| Saint Augustine |
| Augustine dilukis oleh Sandro Botticelli, tahun. 1480 |
| Bishop, Confessor, Doctor of the Church |
| Lahir | 13 November 354, Tagaste, Numidia (sekarang Souk Ahras, Aljazair) |
| Wafat | 28 Agustus 430 (umur 75), Hippo Regius, Numidia (saat ini bernama Annaba, Aljazair) |
| Dihormati di | Gereja Katolik Roma
Gereja Ortodoks
Gereja Ortodoks Oriental
Komuni Anglikan
Gereja Lutheran |
| Tempat ziarah utama | San Pietro in Ciel d'Oro, Pavia, Italia |
| Hari peringatan | August 28 (Western Christianity)
June 15 (Eastern Christianity) |
| Atribut | child; dove; pen; shell, pierced heart |
| Pelindung | brewers; printers; theologians
Bridgeport, Connecticut; Cagayan de Oro, Philippines; Ida, Philippines; Kalamazoo Michigan; Saint Augustine, Florida; Superior, Wisconsin; Tucson, Arizona; Avilés, Spain |
Santo Agustinus Hippo digambar dalam masa
Renaisans.
Aurelius Agustinus,
Agustinus Hippo ("Yang tahu banyak") (lahir
13 November 354 – meninggal
28 Agustus 430 pada umur 75 tahun) adalah seorang
santo dan
Doktor Gereja yang terkenal menurut
Katolik Roma. Ia diakui sebagai salah satu tokoh terpenting dalam perkembangan Kekristenan Barat. Dalam Gereja
Ortodoks Timur, yang tidak menerima semua ajarannya, dia biasanya dipanggil "Augustinus Terberkati". Banyak orang Protestan juga menganggap dia sebagai salah satu sumber pemikiran teologis ajaran Reformasi tentang keselamatan dan
anugerah.
Martin Luther, tokoh gerakan
Reformasi, banyak dipengaruhi oleh Agustinus (Luther dilatih sebagai biarawan Augustinian), dan dalam fokus umum Protestanisme, mengikuti Agustinus, dalam
dosa asal yang menuntun ke penilaian pesimis dari sebab dan aksi manusia terpisah dari Tuhan.
Tulisan-tulisannya - termasuk Pengakuan-pengakuan Agustinus, yang seringkali disebut sebagai otobiografi Barat yang pertama - masih dibaca luas oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia.
Kehidupan
Agustinus merupakan anak tertua dari
Santa Monika. Ia dilahirkan pada
354 di
Tagaste, sebuah kota di algeria Afrika utara yang merupakan wilayah Romawi saat itu. Ia dibesarkan dan dididik di
Karthago, dan dibaptiskan di
Italia. Ibunya, Monika, adalah seorang
Katolik 1 yang saleh, sementara ayahnya,
Patricius seorang
kafir, namun Agustinus mengikuti agama
Manikean yang kontroversial, sehingga ibunya sangat cemas dan takut.
Pada masa mudanya, Agustinus hidup dengan gaya hedonistik untuk sementara waktu. Di Karthago ia menjalin hubungan dengan seorang perempuan muda yang selama lebih dari sepuluh tahun dijadikannya sebagai
istri gelapnya, yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki baginya. Pendidikan dan karier awalnya ditempuhnya dalam
filsafat dan
retorika, seni persuasi dan bicara di depan publik. Ia mengajar di Tagaste dan Karthago, namun ia ingin pergi ke Roma karena yakin bahwa di sanalah para ahli retorika yang terbaik dan paling cerdas berlatih (belakangan ia menyadari bahwa orang-orang di Roma menolak untuk membiayainya). Namun demikian Agustinus kemudian kecewa dengan sekolah-sekolah di Roma, yang dirasakannya menyedihkan. Sahabat-sahabatnya yang beragama Manikeanis memperkenalkannya kepada kepala kota Roma,
Simakhus, yang telah diminta untuk menyediakan seorang dosen retorika untuk istana kerajaan di
Milano.
Pemuda dari desa ini mendapatkan pekerjaan itu dan berangkat ke utara untuk menerima jabatan itu pada akhir tahun
384. Pada usia 30 tahun, Agustinus mendapatkan kedudukan akademik yang paling menonjol di dunia Latin, pada saat ketika kedudukan demikian memberikan akses ke jabatan-jabatan politik. Namun demikian, Agustinus merasakan ketegangan dalam kehidupan di istana kerajaan. Suatu hari ia mengeluh ketika sedang duduk di keretanya untuk menyampaikan sebuah pidato penting di hadapan kaisar, bahwa seorang pengemis mabuk yang dilewatinya di jalan ternyata hidupnya tidak begitu diliputi kecemasan dibandingkan dirinya.
