Selasa, 30 November 2010

Yustinus Martir


Yustinus Martir, pembela kepercayaan Kristen yang mati syahid
Flavius Yustinus (juga disebut Yustinus dari Kaisarea atau Yustinus sang filsuf, 103-165) adalah salah seorang penulis Kristen paling terkenal lewat karyanya Liber Apologeticus - "Apologi Pertama". Pada akhir hayatnya ia menjadi martir sehingga namanya disebut sebagai Yustinus Martir.[1][2]

Sejak awal, gereja berperan di dua dunia yang berbeda, dunia orang Yahudi dan dunia non-Yahudi. Kisah Para Rasul menggambarkan lambannya dan kadang-kadang sakitnya perkembangan kekristenan di kalangan orang-orang bukan Yahudi. Petrus dan Stefanus mengadakan pekabaran Injil kepada orang-orang Yahudi, sedangkan Paulus kepada filsuf-filsuf Athena dan para penguasa Romawi.

Dalam banyak hal, kehidupan Yustinus mirip dengan kehidupan Paulus. Rasul ini adalah orang Yahudi yang lahir di daerah bukan Yahudi (Tarsus), sedangkan Yustinus adalah orang bukan Yahudi yang lahir di daerah Yahudi (Sikhem kuno). Keduanya terpelajar dan tangguh berargumentasi untuk meyakinkan orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi akan kebenaran Kristus. Keduanya mati syahid di Roma karena keyakinan mereka.

Menjelang pertengahan abad kedua, di bawah pemerintahan yang adil oleh para kaisar seperti Trajanus, Antoninus Pius dan Marcus Aurelius, gereja mulai membuka diri pada dunia luar untuk meyakinkan keberadaannya. Yustinus menjadi salah seorang apologist (orang yang mempertahankan pendiriannya dalam argumentasi) Kristen pertama, yang menjelaskan imannya sebagai sistem yang masuk akal. Bersama-sama penulis lain, seperti Origenes dan Tertulianus, ia menafsirkan kekristenan dalam istilah-istilah yang mudah dikenal orang-orang Yunani dan Romawi terpelajar pada masa itu.

Karya tulis Yustinus, "Apologi Pertama", ditujukan pada Kaisar Antoninus Pius (dalam bahasa Yunani berjudul Apologia, yaitu suatu kata yang mengacu pada logika yang menjadi dasar kepercayaan seseorang).
Seperti Paulus, Yustinus tidak meninggalkan orang-orang Yahudi ketika ia berpaling kepada orang-orang Yunani. Dalam karya besar Yustinus lainnya, "Dialog dengan Tryfo", ia menulis kepada seorang Yahudi kenalannya, bahwa Kristus adalah penggenapan tradisi Ibrani.

Di samping menulis, Yustinus mengadakan perjalanan yang cukup jauh. Dalam perjalanannya ia selalu berargumentasi tentang iman yang diyakininya. Di Efesus, ia bertemu dengan Tryfo. Di Roma, ia bertemu Marcion, pemimpin Gnostik. Pada suatu perjalanannya ke Roma, ia pernah bersikap tidak ramah terhadap seseorang yang bernama Crescens, seorang Cynic. Ketika Yustinus kembali ke Roma pada tahun 165, Crescens mengadukannya kepada penguasa atas tuduhan memfitnah. Yustinus pun ditangkap, disiksa dan akhirnya dipenggal kepalanya bersama-sama enam orang percaya lainnya.

Ia pernah menulis, "Anda dapat membunuh kami, tetapi sesungguhnya tidak dapat mencelakakan kami." Keyakinan ini ia pegang sampai mati. Dengan demikian ia telah meraih nama yang disandangnya sepanjang masa: Yustinus Martir.

Referensi

  1. ^ A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang & Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen, Immanuel, 1999.
  2. ^ Lane,Tonny. 2005. Runtut Pijar Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta:BPK Gunung Mulia. ISBN 979-9290-92-9. Hal. 7-9.

Yustinus Martir, seorang filsuf muda pada abad kedua, mendengarkan dengan baik pidato seorang lain yang berpendidikan baik.

"Orang-orang yang menjadi pengikut orang Nazaret yang mati itu adalah orang-orang bodoh yang percaya pada takhyul," kata si ahli pidato itu. "Yang mereka puja tak lain hanya awan-awan dan pengaruh bintang. Saya kira mereka merupakan ancaman bagi kekaisaran ini."

Orang-orang yang berkumpul di sana dalam bentuk lingkaran itu menganggukkan kepala. Namun Yustinus tidak begitu cepat menyetujui. "Saya tidak begitu yakin akan hal itu," ia memberi komentar. "Mereka sangat tulus. Saya telah mendengar tentang orang-orang Kristen yang mengakui iman mereka walaupun mereka tahu mereka akan dilemparkan ke dalam ketel yang berisi minyak yang mendidih demi keyakinan mereka."
Satu di antara orang-orang itu tertawa terkekeh-kekeh. "Yustinus, kamu tidak akan menjadi orang Kristen, bukan?"

"Saya ingin mengetahui kebenaran," Yustinus menjawab dengan tenang. Sejak masa kanak-kanaknya Yustinus telah mencari-cari. Ia telah mewarisi kekayaan yang cukup besar yang membiayai perjalanannya ke seluruh pelosok kekaisaran Romawi. Ia menjadi seorang wisatawan yang dikenal sepanjang jalan-jalan dagang. Ke mana pun ia pergi untuk mencari pengetahuan dan kebenaran, ia melihat keteguhan iman orang-orang Kristen yang dihina itu.

