula Anak, dan demikian pula Roh Kudus.

8. Bapa tidak dicipta, Anak tidak dicipta, dan Roh Kudus tidak dicipta.

9. Bapa tak dapat dipahami, Anak tak dapat dipahami, dan Roh Kudus tak dapat dipahami.

10. Bapa kekal, Anak kekal, dan Roh Kudus kekal.

11. Akan tetapi bukan tiga yang kekal, melainkan yang kekal itu esa.

12. Demikian pula bukan tiga yang tak diciptakan atau tak dapat dipahami, melainkan esa yang tak diciptakan dan esa pula yang tak dapat dipahami.

13. Karena itu, demikian pula Bapa Mahakuasa, Anak Mahakuasa, dan Roh Kudus Mahakuasa.

14. Akan tetapi bukan tiga yang Mahakuasa, melainkan esa.

15. Juga Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah;

16. Namun bukan tiga Allah, melainkan Allah yang Esa.

17. Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan;

18. Namun bukan tiga Tuhan, melainkan Tuhan yang esa.

19. Karena itu sebagaimana kita diwajibkan untuk mengakui ketiga Pribadi pada diri-Nya sendiri sebagai Allah dan Tuhan;

20. Demikian pula kita dilarang untuk mengatakan bahwa ada tiga Allah atau tiga Tuhan.

21. Allah Bapa tidak dibuat, tidak diciptakan, dan tidak dilahirkan.

22. Allah Anak adalah dari Allah Bapa saja; tidak dibuat, tidak diciptakan, tetapi dilahirkan.

23. Allah Roh Kudus adalah dari Bapa dan Anak; tidak dibuat, tidak diciptakan, tidak dilahirkan, melainkan "keluar dari."

24. Maka hanya ada satu Bapa, bukan tiga Bapa; satu Anak, bukan tiga Anak; satu Roh Kudus, bukan tiga Roh Kudus.

25. Dan di dalam Ketigaan tersebut, tidak ada yang lebih dulu atau sebelum .

26. Melainkan ketiga Pribadi itu sama kekal dan sama esensinya.

27. Sebab itu di dalam segala sesuatu, seperti yang telah dikatakan sebelumnya, Keesaan dalam ketigaan dan Ketigaan dalam Keesaan harus disembah.

28. Karena itu setiap orang yang mau diselamatkan harus mempercayai Tritunggal.

29. Lebih lanjut, penting bagi keselamatan adalah iman kepada inkarnasi Tuhan kita Yesus Kristus.

30. Iman yang benar berarti kita percaya dan mengakui bahwa Tuhan kita Yesus Kristus, Anak Allah, adalah Allah dan manusia;

31. Dalam Keallahan-Nya sehakekat dengan Bapa, dilahirkan dalam kekekalan; dan dalam kemanusiaan-Nya sama dengan semua orang di dunia;

32. Allah sepenuhnya dan manusia sepenuhnya, baik jiwa maupun tubuh.

33. Sejajar dengan Bapa dalam Keilahian-Nya, dan lebih rendah daripada Bapa di dalam kemanusiaan-Nya;

34. Yang walaupun Ia adalah Allah dan manusia, namun Ia bukan dua, melainkan satu Kristus;

35. Satu, bukan karena berubah dari Allah menjadi bersifat daging, melainkan karena mengenakan rupa manusia pada Keilahian-Nya;

36. Satu secara bersama-sama, bukan oleh percampuran substansi, melainkan kesatuan dalam pribadi.

37. Karena sebagaimana satu tubuh dan jiwa adalah satu orang, demikian pula Allah dan manusia adalah satu Kristus;

38. Yang telah menderita untuk keselamatan kita, turun ke dalam kerajaan maut, bangkit pula pada hari ketiga dari kematian;

39. Ia naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa;

40. Dari sana Ia akan datang untuk menghakimi yang hidup dan yang mati.

41. Yang mana pada saat kedatangan-Nya yang kedua, semua orang akan hidup dengan tubuh yang baru;

42. Dan semua orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

43. Dan mereka yang telah melakukan kehendak-Nya akan memperoleh hidup yang kekal, sedangkan mereka yang melakukan kejahatan akan masuk ke dalam api yang kekal.

44. Inilah iman yang am; tanpa orang memiliki iman ini dengan setia, ia tidak akan dapat diselamatkan.