Monika, ibunya, mendesaknya agar ia menjadi seorang Katolik, namun uskup Milano,
Ambrosiuslah, yang mempunyai pengaruh yang paling mendalam terhadap hidupnya. Ambrosius adalah seorang jagoan retorika seperti Agustinus sendiri, namun lebih tua dan lebih berpengalaman. Sebagian karena khotbah-
khotbah Ambrosius, dan studi-studinya yang lain, termasuk suatu pertemuan yang mengecewakannya dengan seorang tokoh teologi Manikean, Agustinus beralih dari Manikeanisme. Namun bukannya menjadi Katolik seperti Ambrosius dan Monika, ia malah mengambil pendekatan
Neoplatonis kafir terhadap kebenaran, dan mengatakan bahwa selama beberapa waktu ia merasakan bahwa ia benar-benar mengalami kemajuan di dalam pencariannya, meskipun pada akhirnya ia justru menjadi seorang skeptik.
Ibunda Agustinus menyusulnya ke Milano dan ia membiarkan ibunya mengatur sebuah pernikahan untuknya. Untuk itu ia meninggalkan istri gelapnya. (Namun ia harus menunggu dua tahun hingga tunangannya cukup umur, sementara itu ia menjalin hubungan dengan seorang perempuan lain). Pada masa itulah Agustinus dari Hippo mengucapkan doanya yang terkenal, "Berikanlah daku kemurnian dan penguasaan diri, tapi jangan dulu" [da mihi castitatem et continentiam, sed noli modo].
Pada musim panas tahun
386, setelah membaca riwayat hidup
St. Antonius dari Padang Pasir yang sangat memukaunya, Agustinus mengalami suatu krisis pribadi yang mendalam dan memutuskan untuk menjadi seorang Kristen. Ia meninggalkan kariernya dalam retorika, melepaskan jabatannya sebagai seorang profesor di Milano, dan gagasannya untuk menikah (hal ini menyebabkan ibunya sangat terperanjat), dan mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk melayani
Allah dan praktik
imamat, termasuk
selibat.
Sebuah pengalaman penting yang mempengaruhi pertobatannya ini adalah suara dari seorang gadis kecil yang didengarnya pada suatu hari menyampaikan pesan kepadanya melalui sebuah nyanyian kecil untuk "Mengambil dan membaca" Alkitab. Pada saat itu ia membuka Alkitab dengan sembarangan dan menemukan sebuah ayat dari
Paulus. Ia menceritakan perjalanan rohaninya dalam bukunya yang terkenal
Pengakuan-pengakuan Agustinus yang kemudian menjadi sebuah buku klasik dalam teologi Kristen maupun sastra dunia. Ambrosius membaptiskan Agustinus pada hari
Paskah pada
387, dan tak lama sesudah itu pada
388 ia kembali ke Afrika. Dalam perjalanan ke Afrika ibunya meninggal, dan tak lama kemudian anak laki-lakinya, sehingga ia praktis sendirian di dunia tanpa keluarga.
Setelah kembali ke Afrika utara, ia membangun sebuah
biara di Tagaste untuk dirinya sendiri dan sekelompok temannya. Pada
391 ia
ditahbiskan menjadi seorang
imam di
Hippo Regius, (kini
Annaba, di
Aljazair). Ia menjadi seorang
pengkhotbah terkenal (lebih dari 350 khotbahnya yang terlestarikan diyakini otentik), dan dicatat karena melawan ajaran sesat Manikeanisme, yang pernah dianutnya.
Pada
396 ia diangkat menjadi
pendamping uskup di Hippo (pembantu dengan hak untuk menggantikan apabila uskup yang menjabat meninggal dunia), dan tetap sebagai
uskup di Hippo hingga kematiannya pada
430. Ia meninggalkan biaranya, namun tetap menjalani kehidupan biara di kediaman resminya sebagai uskup. Ia meninggalkan sebuah Buku Aturan (
bahasa Latin Regula) untuk biaranya yang membuat ia digelari sebagai "
santo pelindung dari
rohaniwan biasa," artinya,
imam praja yang hidup dengan
aturan-aturan biara.