"Apa yang terpenting dalam hidup ini?" Yustinus bertanya kepada seorang guru yang beraliran Stoa. Orang-orang dari aliran Stoa percaya bahwa dunia merupakan tubuh Allah.
Orang itu menjawab, "Carilah kebajikan."

Seorang pengikut Plato menasihati Yustinus untuk melarikan diri dari dunia dan dengan cara ini ia akan menjadi seperti Allah dengan kembali ke dunia roh semata-mata. Tetapi walau bagaimanapun Yustinus mencoba, ia tak dapat menahan keinginan-keinginan jasmaniahnya.

Ia menerima nasihat dari guru-guru ternama lainnya, tetapi tak seorang pun memberikan jawaban yang memuaskan kepadanya. Ia berulang-ulang bertanya kepada dirinya sendiri, "Di mana arti kehidupan itu? Di manakah Allah, seandainya ada Allah?"

Ia memikirkan lagi tentang orang-orang Kristen yang berani yang diketahuinya itu. Pada saat itu, agama Kristen adalah agama yang tidak sah dalam kekaisaran Romawi itu. Beribu-ribu orang telah mati sebagai martir. Yustinus telah merasa bahwa pasti orang-orang Kristen itu tidak bersalah. Ia merasa bahwa mereka mungkin saja tersesat, tetapi mereka pasti tidak jahat.

Pada suatu hari filsuf yang sedang mencari Tuhan itu pergi berjalan-jalan dalam suatu ladang yang sunyi dekat kota Efesus. Sementara ia berjalan, ia tahu bahwa seorang laki-laki tua mengikutinya di belakang. Tiba-tiba ia membalik dan berhadapan dengan orang asing itu.

"Mengapa Anda menatap saya?" Orang tua itu bertanya.

"Saya merasa heran menemui orang lain di ladang yang sunyi ini, " jawab Yustinus.

"Saya ada di sini untuk mencari seorang anggota keluarga saya. Tetapi mengapa Anda ada di sini?" orang tua itu bertanya dengan sangsi.

"Untuk menguji akal saya."

"Apakah filsafat memberikan kebahagiaan kepada seseorang?"

"Ya," Yustinus menjawab. Tetapi nada suaranya tidak pasti.

"Jelaskan pada saya, orang muda. Apa filsafat dan kebahagiaan itu?" Yustinus memberikan jawaban biasa.

"Filsafat adalah pengetahuan yang lengkap akan realitas dan saya memahami kebenaran dengan jelas. Kebahagiaan adalah upah dari pengetahuan dan kebijaksanaan seperti itu."

"Apakah definisi Anda mengenai Allah?" orang tua itu bertanya.

Sekali lagi Yustinus menggunakan jawaban lancar yang pernah diajarkan kepadanya. Allah itu merupakan sebab yang tidak berubah bagi segala hal lainnya.

"Lalu dapatkah seseorang mengenal Allah tanpa mendengar dari seseorang yang telah melihat-Nya? Bagaimanakah filsuf-filsuf, yang tidak pernah melihat Dia itu, dapat membuat penilaian yang benar?"

Yustinus menjawab dengan mengutip Plato. "Allah hanya dapat dikenal dengan pikiran, dan hanya pada saat pikiran itu murni dan terang."

Orang tua itu tidak terkejut. "Ada guru-guru pada zaman kuno yang berbicara dengan Roh ilahi dan meramalkan masa akan datang. Mereka membuktikan diri dengan ramalan-ramalan dan keajaiban-keajaiban mereka."

Yustinus menatap dengan aneh pada orang tua itu. Ia tidak dapat memberi jawaban.
"Saya harap, anakku, bahwa pintu gerbang cahaya akan terbuka bagi Anda. Hal-hal ini dapat dimengerti hanya oleh orang yang diberi hikmat oleh Allah dan Kristus."

Yustinus tidak pernah bertemu lagi dengan orang asing yang tua itu. Beberapa waktu kemudian ia menyebutkan peristiwa itu dan menulis:

"Dengan segera nyala api berkobar dalam hati saya dan kasih... orang- orang yang menjadi sahabat-sahabat Kristus ini menguasai saya. Menurut pendapat saya filsafat itu sendiri aman dan berfaedah. Lebih-lebih lagi, saya berharap bahwa semua orang... tidak akan menjauhkan diri mereka dari... Juruselamat."

Pada saat ia percaya bahwa agama Kristen adalah satu-satunya filsafat yang benar, Yustinus pergi mengabarkan tentang Kristus kepada filsuf-filsuf lainnya. Setelah ia dibaptiskan, ia menjadi seorang guru yang mengembara. Ia mengunjungi persekutuan-persekutuan Kristen yang pertama di tempat-tempat terkenal seperti Efesus, Iskandaria, dan Roma.

Ia mempergunakan karangannya untuk menantang ahli-ahli kritik dan penganiaya-penganiaya orang-orang Kristen. Pada masa sekarang hampir 1800 tahun kemudian, karangannya yang disebut "Apologies" dianggap sebagai tulisan klasik dalam kesusasteraan Kristen. Yustinus sendiri dianggap sebagai pembela orang-orang Kristen atau agama Kristen yang terbesar.

Tak dapat dielakkan lagi Yustinus harus menentang orang-orang Romawi dan ditangkap karena pengajarannya. Pada tahun 163 dia dan beberapa orang Kristen lainnya dihadapkan ke Rustikus, kepala daerah Roma. Pada saat Yustinus dan sahabat-sahabatnya dengan berani mengakui iman mereka dan menolak untuk memberikan korban kepada dewa-dewa berhala, mereka dipenggal.