Agustinus meninggal pada
28 Agustus 430, ketika Hippo dikepung oleh bangsa
Vandal. Konon ia telah menganjurkan warga kota itu untuk melawan para penyerang, terutama berdasarkan alasan karena bangsa Vandal itu menganut ajaran sesat
Arian.
Pengaruh sebagai teolog dan pemikir
Pemikiran
Agustinus dari Hippo memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap perkembangan pemikiran kekristenan selanjutnya.
[1] Teologi dan filosofi abad pertengahan berakar di dalam ide-ide Agustinus dari Hippo.
[1]Dasar Etika Agustinus
Dasar etika Agustinus adalah etika yang menekankan pentingnya
kehendak bebas dan
anugerah Allah sebagai dasar perbuatan etis manusia.
[2] Menurut Agustinus, Allah mengetahui segala hal sebelum manusia bertindak.
[2] Namun, hal itu bukan berarti segala sesuatu telah terjadi menurut takdirnya (takdir merupakan bentuk penolakan dari kamauan kehendak bebas).
[2] Allah memang berkuasa, namun Allah tetap memperbolehkan manusia untuk berkehendak.
[2]
Manusia tetap mempunyai kuasa untuk berkehendak bebas sama seperti Tuhan yang juga mempunyai kuasa dan kehendak.
[3] Agustinus menyebutkan dua buah kehendak, yaitu
kehendak bebas Allah dan
kehendak bebas manusia.
[3] Perbedaannya, kehendak manusia seringkali digunakan dengan cara yang salah, seperti melontarkan kata-kata kotor, kelancangan, dan fitnah.
[3]
Tidak ada kejahatan di luar keinginan.
[3] Allah sang pencipta menciptakan semuanya dengan baik. Agustinus menolak segala bentuk teologi
dualisme metafisik. Allah sendiri yang menjadi sumber seluruh keberadaan dan segala sesuatu yang baik.
[3] Menurut Agustinus, hal-hal yang jahat bukan diciptakan Allah.
[3] Menurut Agustinus kejahatan ditemukan dalam keinginan ciptaan yang memiliki akal budi.
[4] Dalam melakukan kejahatan setiap orang dibebaskan dari keadilan dan menjadi hamba dosa. Namun, tidak ada seorangpun yang bisa bebas dari dosa dengan melakukan hal-hal yang baik.
[4] Seseorang hanya dapat dibebaskan dan lepas dari yang jahat hanya melalui anugerah Allah.
[4] Tanpa anugerah Allah, perbuatan baik yang mereka lakukan tidak ada artinya.
[4] Allah sendiri yang bekerja dalam diri manusia.
[4] Allah yang memberi kesadaran kepada kita mengapa kita harus berbuat baik dan tidak berbuat jahat.
[4]
Pandangan Agustinus mengenai kehendak bebas dan anugerah ini dipengaruhi oleh pengalaman masa mudanya.
[4] Pada masa mudanya ia telah melukai hati ibunya dan hidup bersama dengan seorang perempuan yang tidak pernah dinikahinya.
[4] Ia merasa berkali-kali jatuh ke dalam dosa.
[4] Ia baru merasakan bebas dari hal-hal yang jahat setelah ia menerima anugerah Allah melalui pertobatannya.
[4]Dua Kota Allah
Konsepsi kehendak bebas dan anugerah Allah ini menjadi dasar bagi etika sosial Agustinus.
[5] Konsepsi ini diekspresikan dalam bentuk yang matang dalam karyanya
The City of God (Kota Allah).
[5] Karya ini ditulis sebagai sebuah apologet dari Agustinus karena orang-orang Kristen dianggap membawa kehancuran bagi Roma.
[5] Dalam buku ini, ia mengkritik ketidakadilan dan kebejatan moral orang-orang Roma yang belum Kristen.
[5] Menurutnya kecintaan terhadap materi hanya merupakan ilusi.
[5]
Agustinus membedakan
kota Allah dan
kota dunia.
[5] Kota Allah berdasarkan cinta kepada Allah dan berujung pada kekekalan.
[5] Kota dunia berdasarkan kepada cinta diri serta barang-barang yang dapat hancur dan berujung pada kebinasaan.
[5] Menurut Agustinus, cinta yang paling bawah adalah cinta yang diarahkan kepada barang-barang yang dapat hancur.
[5] Tingkatan selanjutnya adalah cinta kepada diri sendiri dan sesamanya.
[5] Tingkatan yang terluhur adalah cinta kepada Allah.