Setelah kematiannya, filsuf yang terkemuka itu menjadi terkenal sebagai Yustinus Martir. Teladannya yang sangat baik menjadi inspirasi bagi orang-orang Kristen di kemudian hari yang bersedia mati sebagai martir oleh karena mereka memilih untuk mengikut orang Nazaret yang dianggap hina itu.

Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul artikel : Filsuf yang Mencari Allah
Judul asli buku : How Great Christian Met Christ
Judul buku terjemahan : Bagaimana Tokoh-Tokoh Kristen Bertemu dengan Kristus
Penulis : James C. Hefley
Penerjemah : Junny J. Suliman
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1993
Halaman : 9 -- 12

Senin, 29 November 2010

Jonathan Edwards

Jonathan Edwards
Jonathan Edwards.jpg
Jonathan Edwards
Lahir 5 Oktober 1703[1]
East Windsor, Connecticut
Meninggal 22 Maret 1758 (aged 54)[1]
Princeton, New Jersey
Pekerjaan Pastor, teolog, dan misionaris
Pasangan Sarah Pierpont[2]
Jonathan Edwards (5 Oktober 1703 - 22 Maret 1758) adalah seorang teolog asal Amerika Serikat yang sangat mempengaruhi peristiwa Revival di Amerika.[3] Edwards adalah seorang pendeta Kongregasionalis yang banyak membela ajaran Calvinis.[4]

 

Riwayat hidup

Jonathan Edwards lahir pada 1703, di Windson Timur, Connecticut, Amerika Serikat[3] Ayahnya, Timothy Edwards (1668-1759) adalah seorang pendeta di East Windsor, Connecticut (sekarang South Windsor) dan ibunya, Ester Stoddard, adalah putri dari Pdt. Salomo Stoddard, dari Northampton, Massachusetts.[5] Jonathan yang merupakan satu-satunya anak laki-laki adalah anak kelima dari sebelas anak. Dia dilatih oleh ayahnya dan kakak-kakaknya, yang semuanya menerima pendidikan yang sangat baik.
Edwards belajar bahasa Latin pada usia enam tahun.[6] Pada usia 13 tahun, ia juga sudah fasih berbahasa Yunani dan Yahudi.[6]

Ia masuk Yale College tahun 1716, ketika masih di bawah usia tiga belas tahun. Pada tahun berikutnya, ia berkenalan dengan Essay Concerning Human Understanding oleh John Locke, yang sangat mempengaruhinya. Edwards sangat tertarik pada sejarah alam, dan pada usia tujuh belas, ia menulis sebuah esai yang begitu hebat tentang kebiasaan dari "laba-laba terbang".[7] Bahkan sebelum lulus pada bulan September 1720, sebagai pembaca pidato perpisahan dari kelasnya, ia tampaknya memiliki filosofi yang dirumuskan dengan baik. Dia menghabiskan dua tahun belajar teologi setelah lulus di New Haven.

Pada usia tujuh belas tahun ia telah menjadi tutor di Yale University.[6]. Dan pada usia dua puluh empat tahun ia menjadi pendeta pada gereja kongregasional.[6]

Ajaran

Edwards adalah pembela ajaran Calvinis melalui khotbah-khotbah yang dikemukakannya.[4][3] Tanpa ia sadari, hal itu mengakibatkan jemaatnya ikut bangkit.[4][3] Peristiwa ini kemudian dikenal dengan nama The Great Awakening (Kebangunan Rohani Besar), yang meluas pada seluruh gereja di Amerika Utara.[4][3]
Edwards menerima ide tentang kehendak bebas secara sangat terbatas, dengan pengertian manusia bebas berlaku menurut kehendak mereka masing-masing.[3]

Pada tahun 1734, Edwards mewartakan pesan Calvinis tentang kebenaran atas dasar iman dengan gencar.[3] Akibatnya, dalam waktu setahun hampir seluruh penduduk dewasa di Massachusetts, Northampton menjadi Kristen.[6]

Pada tahun berikutnya ia pergi ke Stockbridge sebagai penginjil bagi orang Indian.[3] Pada tahun 1757 ia menerima undangan menjadi rektor New Jersey College (sekarang Princenton University) dan ia menerimanya.[3] Tidak lama setelah itu Edwards meninggal karena cacar pada 1758, akibat suntikan anti cacar yang diterimanya ketika wabah penyakit itu melanda tempat pelayanannya.[6][3]

Edwards adalah pembela dan sekaligus pengkritik kebangunan rohani di zamannya.[3] Hal ini terlihat dari khotbahnya yang terkenal, Sinners in The Hand of an Angry God (Orang-orang Berdosa di Tangan Allah yang Murka), yang menekankan secara khusus tentang murka Allah, sehingga menyebabkan kebangunan rohani.[3] Ia dikenal sebagai pejuang yang tidak kenal mundur terhadap Arminianisme, karena tetap gencar mengemukakan ajaran Calvinis.[3]

Edwards pernah disebut filsuf Amerika terbesar karena karya Freedom of Willnya.[3] Ia juga adalah bapak teologi New England.[3] Ajaran teologinya kemudian dilanjutkan oleh putranya Jonathan Edwards Junior (1745-1801), yang menghasilkan Teologi New Heaven dari Charles Finney.[3]

Karya

Seluruh korpus dari karya-karya Edwards termasuk karya yang tidak dipublikasikan sebelumnya kini tersedia secara online pada website The Jonathan Edwards Center at Yale University.[8] Karya proyek Jonathan Edwards di Yale telah menghasilkan edisi ilmiah dari Edwards berdasarkan transkripsi segar dari manuskripnya sejak 1950-an. Ada 26 jilid sejauh ini.

Banyak dari karya-karya Edwards telah dicetak ulang secara teratur. Beberapa karya besar tercantum di bawah ini:

Referensi

  1. ^ a b "Biography at the Edwards Center at Yale University". Yale University. http://edwards.yale.edu/research/about-edwards/biography. Diakses pada 13 September 2009. 
  2. ^ George Marsden, Jonathan Edwards: A Life (New Haven, Conn.: Yale University Press, 2003), pg. 93-95, 105-112, 242-249, 607.
  3. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p Tony Lane. Runtut Pijar: Sejarah Pemikiran Kristiani. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007. Hlm. 158-160.
  4. ^ a b c d Thomas van den End. Harta Dalam Bejana. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009. Hlm. 346-349.
  5. ^ Marsden, Jonathan Edwards: A Life ISBN 0-300-10596-7, 978-0-300-10596-4
  6. ^ a b c d e f (id) Michael Collins & Matthew A. Price. Millenium The Story of Christianity: Menelusuri Jejak Kristianitas. Yogyakarta: Kanisius, 2006. Hlm. 168-169.
  7. ^ Marsden, Jonathan Edwards: A Life hlm. 66
  8. ^ "The Jonathan Edwards Center at Yale University". http://edwards.yale.edu/research/browse. Diakses pada 26 Oktober 2010.

Minggu, 28 November 2010

Agustinus dari Hippo


Saint Augustine
Augustine dilukis oleh Sandro Botticelli, tahun. 1480
Bishop, Confessor, Doctor of the Church
Lahir 13 November 354, Tagaste, Numidia (sekarang Souk Ahras, Aljazair)
Wafat 28 Agustus 430 (umur 75), Hippo Regius, Numidia (saat ini bernama Annaba, Aljazair)
Dihormati di Gereja Katolik Roma
Gereja Ortodoks
Gereja Ortodoks Oriental
Komuni Anglikan
Gereja Lutheran
Tempat ziarah utama San Pietro in Ciel d'Oro, Pavia, Italia
Hari peringatan August 28 (Western Christianity)
June 15 (Eastern Christianity)
Atribut child; dove; pen; shell, pierced heart
Pelindung brewers; printers; theologians
Bridgeport, Connecticut; Cagayan de Oro, Philippines; Ida, Philippines; Kalamazoo Michigan; Saint Augustine, Florida; Superior, Wisconsin; Tucson, Arizona; Avilés, Spain

Santo Agustinus Hippo digambar dalam masa Renaisans.
Aurelius Agustinus, Agustinus Hippo ("Yang tahu banyak") (lahir 13 November 354 – meninggal 28 Agustus 430 pada umur 75 tahun) adalah seorang santo dan Doktor Gereja yang terkenal menurut Katolik Roma. Ia diakui sebagai salah satu tokoh terpenting dalam perkembangan Kekristenan Barat. Dalam Gereja Ortodoks Timur, yang tidak menerima semua ajarannya, dia biasanya dipanggil "Augustinus Terberkati". Banyak orang Protestan juga menganggap dia sebagai salah satu sumber pemikiran teologis ajaran Reformasi tentang keselamatan dan anugerah. Martin Luther, tokoh gerakan Reformasi, banyak dipengaruhi oleh Agustinus (Luther dilatih sebagai biarawan Augustinian), dan dalam fokus umum Protestanisme, mengikuti Agustinus, dalam dosa asal yang menuntun ke penilaian pesimis dari sebab dan aksi manusia terpisah dari Tuhan.

Tulisan-tulisannya - termasuk Pengakuan-pengakuan Agustinus, yang seringkali disebut sebagai otobiografi Barat yang pertama - masih dibaca luas oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia.

Kehidupan

Agustinus merupakan anak tertua dari Santa Monika. Ia dilahirkan pada 354 di Tagaste, sebuah kota di algeria Afrika utara yang merupakan wilayah Romawi saat itu. Ia dibesarkan dan dididik di Karthago, dan dibaptiskan di Italia. Ibunya, Monika, adalah seorang Katolik 1 yang saleh, sementara ayahnya, Patricius seorang kafir, namun Agustinus mengikuti agama Manikean yang kontroversial, sehingga ibunya sangat cemas dan takut.

Pada masa mudanya, Agustinus hidup dengan gaya hedonistik untuk sementara waktu. Di Karthago ia menjalin hubungan dengan seorang perempuan muda yang selama lebih dari sepuluh tahun dijadikannya sebagai istri gelapnya, yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki baginya. Pendidikan dan karier awalnya ditempuhnya dalam filsafat dan retorika, seni persuasi dan bicara di depan publik. Ia mengajar di Tagaste dan Karthago, namun ia ingin pergi ke Roma karena yakin bahwa di sanalah para ahli retorika yang terbaik dan paling cerdas berlatih (belakangan ia menyadari bahwa orang-orang di Roma menolak untuk membiayainya). Namun demikian Agustinus kemudian kecewa dengan sekolah-sekolah di Roma, yang dirasakannya menyedihkan. Sahabat-sahabatnya yang beragama Manikeanis memperkenalkannya kepada kepala kota Roma, Simakhus, yang telah diminta untuk menyediakan seorang dosen retorika untuk istana kerajaan di Milano.

"St Agustinus dan Monika" (1846), oleh Ary Scheffer.
Pemuda dari desa ini mendapatkan pekerjaan itu dan berangkat ke utara untuk menerima jabatan itu pada akhir tahun 384. Pada usia 30 tahun, Agustinus mendapatkan kedudukan akademik yang paling menonjol di dunia Latin, pada saat ketika kedudukan demikian memberikan akses ke jabatan-jabatan politik. Namun demikian, Agustinus merasakan ketegangan dalam kehidupan di istana kerajaan. Suatu hari ia mengeluh ketika sedang duduk di keretanya untuk menyampaikan sebuah pidato penting di hadapan kaisar, bahwa seorang pengemis mabuk yang dilewatinya di jalan ternyata hidupnya tidak begitu diliputi kecemasan dibandingkan dirinya.

Monika, ibunya, mendesaknya agar ia menjadi seorang Katolik, namun uskup Milano, Ambrosiuslah, yang mempunyai pengaruh yang paling mendalam terhadap hidupnya. Ambrosius adalah seorang jagoan retorika seperti Agustinus sendiri, namun lebih tua dan lebih berpengalaman. Sebagian karena khotbah-khotbah Ambrosius, dan studi-studinya yang lain, termasuk suatu pertemuan yang mengecewakannya dengan seorang tokoh teologi Manikean, Agustinus beralih dari Manikeanisme. Namun bukannya menjadi Katolik seperti Ambrosius dan Monika, ia malah mengambil pendekatan Neoplatonis kafir terhadap kebenaran, dan mengatakan bahwa selama beberapa waktu ia merasakan bahwa ia benar-benar mengalami kemajuan di dalam pencariannya, meskipun pada akhirnya ia justru menjadi seorang skeptik.

Ibunda Agustinus menyusulnya ke Milano dan ia membiarkan ibunya mengatur sebuah pernikahan untuknya. Untuk itu ia meninggalkan istri gelapnya. (Namun ia harus menunggu dua tahun hingga tunangannya cukup umur, sementara itu ia menjalin hubungan dengan seorang perempuan lain). Pada masa itulah Agustinus dari Hippo mengucapkan doanya yang terkenal, "Berikanlah daku kemurnian dan penguasaan diri, tapi jangan dulu" [da mihi castitatem et continentiam, sed noli modo].

Pada musim panas tahun 386, setelah membaca riwayat hidup St. Antonius dari Padang Pasir yang sangat memukaunya, Agustinus mengalami suatu krisis pribadi yang mendalam dan memutuskan untuk menjadi seorang Kristen. Ia meninggalkan kariernya dalam retorika, melepaskan jabatannya sebagai seorang profesor di Milano, dan gagasannya untuk menikah (hal ini menyebabkan ibunya sangat terperanjat), dan mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk melayani Allah dan praktik imamat, termasuk selibat.

Sebuah pengalaman penting yang mempengaruhi pertobatannya ini adalah suara dari seorang gadis kecil yang didengarnya pada suatu hari menyampaikan pesan kepadanya melalui sebuah nyanyian kecil untuk "Mengambil dan membaca" Alkitab. Pada saat itu ia membuka Alkitab dengan sembarangan dan menemukan sebuah ayat dari Paulus. Ia menceritakan perjalanan rohaninya dalam bukunya yang terkenal Pengakuan-pengakuan Agustinus yang kemudian menjadi sebuah buku klasik dalam teologi Kristen maupun sastra dunia. Ambrosius membaptiskan Agustinus pada hari Paskah pada 387, dan tak lama sesudah itu pada 388 ia kembali ke Afrika. Dalam perjalanan ke Afrika ibunya meninggal, dan tak lama kemudian anak laki-lakinya, sehingga ia praktis sendirian di dunia tanpa keluarga.

Setelah kembali ke Afrika utara, ia membangun sebuah biara di Tagaste untuk dirinya sendiri dan sekelompok temannya. Pada 391 ia ditahbiskan menjadi seorang imam di Hippo Regius, (kini Annaba, di Aljazair). Ia menjadi seorang pengkhotbah terkenal (lebih dari 350 khotbahnya yang terlestarikan diyakini otentik), dan dicatat karena melawan ajaran sesat Manikeanisme, yang pernah dianutnya.

Pada 396 ia diangkat menjadi pendamping uskup di Hippo (pembantu dengan hak untuk menggantikan apabila uskup yang menjabat meninggal dunia), dan tetap sebagai uskup di Hippo hingga kematiannya pada 430. Ia meninggalkan biaranya, namun tetap menjalani kehidupan biara di kediaman resminya sebagai uskup. Ia meninggalkan sebuah Buku Aturan (bahasa Latin Regula) untuk biaranya yang membuat ia digelari sebagai "santo pelindung dari rohaniwan biasa," artinya, imam praja yang hidup dengan aturan-aturan biara.
Agustinus meninggal pada 28 Agustus 430, ketika Hippo dikepung oleh bangsa Vandal. Konon ia telah menganjurkan warga kota itu untuk melawan para penyerang, terutama berdasarkan alasan karena bangsa Vandal itu menganut ajaran sesat Arian.

Pengaruh sebagai teolog dan pemikir

Pemikiran Agustinus dari Hippo memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap perkembangan pemikiran kekristenan selanjutnya.[1] Teologi dan filosofi abad pertengahan berakar di dalam ide-ide Agustinus dari Hippo.[1]

Dasar Etika Agustinus

Dasar etika Agustinus adalah etika yang menekankan pentingnya kehendak bebas dan anugerah Allah sebagai dasar perbuatan etis manusia.[2] Menurut Agustinus, Allah mengetahui segala hal sebelum manusia bertindak.[2] Namun, hal itu bukan berarti segala sesuatu telah terjadi menurut takdirnya (takdir merupakan bentuk penolakan dari kamauan kehendak bebas).[2] Allah memang berkuasa, namun Allah tetap memperbolehkan manusia untuk berkehendak.[2]

Manusia tetap mempunyai kuasa untuk berkehendak bebas sama seperti Tuhan yang juga mempunyai kuasa dan kehendak.[3] Agustinus menyebutkan dua buah kehendak, yaitu kehendak bebas Allah dan kehendak bebas manusia.[3] Perbedaannya, kehendak manusia seringkali digunakan dengan cara yang salah, seperti melontarkan kata-kata kotor, kelancangan, dan fitnah.[3]

Tidak ada kejahatan di luar keinginan.[3] Allah sang pencipta menciptakan semuanya dengan baik. Agustinus menolak segala bentuk teologi dualisme metafisik. Allah sendiri yang menjadi sumber seluruh keberadaan dan segala sesuatu yang baik.[3] Menurut Agustinus, hal-hal yang jahat bukan diciptakan Allah.[3] Menurut Agustinus kejahatan ditemukan dalam keinginan ciptaan yang memiliki akal budi.[4] Dalam melakukan kejahatan setiap orang dibebaskan dari keadilan dan menjadi hamba dosa. Namun, tidak ada seorangpun yang bisa bebas dari dosa dengan melakukan hal-hal yang baik.[4] Seseorang hanya dapat dibebaskan dan lepas dari yang jahat hanya melalui anugerah Allah.[4] Tanpa anugerah Allah, perbuatan baik yang mereka lakukan tidak ada artinya.[4] Allah sendiri yang bekerja dalam diri manusia.[4] Allah yang memberi kesadaran kepada kita mengapa kita harus berbuat baik dan tidak berbuat jahat.[4]

Pandangan Agustinus mengenai kehendak bebas dan anugerah ini dipengaruhi oleh pengalaman masa mudanya.[4] Pada masa mudanya ia telah melukai hati ibunya dan hidup bersama dengan seorang perempuan yang tidak pernah dinikahinya.[4] Ia merasa berkali-kali jatuh ke dalam dosa.[4] Ia baru merasakan bebas dari hal-hal yang jahat setelah ia menerima anugerah Allah melalui pertobatannya.[4]

Dua Kota Allah

Konsepsi kehendak bebas dan anugerah Allah ini menjadi dasar bagi etika sosial Agustinus.[5] Konsepsi ini diekspresikan dalam bentuk yang matang dalam karyanya The City of God (Kota Allah).[5] Karya ini ditulis sebagai sebuah apologet dari Agustinus karena orang-orang Kristen dianggap membawa kehancuran bagi Roma.[5] Dalam buku ini, ia mengkritik ketidakadilan dan kebejatan moral orang-orang Roma yang belum Kristen.[5] Menurutnya kecintaan terhadap materi hanya merupakan ilusi.[5]

Agustinus membedakan kota Allah dan kota dunia.[5] Kota Allah berdasarkan cinta kepada Allah dan berujung pada kekekalan.[5] Kota dunia berdasarkan kepada cinta diri serta barang-barang yang dapat hancur dan berujung pada kebinasaan.[5] Menurut Agustinus, cinta yang paling bawah adalah cinta yang diarahkan kepada barang-barang yang dapat hancur.[5] Tingkatan selanjutnya adalah cinta kepada diri sendiri dan sesamanya.[5] Tingkatan yang terluhur adalah cinta kepada Allah.[5] Dalam cinta sejati, yakni cinta yang diarahkan kepada Allah, manusia menemukan pedoman bagi tindakannya.[5] Itulah sebabnya, Agustinus berkata, "Dilige et quod vis fac" (cintailah dan lakukan apa saja yang kamu kehendaki).[5]

Damai dan Keadilan

Menurut Agustinus, kedamaian adalah tujuan universal seluruh umat manusia.[3] Bahkan secara ekstrim dapat dikatakan bahwa kedamaian adalah tujuan dari perang, karena hakikat dasar dari kemenangan dalam perang adalah membawa manusia ke dalam kemuliaan dan kedamaian.[3] Namun, hal itu hanya merupakan bentuk pencarian kedamaian bagi diri sendiri atau kelompok tertentu saja.[3] Menurut Agustinus, yang merupakan norma moral bukanlah kedamaian seperti di atas, melainkan kedamaian yang dihubungkan dengan keadilan.[3] Kedamaian yang seperti ini hanya berasal dari Allah. Keadilan yang terdapat dalam diri manusia bersumber dari Allah.[3]

Namun, Agustinus bukanlah orang yang pasivis (anti perang).[3] Ia mengatakan bahwa perang diperbolehkan hanya sebagai jalan terakhir.[3] Perang diperbolehkan ketika bertahan terhadap serangan lawan dan melawan bidaah. Motivasi dalam berperang itu pun harus berlandaskan cinta kasih, belas kasih dan ketenangan. [3]

Seksualitas Manusia

Pengajaran Agustinus tentang seksualitas dipengaruhi pengalaman hidupnya.[3] Menurut Agustinus, manusia perlu mengendalikan nafsu seksnya.[3] Agustinus sendiri telah merasakan bagaimana menahan nafsunya, saat ia memutuskan untuk bertobat.[3] Ia tidak mengatakan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang tidak bermoral.[3] Namun ia mengutuk hubungan seksual untuk tujuan apapun selain prokreasi. Ia menolak hubungan seksual di luar masa subur. Menuruti nafsu seksual dianggap sebagai pemberontakan terhadap Allah.[3]

Pandangan Agustinus terhadap Kekayaan

Menurut Agustinus, kekayaan bukanlah kejahatan.[3] Kekayaan juga merupakan ciptaan Allah yang baik adanya.[3] Namun, manusia -dengan kehendaknya- menyalahgunakan kekayaan tersebut.[3] Beberapa orang bahkan ada yang menyembah Allah hanya untuk mendapatkan kekayaan.[3] Padahal seharusnya kekayaan itu yang dipergunakan untuk memuliakan Allah.[3]

Referensi

  1. ^ a b Chedwick, Henry. Agustine. 1986. New York: Oxford University Press.
  2. ^ a b c d Gill,Robin. 1985. A Textbook Of Christian Ethics. Edinburg: T&T Clark Limited.
  3. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x Wogaman, J. Philip. 1994. Christian Ethics: A Historical Introduction. London: SPCK.
  4. ^ a b c d e f g h i j Forell, George Wolfgang. 1979. History Of Christian Ethics, Minneapolis. Augsburg Publishing.
  5. ^ a b c d e f g h i j k l m Tjahjadi, Simon Petrus L., 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta. Kanisius.

Topik berhubungan

Agustinus tetap merupakan seorang figur pusat, baik dalam Kristen maupun dalam sejarah pemikiran Barat. Dalam argumen filsafat dan teologinya, dia banyak dipengaruhi oleh Platonisme dan Neoplatonisme, terutama oleh karya Plotinus, penulis Enneads, kemungkinan melalui perantaraan Porfiri dan Victorinus (seperti dalam argumen Pierre Hadot). Pandangannya yang umumnya positif terhadap pemikiran Neoplatonik ikut menolong "dibaptiskannya" pemikiran Yunani dan masuknya ke dalam tradisi Kristen dan kemudian tradisi intelektual Eropa. Tulisan awalnya yang berpengaruh tentang kehendak manusia, sebuah topik sentral dalam etika, kelak menjadi fokus bagi para filsuf berikutnya seperti Arthur Schopenhauer dan Friedrich Nietzsche.
Berdasarkan argumen Agustinus melawan Pelagius, yang tidak percaya akan dosa asal, Kekristenan Barat telah mengembangkan doktrin tentang dosa asal tersebut. Namun, para teolog Ortodoks Timur, meskipun mereka percaya bahwa semua umat manusia telah dirusakkan oleh dosa asal Adam dan Hawa, berbeda pendapat dengan Agustinus dalam doktrin ini, dan karena itu memandang ajarannya ini sebagai salah satu penyebab perpecahan antara Timur dan Barat.

Tulisan-tulisan Agustinus ikut merumuskan Doktrin tentang Perang yang Sah. Dia juga menganjurkan penggunaan kekerasan dalam melawan kaum Donatis, sambil bertanya, "Mengapa ... Gereja tidak boleh menggunakan kekerasan dalam memaksa anak-anaknya untuk kembali, bila anak-anaknya yang tersesat itu memaksa orang-orang lain sehingga menyebabkan kehancuran mereka?" (The Correction of the Donatists, 22–24)

Karya Agustinus, Kota Allah, sangat mempengaruhi karya Wincenty Kadlubek dan Stanislaw of Skarbimierz mengenai hubungan antara penguasa dan warganya yang menyebabkan penciptaan Demokrasi Nobel dan "De optimo senatore" oleh Wawrzyniec Grzymala Goslicki.

St. Thomas Aquinas meminjam banyak dari teologi Agustinus dan menciptakan sintesis uniknya sendiri tentang pemikiran Yunani dan Kristen setelah banyak dari karya Aristoteles ditemukan kembali.
Meskipun doktrin Agustinus tentang predestinasi ilahi tidak sama sekali dilupakan dalam Gereja Katolik, doktrin ini diungkapkan dengan indah dalam karya Bernard dari Clairvaux, para teolog Reformasi seperti Martin Luther dan Yohanes Calvin akan menengok kembali kepada Agustinus sebagai inspirasi untuk memahami Injil Alkitab. Belakangan, di lingkungan Gereja Katolik tulisan Cornelius Jansen yang banyak sekali dipengaruhi oleh Agustinus, akan membentuk dasar dari gerakan yang disebut sebagai Jansenisme. Beberapa Jansenis bertindak sampai ke skisma dan membentuk gereja mereka sendiri.

Agustinus dikanonisasi oleh pengakuan populer dan dikenal sebagai Doktor Gereja pada 1303 oleh Paus Bonifatius VIII. Hari perayaannya adalah 28 Agustus, hari dimana diperkirakan dia meninggal. Dia dianggap sebagai santo pelindung dari pembuat bir, pencetak, teolog, mata yang bengkak, dan sejumlah kota dan keuskupan.

Bagian belakangan dari karya Agustinus Pengakuan-pengakuan terdiri dari sebuah meditasi yang panjang tentang hakikat waktu. Para teolog Katolik umumnya mengikuti keyakinan Agustinus bahwa Allah hadir di luar waktu dalam "masa kini yang kekal"; bahwa waktu hanya ada di dalam alam ciptaan.

Meditasi Agustinus tentang hakikat waktu terkait erat dengan pertimbangannya tentang daya ingat manusia. Frances Yates dalam studinya pada 1966, The Art of Memory (Seni Daya Ingat) berkata bahwa paragraf singkat dari Pengakuan-pengakuan, X.8.12, di mana Agustinus menulis tentang orang yang menaiki tangga dan memasuki suatu bidang ingatan yang sangat luas (lihat teks dan komentar) jelas menunjukkan bahwa orang-orang Romawi kuno sadar tentang bagaimana menggunakan metafora ruang dan arsitektural sebagai suatu teknik mnemonik untuk mengorganisasi khazanah informasi yang besar jumlahnya. Beberapa filsuf Perancis berpendapat bahwa teknik ini dapat dilihat sebagai nenek moyang konseptual dari paradigma antarmuka pengguna tentang realitas maya.

Menurut Leo Ruickbie, argumen Agustinus melawan magi, yang membedakannya dengan mujizat, sangat penting dalam perjuangan Gereja perdana dalam melawan kekafiran dan menjadi tesis sentral dalam penolakannya terhadap para dukun dan perdukunan.

Agustinus dan orang Yahudi

Agustinus menulis dalam Buku 18, Bab 46 dari Kota Allah [1] (salah satu karyanya yang paling termasyhur selain Pengakuan-pengakuan Agustinus): "Orang-orang Yahudi yang membunuh Dia, dan yang tidak mau percaya kepada-Nya karena Ia harus mati dan bangkit kembali, namun mereka malah lebih hancur di tangan orang-orang Romawi, dan sama sekali tercabut dari kerajaan mereka; di sana orang asing telah berkuasa atas mereka dan kini mereka dicerai-beraikan ke berbagai negeri (sehingga memang tidak ada tempat di mana meerka tidak ada), dan dengan demikian digenapilah apa yang disaksikan oleh Kitab Suci mereka sendiri kepada kita bahwa kita tidak memalsukan nubuat tentang Kristus."
Agustinus memandang penyebaran ini penting karena ia percaya bahwa itu adalah penggenapan dari nubuat-nubuat tertentu, dan dengan demikian membuktikan bahwa Yesus memang adalah Mesias. Ini disebabkan karena Agustinus percaya bahwa orang-orang Yahudi yang tersebar itu adalah musuh-musuh Gereja Kristen. Ia juga mengutip dari nubuat yang sama yang mengatakan, "Janganlah bunuh mereka, agar mereka tidak melupakan hukum-hukum-Mu." (Mazmur 59:11) Sebagian orang telah menggunakan kata-kata Agustinus untuk menyerang orang-orang Yahudi yang dituduh anti Kristen, sementara yang lainnya menggunakannya untuk menyerang orang Kristen yang dituduh anti Yahudi. Lihat Agama Kristen dan anti Semitisme.

Buku-buku

Surat-surat

  • Tentang Mengajarkan Iman kepada Mereka yang Tidak Berpendidikan
  • Tentang Iman dan Kredo
  • Mengenai Iman tentang Hal-hal yang Tidak Kelihatan
  • Tentang Manfaat Percaya
  • Tentang Kredo: Khotbah kepada para Calon Baptisan
  • Tentang Penahanan Diri
  • Tentang Pernikahan yang Baik
  • Tentang Keperawanan yang Kudus
  • Tentang Kebaikan Kehidupan sebagai Janda
  • Tentang Berbohong
  • Kepada Consentius: Menentang Dusta
  • Tentang Karya para Biarawan
  • Tentang Kesabaran
  • Tentang Pemeliharaan yang Harus Diberikan kepada Orang yang Meninggal
  • Tentang Moral Gereja Katolik
  • Tentang Moral Kaum Manikhean
  • Tentang Dua Jiwa, Menentang Kaum Manikhean
  • Tindakan atau Bantahan terhadap Fortunatus sang Manikhean
  • Melawan Surat Manikheus yang disebut Dasariah
  • Jawaban kepada Faustus sang Manikhean
  • Mengenai Hakikat yang Baik, Melawan Kaum Manikhean
  • Tentang Baptisan, Menentang Kaum Donatis
  • Jawaban kepada Surat-surat dari Petilianus, Uskup Cirta
  • Koreksi Kaum Donatus
  • Jasa dan Penghapusan Dosa, dan Baptisan Anak
  • Tentang Roh dan Tulisan
  • Tentang Alam dan Anugerah
  • Tentang Kesempurnaan Manusia di dalam Kebenaran
  • Tentang Proses Peradilan Pelagius
  • Tentang Anugerah Kristus, dan Dosa Asal
  • Tentang Pernikahan dan Concupiscence
  • Tentang Jiwa dan Asal-usulnya
  • Menentang Dua Surat dari kaum Pelagian
  • Tentang Anugerah dan Kehendak Bebas
  • Tentang Kecaman dan Anugerah
  • Predestinasi orang-orang Kudus / Karunia untuk Bertahan
  • Khotbah Tuhan Kita di Bukit
  • Harmoni Kitab-kitab Injil
  • Khotbah-khotbah berdasaran Bacaan Terpilih dari Perjanjian Baru
  • Traktat-traktat tentang Injil Yohanes
  • Traktat-traktat tentang Injil Yohanes
  • Khotbah-khotbah berdasaran Surat Yohanes yang Pertama
  • Solilokui
  • Narasi, atau Eksposisi tentang Mazmur
  • Tentang Keabadian Jiwa

Catatan

  • Catatan 1: Katolik di sini tidak sama dengan pengertian modern dalam arti Katolik versus Ortodoks. Pengertian yang terkandung di sini adalah makna yang lama, yaitu pengikut Pengakuan Iman Nicea, dalam arti bahwa ia bukan seorang Donatis atau Arian, yang pada waktu itu merupakan perbedaan yang penting.
  • Band rock Kristen, Petra mempersembahkan sebuah lagu kepada St. Agustinus yang berjudul "St. Agustine Pears". Lagu ini didasarkan pada salah satu tulisan Agustinus dalam bukunya "Pengakuan-pengakuan". Di situ ia menceritakan bahwa ia mencuri buah pir tetangganya meskipun tidak lapar, dan bahwa pencurian kecil ini terus menghantuinya sepanjang hidupnya.[2]
  • Jon Foreman, penyanyi utama dan penulis lagu dari band rock Kristen, Switchfoot, menulis sebuah lagu berjudul "Something More (Pengakuan Agustinus)," berdasarkan kehidupan dan buku Agustinus, "Pengakuan-pengakuan".

Topik berhubungan

Bibliografi