[5] Dalam cinta sejati, yakni cinta yang diarahkan kepada Allah, manusia menemukan pedoman bagi tindakannya.
[5] Itulah sebabnya, Agustinus berkata, "
Dilige et quod vis fac" (cintailah dan lakukan apa saja yang kamu kehendaki).
[5]Damai dan Keadilan
Menurut Agustinus, kedamaian adalah tujuan universal seluruh umat manusia.
[3] Bahkan secara ekstrim dapat dikatakan bahwa kedamaian adalah tujuan dari perang, karena hakikat dasar dari kemenangan dalam perang adalah membawa manusia ke dalam kemuliaan dan kedamaian.
[3] Namun, hal itu hanya merupakan bentuk pencarian kedamaian bagi diri sendiri atau kelompok tertentu saja.
[3] Menurut Agustinus, yang merupakan norma moral bukanlah kedamaian seperti di atas, melainkan kedamaian yang dihubungkan dengan keadilan.
[3] Kedamaian yang seperti ini hanya berasal dari Allah. Keadilan yang terdapat dalam diri manusia bersumber dari Allah.
[3]
Namun, Agustinus bukanlah orang yang pasivis (anti perang).
[3] Ia mengatakan bahwa perang diperbolehkan hanya sebagai jalan terakhir.
[3] Perang diperbolehkan ketika bertahan terhadap serangan lawan dan melawan bidaah. Motivasi dalam berperang itu pun harus berlandaskan cinta kasih, belas kasih dan ketenangan.
[3]Seksualitas Manusia
Pengajaran Agustinus tentang seksualitas dipengaruhi pengalaman hidupnya.
[3] Menurut Agustinus, manusia perlu mengendalikan nafsu seksnya.
[3] Agustinus sendiri telah merasakan bagaimana menahan nafsunya, saat ia memutuskan untuk bertobat.
[3] Ia tidak mengatakan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang tidak bermoral.
[3] Namun ia mengutuk hubungan seksual untuk tujuan apapun selain prokreasi. Ia menolak hubungan seksual di luar masa subur. Menuruti nafsu seksual dianggap sebagai pemberontakan terhadap Allah.
[3]Pandangan Agustinus terhadap Kekayaan
Menurut Agustinus, kekayaan bukanlah kejahatan.
[3] Kekayaan juga merupakan ciptaan Allah yang baik adanya.
[3] Namun, manusia -dengan kehendaknya- menyalahgunakan kekayaan tersebut.
[3] Beberapa orang bahkan ada yang menyembah Allah hanya untuk mendapatkan kekayaan.
[3] Padahal seharusnya kekayaan itu yang dipergunakan untuk memuliakan Allah.
[3]Referensi
- ^ a b Chedwick, Henry. Agustine. 1986. New York: Oxford University Press.
- ^ a b c d Gill,Robin. 1985. A Textbook Of Christian Ethics. Edinburg: T&T Clark Limited.
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x Wogaman, J. Philip. 1994. Christian Ethics: A Historical Introduction. London: SPCK.
- ^ a b c d e f g h i j Forell, George Wolfgang. 1979. History Of Christian Ethics, Minneapolis. Augsburg Publishing.
- ^ a b c d e f g h i j k l m Tjahjadi, Simon Petrus L., 2004. Petualangan Intelektual. Yogyakarta. Kanisius.
Topik berhubungan
Agustinus tetap merupakan seorang figur pusat, baik dalam Kristen maupun dalam sejarah pemikiran Barat. Dalam argumen filsafat dan teologinya, dia banyak dipengaruhi oleh
Platonisme dan
Neoplatonisme, terutama oleh karya
Plotinus, penulis
Enneads, kemungkinan melalui perantaraan
Porfiri dan
Victorinus (seperti dalam argumen
Pierre Hadot). Pandangannya yang umumnya positif terhadap pemikiran Neoplatonik ikut menolong "dibaptiskannya" pemikiran Yunani dan masuknya ke dalam tradisi Kristen dan kemudian tradisi intelektual
Eropa. Tulisan awalnya yang berpengaruh tentang
kehendak manusia, sebuah topik sentral dalam
etika, kelak menjadi fokus bagi para filsuf berikutnya seperti
Arthur Schopenhauer dan
Friedrich Nietzsche.
Berdasarkan argumen Agustinus melawan
Pelagius, yang tidak percaya akan
dosa asal,
Kekristenan Barat telah mengembangkan doktrin tentang dosa asal tersebut. Namun, para teolog
Ortodoks Timur, meskipun mereka percaya bahwa semua umat manusia telah dirusakkan oleh dosa asal Adam dan Hawa, berbeda pendapat dengan Agustinus dalam doktrin ini, dan karena itu memandang ajarannya ini sebagai salah satu penyebab perpecahan antara Timur dan Barat.
Tulisan-tulisan Agustinus ikut merumuskan
Doktrin tentang Perang yang Sah. Dia juga menganjurkan penggunaan kekerasan dalam melawan kaum
Donatis, sambil bertanya, "Mengapa ... Gereja tidak boleh menggunakan kekerasan dalam memaksa anak-anaknya untuk kembali, bila anak-anaknya yang tersesat itu memaksa orang-orang lain sehingga menyebabkan kehancuran mereka?" (
The Correction of the Donatists, 22–24)
St.
Thomas Aquinas meminjam banyak dari teologi Agustinus dan menciptakan sintesis uniknya sendiri tentang pemikiran Yunani dan Kristen setelah banyak dari karya
Aristoteles ditemukan kembali.
Meskipun doktrin Agustinus tentang
predestinasi ilahi tidak sama sekali dilupakan dalam
Gereja Katolik, doktrin ini diungkapkan dengan indah dalam karya
Bernard dari Clairvaux, para teolog
Reformasi seperti
Martin Luther dan
Yohanes Calvin akan menengok kembali kepada Agustinus sebagai inspirasi untuk memahami Injil Alkitab. Belakangan, di lingkungan Gereja Katolik tulisan
Cornelius Jansen yang banyak sekali dipengaruhi oleh Agustinus, akan membentuk dasar dari gerakan yang disebut sebagai
Jansenisme. Beberapa Jansenis bertindak sampai ke
skisma dan membentuk gereja mereka sendiri.
Bagian belakangan dari karya Agustinus
Pengakuan-pengakuan terdiri dari sebuah meditasi yang panjang tentang hakikat waktu. Para teolog Katolik umumnya mengikuti keyakinan Agustinus bahwa Allah hadir
di luar waktu dalam "masa kini yang kekal"; bahwa waktu hanya ada di dalam alam ciptaan.
Meditasi Agustinus tentang hakikat waktu terkait erat dengan pertimbangannya tentang
daya ingat manusia.
Frances Yates dalam studinya pada
1966,
The Art of Memory (Seni Daya Ingat) berkata bahwa paragraf singkat dari
Pengakuan-pengakuan, X.8.12, di mana Agustinus menulis tentang orang yang menaiki tangga dan memasuki suatu bidang ingatan yang sangat luas
(lihat teks dan komentar) jelas menunjukkan bahwa orang-orang Romawi kuno sadar tentang bagaimana menggunakan metafora ruang dan arsitektural sebagai suatu teknik
mnemonik untuk mengorganisasi khazanah informasi yang besar jumlahnya. Beberapa filsuf Perancis berpendapat bahwa teknik ini dapat dilihat sebagai nenek moyang konseptual dari
paradigma antarmuka pengguna tentang
realitas maya.
Menurut
Leo Ruickbie, argumen Agustinus melawan
magi, yang membedakannya dengan
mujizat, sangat penting dalam perjuangan Gereja perdana dalam melawan
kekafiran dan menjadi tesis sentral dalam penolakannya terhadap para dukun dan
perdukunan.
Agustinus dan orang Yahudi
Agustinus menulis dalam Buku 18, Bab 46 dari
Kota Allah [1] (salah satu karyanya yang paling termasyhur selain
Pengakuan-pengakuan Agustinus): "Orang-orang Yahudi yang membunuh
Dia, dan yang tidak mau percaya kepada-Nya karena Ia harus mati dan bangkit kembali, namun mereka malah lebih hancur di tangan orang-orang Romawi, dan sama sekali tercabut dari kerajaan mereka; di sana orang asing telah berkuasa atas mereka dan kini mereka dicerai-beraikan ke berbagai negeri (sehingga memang tidak ada tempat di mana meerka tidak ada), dan dengan demikian digenapilah apa yang disaksikan oleh Kitab Suci mereka sendiri kepada kita bahwa kita tidak memalsukan nubuat tentang Kristus."
Agustinus memandang penyebaran ini penting karena ia percaya bahwa itu adalah penggenapan dari nubuat-nubuat tertentu, dan dengan demikian membuktikan bahwa Yesus memang adalah
Mesias. Ini disebabkan karena Agustinus percaya bahwa orang-orang Yahudi yang tersebar itu adalah musuh-musuh Gereja Kristen. Ia juga mengutip dari nubuat yang sama yang mengatakan, "Janganlah bunuh mereka, agar mereka tidak melupakan hukum-hukum-Mu." (Mazmur 59:11) Sebagian orang telah menggunakan kata-kata Agustinus untuk menyerang orang-orang Yahudi yang dituduh anti Kristen, sementara yang lainnya menggunakannya untuk menyerang orang Kristen yang dituduh anti Yahudi. Lihat
Agama Kristen dan anti Semitisme.
Buku-buku
Surat-surat
- Tentang Mengajarkan Iman kepada Mereka yang Tidak Berpendidikan
- Tentang Iman dan Kredo
- Mengenai Iman tentang Hal-hal yang Tidak Kelihatan
- Tentang Manfaat Percaya
- Tentang Kredo: Khotbah kepada para Calon Baptisan
- Tentang Penahanan Diri
- Tentang Pernikahan yang Baik
- Tentang Keperawanan yang Kudus
- Tentang Kebaikan Kehidupan sebagai Janda
- Tentang Berbohong
- Kepada Consentius: Menentang Dusta
- Tentang Karya para Biarawan
- Tentang Kesabaran
- Tentang Pemeliharaan yang Harus Diberikan kepada Orang yang Meninggal
- Tentang Moral Gereja Katolik
- Tentang Moral Kaum Manikhean
- Tentang Dua Jiwa, Menentang Kaum Manikhean
- Tindakan atau Bantahan terhadap Fortunatus sang Manikhean
- Melawan Surat Manikheus yang disebut Dasariah
- Jawaban kepada Faustus sang Manikhean
- Mengenai Hakikat yang Baik, Melawan Kaum Manikhean
- Tentang Baptisan, Menentang Kaum Donatis
- Jawaban kepada Surat-surat dari Petilianus, Uskup Cirta
- Koreksi Kaum Donatus
- Jasa dan Penghapusan Dosa, dan Baptisan Anak
- Tentang Roh dan Tulisan
- Tentang Alam dan Anugerah
- Tentang Kesempurnaan Manusia di dalam Kebenaran
- Tentang Proses Peradilan Pelagius
- Tentang Anugerah Kristus, dan Dosa Asal
- Tentang Pernikahan dan Concupiscence
- Tentang Jiwa dan Asal-usulnya
- Menentang Dua Surat dari kaum Pelagian
- Tentang Anugerah dan Kehendak Bebas
- Tentang Kecaman dan Anugerah
- Predestinasi orang-orang Kudus / Karunia untuk Bertahan
- Khotbah Tuhan Kita di Bukit
- Harmoni Kitab-kitab Injil
- Khotbah-khotbah berdasaran Bacaan Terpilih dari Perjanjian Baru
- Traktat-traktat tentang Injil Yohanes
- Traktat-traktat tentang Injil Yohanes
- Khotbah-khotbah berdasaran Surat Yohanes yang Pertama
- Solilokui
- Narasi, atau Eksposisi tentang Mazmur
- Tentang Keabadian Jiwa
Catatan
- Catatan 1: Katolik di sini tidak sama dengan pengertian modern dalam arti Katolik versus Ortodoks. Pengertian yang terkandung di sini adalah makna yang lama, yaitu pengikut Pengakuan Iman Nicea, dalam arti bahwa ia bukan seorang Donatis atau Arian, yang pada waktu itu merupakan perbedaan yang penting.
- Band rock Kristen, Petra mempersembahkan sebuah lagu kepada St. Agustinus yang berjudul "St. Agustine Pears". Lagu ini didasarkan pada salah satu tulisan Agustinus dalam bukunya "Pengakuan-pengakuan". Di situ ia menceritakan bahwa ia mencuri buah pir tetangganya meskipun tidak lapar, dan bahwa pencurian kecil ini terus menghantuinya sepanjang hidupnya.[2]
- Jon Foreman, penyanyi utama dan penulis lagu dari band rock Kristen, Switchfoot, menulis sebuah lagu berjudul "Something More (Pengakuan Agustinus)," berdasarkan kehidupan dan buku Agustinus, "Pengakuan-pengakuan".
Topik berhubungan
Bibliografi
- Umum:
- Karya-karya Agustinus:
- Tulisan-tulisan tentang Agustinus: