Selasa, 15 Maret 2011

Neraka / gehenna ( 2 )

Mark 9:43-48 - “(43) Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; (44) [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.] (45) Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; (46) [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.] (47) Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, (48) di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam”.
 
II) Yesus ‘turun ke neraka’.
 
Baik point ke 4 dari 12 Pengakuan Iman Rasuli, maupun point ke 36 dari Pengakuan Iman Athanasius, mengatakan bahwa Yesus ‘turun ke neraka’. Tetapi apa artinya dan kapan Yesus ‘turun ke neraka’ itu? Mungkin ini merupakan suatu istilah yang paling banyak disalah-mengerti oleh orang kristen.
 
A)  Ada yang menganggap bahwa Yesus betul-betul turun ke neraka untuk menanggung hukuman neraka itu bagi kita.
 
B)  Ada juga yang menganggap bahwa Yesus turun ke neraka / kerajaan maut untuk membebaskan orang-orang di sana dan / atau memberitakan Injil kepada orang-orang di dalam neraka / kerajaan maut. 

Dalam buku sesatnya yang berjudul ‘Dunia orang mati’, Andereas Samudra berkata: “Saya percaya tak ada aliran gereja yang menolak kebenaran ini, yaitu ketika Tuhan Yesus menyerahkan nyawaNya kepada BapaNya di atas kayu salib, Bapa Surgawi telah mengirim Ia dalam keadaan Roh ke alam maut untuk melakukan 2 hal. Pertama-tama melepaskan tawanan-tawanan, yaitu orang-orang kudus sebelum Tuhan Yesus, dari tahanan mereka di alam maut dan yang kedua adalah bahwa Ia memberitakan Injil kepada orang-orang mati, yaitu kepada orang-orang penjara di Hades” - hal 46. 

Kata-kata ‘Saya percaya tak ada aliran gereja yang menolak kebenaran ini’ menunjukkan bahwa orang ini tidak mengerti dunia theologia, karena Reformed / Calvinisme jelas menolak apa yang ia sebut dengan ‘kebenaran’ ini!
 
Saya menolak semua ini dengan alasan:
 
1)   Di atas kayu salib Ia berkata ‘sudah selesai’ (Yoh 19:30).
Ini menunjukkan bahwa penderitaan aktifNya dalam memikul hukuman dosa manusia sudah selesai. Kalau ternyata setelah mati Ia masih harus pergi ke neraka untuk mengalami hukuman neraka bagi kita, maka itu berarti bahwa kata-kata Yesus dalam Yoh 19:30 itu salah! 

Camkan ini baik-baik: penebusan dosa kita terjadi di kayu salib dan bukan di dalam neraka!
 
2)   Ia berkata kepada penjahat yang disalib bersama dengan Dia bahwa penjahat itu akan bersama dengan Dia di Firdaus (= surga) pada hari itu (Luk 23:43). Juga pada waktu mati Ia menyerahkan rohNya ke dalam tangan Bapa (Luk 23:46). 

Luk 23:43,46 - “(43) Kata Yesus kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.’ ... (46) Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: ‘Ya Bapa, ke dalam tanganMu Kuserahkan nyawaKu.’ Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawaNya”.
 
Jadi, antara kematian dan kebangkitanNya, tubuh Kristus ada dalam kuburan, dan roh / jiwaNya ada di surga. Karena itu, baik tubuh maupun jiwa / roh dari manusia Yesus Kristus tidak mungkin: 

a)      Turun ke neraka untuk mengalami siksaan neraka tersebut.
b)      Turun ke Hades / dunia orang mati untuk memberitakan Injil atau untuk membebaskan orang-orang di sana.
 
3)            Seandainya Yesus mau membebaskan orang yang ada dalam neraka / kerajaan maut, Ia tidak perlu pergi ke sana. Ia bisa melakukan itu dari surga. Disamping itu, apa dasarnya untuk mengatakan bahwa orang-orang suci jaman Perjanjian Lama itu ada di alam maut / tempat penantian, dsb? Dalam 2Raja 2 dikatakan bahwa Elia naik ke surga. Mungkinkah ia sendirian di surga sementara semua orang suci jaman  Perjanjian Lama yang lain ada di tempat penantian / alam maut? Ini rasanya mustahil, dan karena itu saya percaya bahwa orang suci jaman Perjanjian Lama juga langsung masuk ke surga pada saat mereka mati.
 
4)            Penginjilan kepada orang mati, dan lebih lagi kemungkinan pertobatan orang mati, bertentangan dengan:
 
a)      Maz 88:11-13 - “(11) Apakah Kaulakukan keajaiban bagi orang-orang mati? Masakan arwah bangkit untuk bersyukur kepadaMu? Sela. (12) Dapatkah kasihMu diberitakan di dalam kubur, dan kesetiaanMu di tempat kebinasaan? (13) Diketahui orangkah keajaiban-keajaibanMu dalam kegelapan, dan keadilanMu di negeri segala lupa?”.
Jelas terlihat bahwa semua pertanyaan dalam text ini harus dijawab dengan ‘tidak’!
 
Calvin: By these words the prophet intimates, that God, if he did not make haste to succor him, would be too late, there being scarce anything betwixt him and death; and that therefore this was the critical juncture, if God was inclined to help him, for should the present opportunity not be embraced another would not occur. He asks how long God meant to delay, - if he meant to do so till death intervened, that he might raise the dead by a miracle? He does not speak of the resurrection at the last day, which will surpass all other miracles, as if he called it in question; ... We impeach his power if we believe not that it is as easy for him to restore life to the dead ... When the Psalmist asks, Shall thy loving-kindness be declared in the grave? he does not mean that the dead are devoid of consciousness; ... He reasons from what ordinarily happens; it not being God’s usual way to bring the dead out of their graves to be witnesses and publishers of his goodness. ... When the prophet affirms, that the divine faithfulness as well as the divine goodness, power, and righteousness, are not known in the land of forgetfulness, some deluded persons foolishly wrest the statement to support a gross error, as if it taught that men were annihilated by death. He speaks only of the ordinary manner in which help is extended by God, who has designed this world to be as a stage on which to display his goodness towards mankind (= ).
 
Matthew Henry: “Departed souls may indeed know God’s wonders and declare his faithfulness, justice, and lovingkindness; but deceased bodies cannot; they can neither receive God’s favours in comfort nor return them in praise.’ Now we will not suppose these expostulations to be the language of despair, as if he thought God could not help him or would not, much less do they imply any disbelief of the resurrection of the dead at the last day; but he thus pleads with God for speedy relief: ‘Lord, thou art good, thou art faithful, thou art righteous; these attributes of thine will be made known in my deliverance, but, if it be not hastened, it will come too late; for I shall be dead and past relief, dead and not capable of receiving any comfort, very shortly.’” (= ).
 
Adam Clarke: “‘Arise and praise thee?’ Any more in this life? The interrogations in this and the two following verses imply the strongest negations” (= ).
 
Adam Clarke: “‘Or thy faithfulness in destruction?’ Faithfulness in God refers as well to his fulfilling his threatenings as to his keeping his promises. The wicked are threatened with such punishments as their crimes have deserved; but annihilation is no punishment. God therefore does not intend to annihilate the wicked; their destruction cannot declare the faithfulness of God” (= ).
 
Jamieson, Fausset & Brown: “in relation to the visible earth, man seems forgotten in the grave, so the ‘righteousness’ of God requires Him to vindicate man’s cause, now rendered a just one through His vicarious law-fulfiller, against Satan the usurper and oppressor, by manifestly rescuing man from the region where he seems to be forgotten” (= ).
 
Barnes’ Notes: “The idea is that the dead will be cut off from all the privileges which attend the living on earth; or, that those in the grave cannot contemplate the character and the greatness of God. He urges this as a reason why he should be rescued. The sentiment here is substantially the same as in Ps. 6:5. See the notes at that passage. Compare Isa. 38:18.” (= ).
Maz 6:6 - “Sebab di dalam maut tidaklah orang ingat kepadaMu; siapakah yang akan bersyukur kepadaMu di dalam dunia orang mati?”.
Yes 38:18 - “Sebab dunia orang mati tidak dapat mengucap syukur kepadaMu, dan maut tidak dapat memuji-muji Engkau; orang-orang yang turun ke liang kubur tidak menanti-nanti akan kesetiaanMu”.
Barnes’ Notes: “The question here is not whether they would rise to live again, or appear in this world, but whether in Sheol they would rise up from their resting places, and praise God as men in vigor and in health can on the earth. The question has no reference to the future resurrection. It relates to the supposed dark, dismal, gloomy, inactive state of the dead” (= ).
 
Barnes’ Notes: “It is implied here that, according to the views then entertained of the state of the dead, those things would not occur. According to what is now made known to us of the unseen world it is true that the mercy of God will not be made known to the dead; that the Gospel will not be preached to them; that no messenger from God will convey to them the offers of salvation. Compare Luke 16:28-31.” (= ).
 
b)      Orang kaya dalam cerita Lazarus dan orang kaya, jelas sekali menyesal / bertobat, tetapi tidak ada kesempatan itu bagi dia.
 
c)      Kitab Suci menunjukkan betapa mendesaknya 2 hal ini, yaitu:
 
1.      Penginjilan. 

Mendesaknya hal ini terlihat bahwa ini tetap dilakukan oleh rasul-rasul / orang kristen abad pertama sekalipun nyawa mereka terancam. Baca seluruh Kisah Para Rasul, dan saudara akan melihat hal ini dengan jelas.
 
2.      Pertobatan. 

Bandingkan dengan 2Kor 6:1-2 - “(1) Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima. (2) Sebab Allah berfirman: ‘Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.’ Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.
 
Yesus ‘turun ke neraka’ / memikul hukuman neraka bukan dengan betul-betul pergi ke dalam neraka, tetapi dengan ditinggal oleh BapaNya pada waktu Ia ada di kayu salib, yaitu pada waktu Ia berteriak: “ELI, ELI, LAMA SABAKHTANI?” (Mat 27:46). Ingat bahwa dalam 2Tes 1:9, dikatakan bahwa neraka adalah perpisahan dengan Allah! Jadi, pada waktu Yesus terpisah dari Allah, itu adalah neraka bagi Dia.
 
Kalau saudara menganggap enteng apa yang Kristus alami pada saat itu, maka perhatikan kata-kata Herman Hoeksema, seorang ahli theologia Reformed, yang berkata sebagai berikut: “No one, therefore, even in hell, can even suffer what Christ suffered during His entire life and especially on the cross. For, in the first place, no one can possibly taste the wrath of God as the Sinless One. And, in the second place, no one could possibly bear the complete burden of the wrath of God against the sin of the world. Even in hell everyone will suffer according to his personal sin and in his personal position in desolation. But Christ bore the sin of all His own as the Sinless One” [= Karena itu, tak seorang­pun, bahkan dalam neraka, bisa menderita apa yang diderita oleh Kristus dalam sepanjang hidupNya dan terutama di kayu salib. Kare­na, yang pertama, tak seorangpun bisa merasakan murka Allah sebagai orang yang tak berdosa. Dan, yang kedua, tak seorangpun bisa memi­kul seluruh beban murka Allah terhadap dosa dunia. Bahkan dalam neraka, setiap orang akan menderita sesuai dengan dosa pribadinya dan dalam posisi pribadinya dalam kesendirian. Tetapi Kristus memikul dosa dari semua milikNya sebagai Orang yang Tidak Berdosa] - ‘Reformed Dogmatics’, hal 401.
 
III) Tanggapan kita.
 
1)   Kalau saudara belum percaya dengan sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus, maka percayalah kepada Yesus Kristus sekarang juga. 

Dia sudah memikul hukuman dosa, termasuk neraka, sehingga kalau saudara percaya kepada Dia, maka saudara akan diampuni dan tidak mungkin dihukum / masuk neraka! 

Yoh 3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”.
 
Ro 8:1 - “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus”.
 
Mengapakah saudara mau mati dan mende­rita dalam neraka yang begitu mengerikan itu kalau Tuhan menawarkan kehidupan dan kebahagiaan secara cuma-cuma (bdk. Ro 3:24) kepada saudara? 

Ro 3:24 - “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”.
 
2)      Bertobatlah dari segala dosa, juga dosa-dosa yang menyenangkan!
Ini dinyatakan dengan perintah untuk memotong tangan / kaki, dan mencungkil mata, jika hal-hal itu menyesatkan kita (ay 43,45,47). 

Mark 9:43,45,47 - “(43) Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; ... (45) Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; ... (47) Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka”.
 
Kata ‘menyesatkan’ dalam ay 42, diterjemahkan ‘offend’ (= menyandungi) oleh KJV.
Mark 9:42 - “‘Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut”.
 
Calvin: “If any man through our fault either stumbles, or is drawn aside from the right course, or retarded in it, we are said to ‘offend’ him” (= Jika ada seseorang yang karena kesalahan kita tersandung atau disimpangkan dari jalan yang benar, atau dihambat dalam jalan yang benar, maka kita dikatakan ‘offend’ dia) - hal 336.
 
Dalam ay 43,45,47 dikatakan bahwa tangan, kaki atau mata kita ‘menyesatkan’ / ‘offend’ kita. Artinya adalah bahwa tangan, kaki atau mata kita menyebabkan kita tersandung, atau menyimpang dari jalan yang benar, atau terhambat dalam jalan yang benar. Dalam keadaan seperti itu dikatakan bahwa kita harus memotong tangan atau kaki kita itu atau mencungkil mata kita itu.
 
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
 
a)            Lagi-lagi kata-kata ini diucapkan oleh Yesus.
Pulpit Commentary: “The passage from which these few words are chosen is stern and severe; yet it was uttered by the gentle Teacher who would not break the bruised reed” (= Text dari mana kata-kata ini dipilih merupakan text yang keras; tetapi itu diucapkan oleh Guru yang lembut yang tidak akan mematahkan buluh yang terkulai) - hal 30.
 
b)      Kata-kata ‘lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan’, tidak menunjukkan bahwa kekristenan mengajarkan keselamatan karena perbuatan baik. Kata-kata ini harus diartikan bahwa perbuatan baik / pertobatan dari dosa merupakan bukti iman maupun keselamatan.
 
c)      Tangan, kaki dan mata menunjuk pada hal-hal yang menyebabkan kita jatuh ke dalam dosa. Jadi, jika teman, atau keluarga, pacar, pekerjaan atau hobby saudara, menyebabkan saudara berdosa, tidak peduli betapa hebat saudara mencintainya, atau tak peduli betapa bergunanya itu bagi saudara, potonglah itu darimu.
 
Pulpit Commentary mengutip kata-kata Richard Baxter: “The meaning is not that any man is in such a case that he hath no better way to avoid sin and hell than being maimed; but if he had no better, he should choose this. Nor doth it mean that maimed persons are maimed in heaven; but if it were so, it were a less evil” [= Artinya bukanlah bahwa ada orang yang berada dalam keadaan dimana ia tidak mempunyai jalan yang lebih baik untuk menghindari dosa dan neraka dari pada dibuntungi; tetapi seandainya ia tidak mempunyai jalan yang lebih baik, ia harus memilih ini. Juga itu tidak berarti bahwa di surga ada orang-orang yang buntung; tetapi seandainya demikian, itu masih lebih baik (dari pada masuk ke neraka dengan utuh)] - hal 27.
 
Pulpit Commentary tentang Mat 5:29: “The ideas of this verse are expressed in the strong language of Oriental imagery, and yet a moment’s reflection will show us that the language is not a whit too strong, even if it is interpreted with strict literalness. If it came to a choice between plucking out an eye and death, every man who had courage enough to perform the hideous deed would at once choose it as the less terrible alternative. Every day hospital patients submit to frightful operation to save their lives or to relieve intolerable sufferings. But if to the thought of death we add the picture of the doom of the lost, the motives for choosing the lesser evil are immeasurably strengthened. ... The difficulty, then, is not as to the truth of our Lord’s words, but as to the application of them. ... As a matter of fact, self-mutilation is not the right method of avoiding temptation. If it were the sole method, it would be prudent to resort to it. But, as God has provided other ways, only a wild delusion will resort to this. Moreover, if lust is in the heart, it will not be destroyed by plucking out the eye. If hatred reigns within the enraged man, he is essentially a murderer, even after he has cut off the hand with which he was about to commit his awful crime. Still, whatever is most near to us and hinders our Christian life, must go - any friendship, though dear as the apple of the eye; any occupation, though profitable as the right hand” (= Maksud dari ayat ini dinyatakan dalam bahasa perumpamaan Timur yang kuat / keras, tetapi suatu pemikiran yang singkat akan menunjukkan kepada kita bahwa bahasa itu tidak sedikitpun terlalu kuat / keras, bahkan jika itu ditafsirkan dengan kehurufiahan yang ketat. Jika sampai pada suatu pemilihan antara pencungkilan mata dan kematian, setiap orang yang mempunyai keberanian yang cukup untuk melakukan tindakan mengerikan itu akan segera memilihnya sebagai suatu alternatif yang kurang mengerikan (dibandingkan dengan kematian). Setiap hari pasien-pasien rumah sakit tunduk pada operasi yang menakutkan untuk menyelamatkan nyawa mereka atau untuk meringankan penderitaan yang tak tertahankan. Tetapi jika kepada pemikiran tentang kematian kita menambahkan gambaran tentang nasib / hukuman bagi orang yang terhilang, maka motivasi untuk memilih pemotongan / pencungkilan itu akan sangat dikuatkan. ... Jadi, kesukarannya bukanlah berkenaan dengan kebenaran dari kata-kata Tuhan kita, tetapi berkenaan dengan penerapan dari kata-kata itu. ... Sebetulnya, pembuntungan diri sendiri bukanlah metode yang benar untuk menghindari pencobaan. Seandainya itu merupakan satu-satunya metode, maka merupakan sesuatu yang bijaksana untuk mengambil jalan itu. Tetapi, karena Allah telah menyediakan jalan-jalan yang lain, hanya khayalan yang liar yang akan mengambil jalan ini. Lagi pula, jika nafsu itu ada dalam hati, itu tidak akan dihancurkan dengan mencungkil mata. Jika kebencian berkuasa dalam diri orang yang sangat marah, maka secara hakiki ia adalah seorang pembunuh, bahkan setelah ia memotong tangan dengan mana ia mau melakukan kejahatannya yang hebat itu. Tetapi, apapun yang paling dekat dengan kita dan menghalangi kehidupan kristen kita, harus dibuang - persahabatan yang manapun, sekalipun kita sayangi seperti biji mata kita; pekerjaan apapun, sekalipun berguna seperti tangan kanan kita) - hal 182.
 
Pulpit Commentary mengutip kata-kata Godwin: “It is better to make any sacrifice than to retain any sin” (= Adalah lebih baik untuk melakukan pengorbanan apapun dari pada mempertahankan dosa apapun) - hal 27.
 
Pulpit Commentary: “The general lesson taught is this - that it is better to die than to sin, and so to wrong ourselves and others” (= Pelajaran umum yang diajarkan adalah bahwa lebih baik mati dari pada berdosa, dan dengan demikian menyalahi diri kita sendiri dan orang lain) - hal 30.
 
Pulpit Commentary: “The hand may offend by doing wrong, the foot may offend by going on what is wrong. But if the most serviceable member, as the hand, do amiss, or the most useful member, as the foot, walk astray, or the most precious member, as the eye, look with delight on objects sinful and forbidden, then there must be no hesitation in divesting ourselves of such rather than risk the fearful fate of those who are tormented in the Gehenna of fire, ‘where their worm dieth not, and the fire is not quenched.’” (= Tangan bisa menyesatkan dengan melakukan apa yang salah, kaki bisa menyesatkan dengan pergi ke tempat yang salah. Tetapi jika anggota yang paling berguna, seperti tangan, melakukan hal yang salah, atau jika anggota yang paling berguna, seperti kaki, berjalan ke arah yang sesat, atau jika anggota yang paling berharga, seperti mata, melihat dengan senang pada obyek yang berdosa dan terlarang, maka di sana tidak boleh ada keragu-raguan dalam membebaskan diri kita sendiri dari hal-hal itu dari pada mendapatkan resiko nasib yang menakutkan dari mereka yang disiksa dalam GEHENNA dari api, ‘dimana ulatnya tidak mati, dan apinya tidak padam’) - hal 58-59.
 
William Barclay: “this passage lays down in vivid eastern language the basic truth that there is one goal in life worth any sacrifice” (= text ini menggambarkan dalam bahasa Timur yang hidup suatu kebenaran dasar bahwa ada satu tujuan dalam kehidupan yang cukup berharga untuk pengorbanan apapun) - hal 230.
 
William Barclay: “It means that it may be necessary to excise some habit, to abandon some pleasure, to give up some friendship, to cut out some thing which has become very dear to us, in order to be fully obedient to the will of God. This is not a matter with which anyone can deal for anyone else. It is solely a matter of a man’s individual conscience, and it means that, if there is anything in our lives which is coming between us and a perfect obedience to the will of God, however much habit and custom may have made it part of our lives, it must be rooted out. The rooting out may be as painful as surgical operation, it may seem like cutting out part of our own body, but if we are to know real life, real happiness and real peace it must go. This may sound bleak and stern, but in reality it is only facing the facts of life” (= Itu berarti bahwa merupakan suatu keharusan untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan tertentu, meninggalkan kesenangan-kesenangan tertentu, membuang / menghentikan persahabatan-persahabatan tertentu, memotong hal-hal tertentu yang telah sangat kita sayangi, supaya bisa taat sepenuhnya pada kehendak Allah. Ini bukanlah persoalan dimana seseorang bisa melakukannya untuk orang lain. Ini sepenuhnya merupakan persoalan hati nurani setiap individu, dan itu berarti bahwa jika ada sesuatu apapun dalam hidup kita yang datang di antara kita dan suatu ketaatan sempurna kepada kehendak Allah, bagaimanapun terbiasanya kita dengan hal itu sehingga hal itu telah menjadi bagian hidup kita, hal itu harus dicabut. Pencabutan itu bisa sama menyakitkan seperti suatu operasi pembedahan, itu bisa kelihatan seperti pemotongan bagian tubuh kita sendiri, tetapi jika kita mau mengenal hidup yang sejati, kebahagiaan yang sejati, dan damai yang sejati, hal itu harus dibuang. Ini mungkin kedengaran menyedihkan dan keras, tetapi dalam kenyataan itu hanyalah menghadapi fakta-fakta dari kehidupan) - hal 232-233.
 
Pulpit Commentary: “The old story of the man who defended his dishonesty by the plea, ‘One must live,’ has its meaning for us. The judge replied to the culprit, ‘I do not see the necessity.’ So with the Christian: luxury is not a necessity; pleasure is not a necessity; even life in the lower sense is not a necessity; but only life in the higher sense - a good conscience, a soul in purity and integrity. It is ever a good bargain to part with a sin, and a losing business to compromise with a lust” (= Cerita kuno tentang orang yang mempertahankan ketidakjujurannya dengan alasan, ‘Orang harus hidup, mempunyai artinya bagi kita. Hakim menjawab kepada orang yang telah melakukan kejahatan itu: ‘Aku tidak melihat keharusannya’. Demikian juga dengan orang Kristen: kemewahan bukanlah suatu keharusan; kesenangan bukanlah suatu keharusan; bahkan hidup dalam arti yang rendah bukanlah suatu keharusan; tetapi hanya hidup dalam arti yang tinggi - suatu hati nurani yang baik, suatu jiwa dalam kemurnian dan kejujuran / ketulusan. Selalu merupakan suatu persetujuan tukar menukar yang baik untuk berpisah dengan dosa, dan selalu merupakan suatu bisnis yang rugi untuk berkompromi dengan nafsu) - hal 38.
 
Calvin: To impart the greater vehemence to the threatening, he adds, that neither a right eye nor a right hand ought to be spared, if they occasion offense to us; for I explain these words as added for the purpose of amplification. Their meaning is, that we ought to be so constant and so zealous in opposing offenses, that we would rather choose to pluck out our eyes, or cut off our hands, than give encouragement to offenses; for if any man hesitate to incur the loss of his limbs, he spares them at the risk of throwing himself into eternal perdition (= ).
 
Matthew Henry: “1. The case supposed, that our own hand, or eye, or foot, offend us; that the impure corruption we indulge is as dear to us as an eye or a hand, or that that which is to us as an eye or a hand, is become an invisible temptation to sin, or occasion of it. Suppose the beloved is become a sin, or the sin a beloved. Suppose we cannot keep that which is dear to us, but it will be a snare and a stumbling-block; suppose we must part with it, or part with Christ and a good conscience. 2. The duty prescribed in that case; Pluck out the eye, cut off the hand and foot, mortify the darling lust, kill it, crucify it, starve it, make no provision for it. Let the idols that have been delectable things, be cast away as detestable things; keep at a distance from that which is a temptation, though ever so pleasing. It is necessary that the part which is gangrened, should be taken off for the preservation of the whole. Immedicabile vulnus ense recidendum est, ne pars sincera trahatur - The part that is incurably wounded must be cut off, lest the parts that are sound be corrupted. We must put ourselves to pain, that we may not bring ourselves to ruin; self must be denied, that it may not be destroyed. ... 4. The danger of not doing this. The matter is brought to this issue, that either sin must die, or we must die. If we will lay this Delilah in our bosom, it will betray us; if we be ruled by sin, we shall inevitably be ruined by it; if we must keep our two hands, and two eyes, and two feet, we must with them be cast into hell. Our Saviour often pressed our duty upon us, from the consideration of the torments of hell, which we run ourselves into if we continue in sin. With what an emphasis of terror are those words repeated three times here, Where their worm dieth not, and the fire is not quenched!” (= ).
 
Jamieson, Fausset & Brown (tentang Mat 5:29): “‘Pluck it out, and cast it from thee.’ - implying a certain indignant promptitude, heedless of whatever cost to feeling the act may involve. Of course, it is not the eye simply of which our Lord speaks - as if execution were to be done upon the bodily organ - though there have been fanatical ascetics who have both advocated and practiced this, showing a very low apprehension of spiritual things-- but the offending eye, or the eye considered as the occasion of sin; and consequently, only the sinful exercise of the organ which is meant” (= ).
 
Barnes’ Notes: “‘Thy right eye.’ The Hebrews, like others, were accustomed to represent the affections of the mind by the members or parts of the body, Rom. 7:23; 6:13. Thus, the bowels denoted compassion; the heart, affection or feeling; the reins, understanding, secret purpose. An evil eye denotes sometimes envy (Matt. 20:15), and sometimes an evil passion, or sin in general (Mark 7:21-22): ‘out of the heart proceedeth an evil eye.’ In this place, as in 2Pet. 2:14, the expression is used to denote strong adulterous passion, unlawful desire, or wicked inclination. The right eye and hand are mentioned, because they are of most use to us, and denote that, however strong the passion may be, or difficult to part with, yet that we should do it. ‘Offend thee.’ ... The English word ‘offend’ means now, commonly, to displease; to make angry; to affront. This is by no means the sense of the word in Scripture. It means to cause to fall into sin. The eye does this when it wantonly looks upon a woman to lust after her. ... ‘Pluck it out ...’ It cannot be supposed that Christ intended this to be taken literally. His design was to teach that the dearest objects, if they cause us to sin, are to be abandoned; that by all sacrifices and self-denials we must overcome the evil propensities of our nature, and resist our wanton imaginations. Some of the fathers, however, took this commandment literally” (= ).

Kesimpulan / penutup. 
 
Bagi saudara yang belum percaya kepada Yesus, percayalah dan terimalah Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara. Bagi saudara yang sudah percaya, bertobatlah dari dosa-dosa saudara, khususnya dosa-dosa yang menyenangkan saudara! 


-AMIN-
Pdt Budi Asali MDiv

Senin, 14 Maret 2011

Neraka / gehenna ( 1 )

Mark 9:43-48 - “(43) Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; (44) [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.] (45) Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; (46) [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.] (47) Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, (48) di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam”.
 
I) Neraka.
 
1)   Neraka / Gehenna. 

Dalam bacaan kita ini kata ‘neraka’ muncul 3 x, yaitu dalam ay 43,45,47. Kata ‘neraka’ di sini diterjemahkan dari kata Yunani GEHENNA. Hendriksen (hal 365) mengatakan bahwa kata GEHENNA diturunkan dari kata bahasa Ibrani Ge-Hinnom (Yos 15:8  18:16). 

Yos 15:8 - “Kemudian batas itu naik ke lembah Ben-Hinom, di sebelah selatan sepanjang lereng gunung Yebus, itulah Yerusalem; kemudian batas itu naik ke puncak gunung yang di seberang lembah Hinom, di sebelah barat, di ujung utara lembah orang Refaim”

Yos 18:6 - “Selanjutnya batas itu turun ke ujung pegunungan yang di tentangan lebak Ben-Hinom, di sebelah utara lembah orang Refaim; kemudian turun ke lebak Hinom, sepanjang lereng gunung Yebus, ke selatan, kemudian turun ke En-Rogel”.
 
Kata Ge-Hinnom ini merupakan singkatan dari Ge ben-Hinnom, yang berarti ‘the valley of the son of Hinnom’ (= lembah dari anak Hinnom). 

Ini merupakan suatu tempat di sebelah selatan Yerusalem, dan di tempat itu Ahas (ayah dari Hizkia) dan Manasye (anak dari Hizkia) mempersembahkan anak-anak mereka sebagai korban kepada dewa Molokh (2Raja 16:3  21:6  2Taw 28:3  33:6). 

2Raja 16:3 - “tetapi ia (Ahas) hidup menurut kelakuan raja-raja Israel, bahkan dia mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel”. Bdk. 2Taw 28:3. 

2Raja 21:6 - “Bahkan, ia (Manasye) mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api, melakukan ramal dan telaah, dan menghubungi para pemanggil arwah dan para pemanggil roh peramal. Ia melakukan banyak yang jahat di mata TUHAN, sehingga ia menimbulkan sakit hatiNya”. Bdk. 2Taw 33:6.
 
Raja Yosia yang saleh (cucu dari Manasye) menyatakan tempat itu sebagai tempat yang najis (2Raja 23:10), dan Yeremia juga memberikan kutukan terhadap tempat itu, dan menjadikannya sebagai kuburan (Yer 7:32  19:6). 

2Raja 23:10 - “Ia menajiskan juga Tofet yang ada di lembah Ben-Hinom, supaya jangan orang mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api untuk dewa Molokh”.
Yer 7:32 - “Sebab itu, sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa orang tidak akan mengatakan lagi ‘Tofet’ dan ‘Lembah Ben-Hinom’, melainkan ‘Lembah Pembunuhan’; orang akan menguburkan mayat di Tofet karena kekurangan tempat”.
Yer 19:6 - “Sebab itu, sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa tempat ini tidak akan disebut lagi: Tofet dan Lembah Ben-Hinom, melainkan Lembah Pembunuhan.
 
Tentang kata Gehenna, William Barclay berkata: “It is a word with a history. It is a form of the word HINNOM. The valley of Hinnom was a ravine outside Jerusalem. It had an evil past. It was the valley in which Ahaz, in the old days, had instituted fire worship and the sacrifice of little children in the fire. ‘He burned incense in the valley of the son of Hinnom, and burned his sons as an offering.’ (2Chronicles 28:3). That terrible heathen worship was also followed by Manasseh (2Chronicles 33:6). The valley of Hinnom, Gehenna, therefore, was the scene of one of Israel’s most terrible lapses into heathen customs. In his reformations Josiah declared it an unclean place. ‘He defiled Topheth, which is in the valley of the sons of Hinnom, that no one might burn his son or his daughter as an offering to Molech.’ (2Kings 23:10). When the valley had been so declared unclean and had been so desecrated it was set apart as the place where the refuse of Jerusalem was burned. The consequence was that it was a foul, unclean place, where loathsome worms bred on the refuse, and which smoked and smouldered at all times like some vast incinerator. ... Because of all this Gehenna had become a kind of type or symbol of Hell, the place where the souls of the wicked would be tortured and destroyed. It is so used in the Talmud. ‘The sinner who desists from the words of the Law will in the end inherit Gehenna.’ So then Gehenna stands as the place of punishment, and the word roused in the mind of every Israelite the grimmest and most terrible pictures [= Ini merupakan sebuah kata yang mempunyai sejarah. Ini merupakan suatu bentuk dari kata HINNOM. Lembah HINNOM merupakan suatu jurang di luar kota Yerusalem. Tempat ini mempunyai masa lalu yang jahat. Ini adalah lembah di mana Ahas pada masa yang lalu mendirikan penyembahan api dan pengorbanan anak-anak kecil dalam api. ‘Ia membakar juga korban di Lebak Ben-Hinom dan membakar anak-anaknya sebagai korban dalam api’ (2Taw 28:3). Ibadah kafir yang mengerikan itu juga diikuti oleh Manasye (2Taw 33:6). Karena itu, lembah HINNOM, GEHENNA, merupakan adegan dari salah satu kejatuhan yang mengerikan dari Israel ke dalam kebiasaan-kebiasaan kafir. Dalam reformasinya Yosia menyatakannya sebagai tempat yang najis. ‘Ia menajiskan juga Tofet yang ada di lembah Ben-Hinom, supaya jangan orang mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api untuk dewa Molokh.’ (2Raja 23:10). Pada waktu lembah itu telah dinyatakan sebagai najis dan telah diperlakukan sebagai najis, maka tempat itu dikhususkan sebagai tempat di mana sampah dari kota Yerusalem dibakar. Sebagai akibatnya adalah bahwa tempat itu menjadi tempat yang kotor dan berbau busuk dimana ulat yang menjijikkan berkembang biak pada sampah itu, dan yang berasap dan membara / menyala pada setiap saat seperti tempat pembakaran sampah yang luas. ... Karena semua ini, GEHENNA menjadi suatu jenis dari type atau simbol tentang neraka, tempat di mana jiwa-jiwa orang jahat akan disiksa dan dihancurkan. Itu digunakan seperti itu dalam Talmud. ‘Orang berdosa yang berhenti dari kata-kata hukum Taurat pada akhirnya akan mewarisi GEHENNA.’ Demikianlah maka GEHENNA menjadi tempat penghukuman, dan dalam pikiran setiap orang Israel kata itu menimbulkan gambaran yang paling menyeramkan dan mengerikan] - hal 231-232.
 
2)   Api yang tidak terpadamkan dan ulat-ulat bangkainya yang tidak akan mati (ay 44,46,48).
 
a)      Perlu diperhatikan bahwa sekalipun dalam Kitab Suci Indonesia ay 44,46 ada dalam tanda kurung tegak, yang menunjukkan bahwa bagian itu diragukan keasliannya, tetapi ay 48 tidak ada dalam tanda kurung tegak, dan betul-betul asli.
 
Mark 9:43-48 - “(43) Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung dari pada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; (44) [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.] (45) Dan jika kakimu menyesatkan engkau, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, dari pada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; (46) [di tempat itu ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam.] (47) Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, (48) di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tidak padam.
 
b)      Istilah ini diambil dari Yes 66:24 - Mereka akan keluar dan akan memandangi bangkai orang-orang yang telah memberontak kepadaKu. Di situ ulat-ulatnya tidak akan mati, dan apinya tidak akan padam, maka semuanya akan menjadi kengerian bagi segala yang hidup”

E. J. Young (vol 3, hal 537) mengatakan bahwa jelas bahwa ini menunjuk pada ‘lembah anak HINNOM’ atau ‘GEHENNA’.
 
c)            Apa arti istilah ini?
 
1.   ‘Api yang tidak terpadamkan dan ‘ulat yang tidak akan mati menunjukkan bahwa hukuman / siksaan dalam neraka berlangsung selama-lamanya.
 
William G. T. Shedd: “Jesus Christ is the Person who is responsible for the doctrine of Eternal Perdition. ... Had Christ intended to teach that future punishment is remedial and temporary, he would have compared it to a dying worm, and not to an undying worm; to a fire that is quenched, and not to an unquenchable fire” (= Yesus Kristus adalah Pribadi yang bertanggung jawab untuk doktrin tentang Hukuman kekal. ... Andaikata Kristus bermak­sud untuk mengajar bahwa hukuman yang akan datang itu bersi­fat memperbaiki dan sementara, Ia akan membandingkannya dengan ulat yang bisa mati, dan bukannya dengan ulat yang tidak bisa mati; dengan api yang bisa padam, dan bukannya dengan api yang tidak dapat dipadamkan) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol II, hal 680-681.
 
Wiersbe’s Expository Outlines (New Testament): “Hell is a real place, and lost souls will suffer there forever (= Neraka adalah suatu tempat yang sungguh-sungguh / nyata, dan jiwa-jiwa yang terhilang akan menderita di sana untuk selama-lamanya).
 
William Hendriksen: “... it will never end. This teaching of Jesus should not be weakened by the philosophical notion that in the universe on the other side of death or of the final judgment there will be no time. Nowhere, not in Isa. 66:24, nor in Rev. 10:6, correctly translated, is there any ground for this assumption” (= ... itu tidak akan pernah berakhir. Ajaran Yesus ini tidak boleh dilemahkan oleh gagasan / pikiran yang bersifat filsafat bahwa dalam dunia setelah kematian atau penghakiman akhir, tidak ada lagi waktu. Tidak ada tempat manapun, baik dalam Yes 66:24, ataupun Wah 10:6, yang diterjemahkan secara benar, ada dasar apapun untuk anggapan ini) - hal 367. 

Catatan: dalam Wah 10:6 versi KJV memang dikatakan there should be time no longer’ (= di sana tidak akan ada waktu lagi). Tetapi artinya adalah ‘tidak ada penundaan lagi, dan nubuat ini akan segera digenapi’ (Adam Clarke dan banyak penafsir lain). Karena itu RSV menterjemahkan there should be no more delay’ (= di sana tidak boleh ada penundaan lagi. NIV: there will be no more delay (= di sana tidak akan ada penundaan lagi). NKJV menterjemahkan seperti RSV dan NASB / ASV dan Kitab Suci Indonesia seperti NIV.
 
Wah 10:6 - “dan ia bersumpah demi Dia yang hidup sampai selama-lamanya, yang telah menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya, dan laut dan segala isinya, katanya: ‘Tidak akan ada penundaan lagi!”.
 
William Hendriksen: “One hears the objection, ‘But does not the Scripture teach of the destruction of the wicked’? Yes, indeed, but this destruction is not an instantaneous annihilation, so that there would be nothing left of the wicked; so that, in other words, they would cease to exist. The destruction of which the Scripture speaks is an ‘everlasting destruction’ (2Thess. 1:9). Their hopes, their joys, their opportunities, their riches, etc., have perished, and they themselves are tormented by this, and that forevermore [= Seorang mendengar keberatan: ‘Tetapi bukankah Kitab Suci mengajar kebinasaan / penghancuran orang jahat?’ Ya, memang, tetapi kebinasaan / penghancuran ini bukan merupakan pemusnahan seketika, sehingga tidak ada apapun yang tersisa dari orang jahat itu. Kebinasaan / penghancuran yang dibicarakan oleh Kitab Suci merupakan suatu ‘kebinasaan / penghancuran kekal’ (2Tes 1:9). Harapan mereka, sukacita mereka, kesempatan mereka, kekayaan mereka, dsb. telah binasa, dan mereka sendiri disiksa oleh hal ini, dan itu berlangsung selama-lamanya] - hal 367. 

2Tes 1:9 - “Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya”.
 
Matthew Henry (tentang Mark 9:41-50): “Dr. Whitby shows that the eternity of the torments of hell was not only the constant faith of the Christian church, but had been so of the Jewish church. Josephus saith, The Pharisees held that the souls of the wicked were to be punished with perpetual punishment; and that there was appointed for them a perpetual prison. And Philo saith, The punishment of the wicked is to live for ever dying, and to be for ever in pains and griefs that never cease (= Dr. Whitby menunjukkan bahwa kekekalan dari siksaan neraka bukan hanya merupakan iman yang tetap dari gereja Kristen, tetapi telah merupakan iman yang tetap dari gereja Yahudi. Yosefus berkata, Orang-orang Farisi mempercayai bahwa jiwa-jiwa dari orang-orang jahat harus dihukum dengan hukuman kekal; dan bahwa di sana ditetapkan bagi mereka suatu penjara yang kekal. Dan Philo berkata, Hukuman dari orang jahat adalah hidup sekarat selama-lamanya, dan untuk selama-lamanya dalam kesakitan dan kesedihan yang tidak pernah berhenti)

Catatan: Yosefus adalah ahli sejarah Yahudi yang hidup pada abad pertama sedangkan Philo adalah ahli filsafat Yahudi yang tinggal di Alexandria dan hidup sejaman dengan Yesus dan rasul-rasul.
 
Adam Clarke (tentang Mark 9:44): “‘The fire is not quenched.’ The state of punishment is continual; there is no respite, alleviation, nor end!” (= ‘Api yang tidak dipadamkan’. Keadaan dari hukuman itu terus menerus; di sana tidak ada istirahat / kelonggaran, pengurangan ataupun akhir!).
 
Bdk. Wah 14:11 - “Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya.’”.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘no rest’ (= tidak ada istirahat).
 
Wycliffe Bible Commentary (tentang Mark 9:43-47): “‘Hell’ is the translation of the Greek geenna, which in turn is a transliteration of the Hebrew ge hinnom, meaning ‘valley of Hinnom.’ This was a valley southwest of Jerusalem which was accursed because it had been the scene of Moloch worship. Later it became the site of the city dump, where continual fires burned, reducing the rubbish to ashes. The garbage and refuse deposited there would also have been infested with many worms. In Jewish thought this valley became a symbol of the place of eternal punishment (= ‘Neraka’ adalah terjemahan dari kata Yunani GEENNA, yang merupakan terjemahan dari kata Ibrani GE HINNOM, yang berarti ‘lembah Hinnom’. Ini adalah suatu lembah di sebelah barat daya dari Yerusalem yang terkutuk karena itu merupakan tempat penyembahan Molokh. Belakangan itu menjadi tempat pembuangan sampah kota, dimana api membara terus menerus, menghancurkan sampah itu menjadi abu. Sampah yang ditumpuk di sana juga dipenuhi dengan banyak ulat. Dalam pemikiran Yahudi lembah ini menjadi simbol dari tempat hukuman kekal).
 
Wycliffe Bible Commentary (tentang Mark 9:48): “‘The worm that dieth not’ is a figure of speech drawn from the actual valley of Hinnom, where worms were continually at work. It is a picture of the unending torture and destruction of hell (= ‘Ulat yang tidak mati’ merupakan suatu gaya bahasa yang diambil dari lembah yang betul-betul / sungguh-sungguh dari Hinnom, dimana ulat-ulat terus menerus bekerja. Itu merupakan suatu gambaran dari siksaan dan penghancuran yang tanpa akhir dari neraka).
 
Bible Knowledge Commentary: “Where the fire never goes out is probably Mark’s explanation of Gehenna for his Roman readers. The worm (internal torment) and the unquenchable fire (external torment) ... vividly portray the unending, conscious punishment that awaits all who refuse God’s salvation. The essence of hell is unending torment and eternal exclusion from His presence” [= ‘Dimana api tidak pernah padam’ mungkin merupakan penjelasan Markus tentang Gehenna bagi pembaca-pembaca Romawinya. Ulat (siksaan di dalam) dan api yang tidak bisa dipadamkan (siksaan luar) ... menggambarkan dengan hidup hukuman tanpa akhir dan sadar yang menanti semua orang yang menolak keselamatan Allah. Hakekat dari neraka adalah siksaan tanpa akhir dan pengeluaran kekal dari kehadiranNya]

Bdk. 2Tes 1:9 - “Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya.
 
The Bible Exposition Commentary: New Testament: “Hell is not temporary, it is forever (see Rev 20:10). How essential it is for sinners to trust Jesus Christ and be delivered from eternal hell, and how important it is for believers to get the message out to a lost world!” [= Neraka bukan bersifat sementara, itu adalah selama-lamanya (lihat Wah 20:10). Betapa penting bagi orang-orang berdosa untuk percaya kepada Yesus Kristus dan dibebaskan dari neraka yang kekal, dan betapa penting untuk orang-orang percaya untuk memberitakan berita ini keluar kepada dunia yang terhilang!]

Wah 20:10 - “dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.
 
2.   ‘Api’ dan ‘ulat’ digunakan sebagai simbol untuk menunjukkan betapa menyakitkan dan mengerikan hukuman di neraka itu.
 
‘Api’ merupakan simbol yang paling umum, dan penggunaan simbol api jelas menunjukkan suatu siksaan yang sangat menyakitkan. Kalau saudara terkena api sekitar 1-2 detik, itu sudah sangat menyakitkan. Kalau 15-30 detik, itu sudah merupakan luka bakar yang sangat parah dan menyakitkan. Bisakah saudara bayangkan bagaimana rasanya kalau saudara dibakar secara kekal?
 
Untuk menggambarkan betapa ngerinya ‘ulat’, saya ingin menceritakan tentang suatu peristiwa yang dialami seorang keluarga saya. Ia mengalami kecelakaan mobil, sehingga lumpuh total karena syarafnya terjepit pada tulang belakangnya. Di rumah sakit ia terus terbaring pada punggungnya (tidak dibolak balik, karena takut syarafnya yang terjepit itu akan bertambah parah dan membunuh dia), dan akhirnya punggung itu membusuk dan ada zet / ulat bangkainya. Dalam keadaan hidup orang itu merasakan penderi­taan yang begitu hebat karena zet itu menggerogoti tubuhnya! Akhirnya dia mati dan terbebas dari siksaan ulat bangkai duniawi itu. Tetapi kalau seseorang masuk ke neraka, hal seperti ini akan berlangsung selama-lamanya!
 
Kebanyakan orang memang menganggap ini sebagai simbol. 

Pulpit Commentary: “They are the symbols of certain dreadful realities; too dreadful for human language to describe or human thought to conceive” (= Itu adalah simbol-simbol dari kenyataan-kenyataan menakutkan tertentu / yang pasti; terlalu menakutkan untuk digambarkan oleh bahasa manusia ataupun untuk dimengerti / dibayangkan oleh pikiran manusia) - hal 9.
 
Barnes’ Notes (tentang Mark 9:44-46): It is not to be supposed that there will be any ‘real’ worm in hell - perhaps no material fire; nor can it be told what was particularly intended by the undying worm. There is no authority for applying it, as is often done, to remorse of conscience, anymore than to any other of the pains and reflections of hell. It is a mere image of loathsome, dreadful, and ‘eternal’ suffering. In what that suffering will consist it is probably beyond the power of any living mortal to imagine (= Tidak boleh dianggap bahwa di sana akan ada ulat ‘yang sungguh-sungguh’ dalam neraka - mungkin juga tidak ada api yang bersifat materi; juga tidak bisa diceritakan apa yang dimaksudkan secara khusus dengan ulat yang tidak mati. Tidak ada otoritas untuk menerapkannya, seperti yang sering dilakukan, pada penyesalan yang dalam dari hati nurani, ataupun pada rasa sakit yang lain dan perenungan dari neraka. Itu merupakan semata-mata suatu gambar menjijikkan, menakutkan, dan penderitaan ‘kekal’. Bagaimana bentuk penderitaan itu mungkin merupakan sesuatu yang melampaui kuasa dari orang hidup manapun untuk membayangkan).
 
Calvin (tentang Mat 3:11): “But we may conclude from many passages of Scripture, that it is a metaphorical expression. For, if we must believe that it is real, or what they call material fire, we must also believe that the brimstone and the fan are material, both of them being mentioned by Isaiah. ‘For Tophet is ordained of old; the pile thereof is fire and much wood; the breath of the Lord, like a stream of brimstone, doth kindle it,’ (Isaiah 30:33.) We must explain the fire in the same manner as the worm, (Mark 8:44,46,48:) and if it is universally agreed that the worm is a metaphorical term, we must form the same opinion as to the fire. Let us lay aside the speculations, by which foolish men weary themselves to no purpose, and satisfy ourselves with believing, that these forms of speech denote, in a manner suited to our feeble capacity, a dreadful torment, which no man can now comprehend, and no language can express” [= Tetapi kita bisa menyimpulkan dari banyak text dari Kitab Suci, bahwa itu (api) merupakan suatu ungkapan yang bersifat kiasan / simbol. Karena, jika kita harus percaya bahwa itu sungguh-sungguh / hurufiah, atau apa yang mereka sebut dengan api yang bersifat materi, kita juga harus percaya bahwa ‘sungai belerang’ dan ‘alat pengipas’ juga bersifat materi, karena keduanya disebutkan oleh Yesaya. ‘Sebab dari dahulu sudah diatur tempat pembakaran; ... pancakanya penuh api dan kayu; nafas TUHAN menghanguskannya seperti sungai belerang’ (Yes 30:33). Kita harus menjelaskan api dengan cara yang sama seperti ulat, (Mark 8:44,46,48): dan jika disetujui secara universal bahwa ulat merupakan suatu istilah simbolis, kita harus membentuk pandangan yang sama berkenaan dengan api. Hendaklah kita singkirkan spekulasi-spekulasi, dengan mana orang-orang bodoh melelahkan diri mereka sendiri tanpa ada gunanya, dan memuaskan diri kita dengan percaya, bahwa bentuk ucapan ini menunjukkan, dengan cara yang sesuai dengan kapasitas kita yang lemah, suatu siksaan yang menakutkan, yang tak bisa dimengerti manusia sekarang, dan tak bisa digambarkan oleh bahasa manapun]

Catatan: Calvin tak mengutip seluruh Yes 30:33, dan terjemahan Yes 30:33 berbeda antara KJV dan Kitab Suci Indonesia. Dalam KJV ada nama ‘Tophet’, yang merupakan nama dari suatu tempat di lembah Hinnom. Yang Calvin maksudkan dengan ‘fan’ / ‘alat pengipas’ mungkin adalah ‘nafas TUHAN’ itu.
 
Apa alasannya untuk menganggap ini sebagai simbol?
 
a. Neraka juga digambarkan sebagai kegelapan yang paling pekat (Mat 8:12  Mat 22:13b), dan sukar terbayangkan bagaimana ‘api’ dan ‘kegelapan’ bisa bersatu.
Mat 8:12 - “sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.’”.
Mat 22:13 - “Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi”.
 
b. Pada waktu Kitab Suci menggambarkan surga digunakan simbol (Wah 21:11-21), karena bahan-bahan di surga itu jelas tidak ada di dunia. Kalau sorga digambarkan dengan simbol, saya juga percaya bahwa neraka juga digambarkan dengan simbol.
 
Tetapi satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan ialah: jangan sekali-sekali hal ini membuat saudara menganggap bahwa kalau demikian neraka tidaklah terlalu menakutkan. Pemikiran ‘Toh semua itu hanya simbol, jadi tidak perlu terlalu kita takuti’ adalah pemikiran yang sangat bodoh dan keliru. Perlu saudara ingat bahwa pada waktu Kitab Suci menggambarkan surga dengan simbol, Kitab Suci menggambarkannya dengan simbol yang indah. Kalau simbolnya indah / mulia, maka aslinya tentu lebih indah / lebih mulia lagi. Sebaliknya pada waktu Kitab Suci menggambarkan tentang neraka, maka Kitab Suci menggunakan simbol-simbol yang mengerikan. Kalau simbolnya mengerikan, maka aslinya tentu lebih mengerikan lagi!
 
3.   Ada yang menafsirkan bahwa ‘api’ dan ‘ulat’ menunjukkan bahwa hukuman itu bersifat external (luar) dan internal (dalam).
William Hendriksen: “The torment, accordingly, will be both external, the fire; and internal, the worm” (= Sesuai dengan itu, siksaan itu merupakan baik siksaan luar, api, maupun siksaan dalam, ulat) - hal 367.
Saya tidak tahu apakah penafsiran ini bisa dibenarkan.
 
3)   Ajaran tentang neraka yang begitu mengerikan ini, diajarkan oleh Yesus!
 
The Bible Exposition Commentary: New Testament: “Some people are shocked to hear from the lips of Jesus such frightening words about hell (see Isa 66:24). Jesus believed in a place called hell, a place of eternal torment and righteous punishment (see Luke 16:19ff). After an army chaplain told his men that he did not believe in hell, some of them suggested that his services were not needed. After A if there is no hell, then why worry about death? But if there is a hell, then the chaplain was leading them astray! Either way, they would be better off without him!” [= Sebagian orang kaget mendengar dari bibir Yesus kata-kata yang begitu menakutkan tentang neraka (lihat Yes 66:24). Yesus percaya pada suatu tempat yang disebut neraka, suatu tempat penyiksaan kekal dan penghukuman yang benar (lihat Luk 16:19-dst). Setelah seorang pendeta tentara memberitahu orang-orangnya bahwa ia tidak percaya pada neraka, beberapa dari mereka mengusulkan bahwa pelayanannya tidak dibutuhkan. Bagaimanapun, jika tidak ada neraka lalu mengapa kuatir tentang kematian? Tetapi jika di sana ada suatu neraka, maka pendeta tentara itu sedang menyesatkan mereka! Yang manapun, mereka lebih baik tanpa dia!].
Catatan: kata-kata ‘After A’ dalam kutipan itu pasti salah cetak; mungkin seharusnya adalah ‘After all’.
 
The Biblical Illustrator (New Testament): “Some will say that this doctrine has no tendency to do good; it is idle to think of frightening men into religion. It is my duty not to decide what doctrines are likely to do good, but to preach such as I find in the Scriptures. I dare not pretend to be either more wise or more compassionate than our Saviour; and He thought it consistent, both with wisdom and compassion, to utter the words of our text” (= Sebagian orang akan mengatakan bahwa doktrin ini tidak mempunyai kecenderungan untuk melakukan / menghasilkan kebaikan; adalah sia-sia untuk berpikir tentang menakut-nakuti orang ke dalam agama. Bukanlah kewajibanku untuk menentukan doktrin-doktrin apa yang mungkin melakukan / menghasilkan kebaikan, tetapi memberitakan apa yang saya temukan dalam Kitab Suci. Saya tidak berani berpura-pura atau lebih bijaksana atau lebih berbelas kasihan dari Juruselamat kita; dan Ia menganggapnya sebagai konsisten, baik dengan kebijaksanaan dan belas kasihan, untuk mengucapkan kata-kata dari text kita ini).
 
Alan Cole (Tyndale): “No man ever spoke stronger words about hell than the loving Son of God” (= Tidak ada orang yang pernah berbicara tentang neraka dengan kata-kata yang lebih kuat / keras dari pada Anak Allah yang penuh kasih) - hal 153.
 
Bible Knowledge Commentary: “‎Jesus used the word ‎geenna ‎in 11 of its 12 New Testament occurrences (the one exception is James 3:6)” [= Yesus menggunakan kata GEENNA dalam 11 dari 12 pemunculannya dalam Perjanjian Baru (satu-satunya perkecualian adalah Yak 3:6)].
 
Setelah mendengar bagaimana neraka itu, inginkah saudara masuk ke sana? Sebetulnya tidak perlu ada seorangpun dari saudara yang masuk ke sana, karena Yesus sudah ‘turun ke neraka’.

Selasa, 08 Maret 2011

2Tes 2:9-12, Kedatangan si Pendurhaka adalah pekerjaan Iblis (3)

2Tes 2:1-12 - “(1) Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara, (2) supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah2 hari Tuhan telah tiba. (3) Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, (4) yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah. (5) Tidakkah kamu ingat, bahwa hal itu telah kerapkali kukatakan kepadamu, ketika aku masih bersama2 dengan kamu? (6) Dan sekarang kamu tahu apa yang menahan dia, sehingga ia baru akan menyatakan diri pada waktu yang telah ditentukan baginya. (7) Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja, tetapi sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya itu telah disingkirkan, (8) pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulutNya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali. (9) Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa2 perbuatan ajaib, tanda2 dan mujizat2 palsu, (10) dengan rupa2 tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. (11) Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, (12) supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan”.

· ‘Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa2 perbuatan ajaib, tanda2 dan mujizat2 palsu’ (ay 9).

Kis 2:22 - “Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan2 dan mujizat2 dan tanda2 yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah2 kamu, seperti yang kamu tahu”.

2Kor 12:12 - “Segala sesuatu yang membuktikan, bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran oleh tanda2, mujizat2 dan kuasa2”.

Ibr 2:4 - “Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda2 dan mujizat2 dan oleh berbagai2 penyataan kekuasaan dan karena Roh Kudus, yang dibagi2kanNya menurut kehendakNya”.

2Tes 2:9 - ‘all power’ (KJV) - bentuk tunggal, ‘signs and wonders’ - bentuk jamak.
Kis 2:22 2Kor 12:12 Ibr 2:4 - ketiga kata - bentuk jamak.

Jamieson, Fausset & Brown: ‘Mujijat2 palsu / dusta’. ... Mat 24:24 menunjukkan bahwa mujijat2 itu akan sungguh2, sekalipun berhubungan dengan setan.

Mat 24:24 - “Sebab Mesias2 palsu dan nabi2 palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda2 yang dahsyat dan mujizat2, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang2 pilihan juga”.

· ‘dengan rupa-rupa tipu daya jahat’ (ay 10a).
· ‘orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. ... supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan’ (ay 10b,12).

2Tes 2:13 - “Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai”.

Calvin: Ia membatasi kuasa setan, sehingga tidak bisa melukai orang2 pilihan Allah, sama seperti Kristus juga mengeluarkan / mengecualikan mereka dari bahaya ini (Mat 24:24). Dari sini kelihatan bahwa Anti Kristus tidak mempunyai kuasa yang begitu besar lebih dari yang diijinkan olehNya.

Mat 24:24 - “Sebab Mesias2 palsu dan nabi2 palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda2 yang dahsyat dan mujizat2, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang2 pilihan juga”.

Hendriksen: Memang benar bahwa dengan kekuatannya sendiri tak ada orang yang bisa mengasihi kebenaran. Tetapi bukan itu yang ditekankan di sini. Di sini yang ditekankan adalah kesalahan dari manusia. Pada waktu manusia itu terhilang, itu selalu adalah kesalahannya sendiri, tidak pernah karena kesalahan Allah.

Calvin: Dan dari sini terlihat dengan lebih jelas apa yang telah saya nyatakan - bahwa injil harus diberitakan kepada dunia sebelum Allah memberi setan ijin begitu banyak, karena Ia tidak akan pernah mengijinkan BaitNya dinajiskan seperti itu, kalau Ia tidak diprovokasi oleh rasa tidak tahu terima kasih yang begitu extrim dari manusia. Singkatnya, Paulus menyatakan bahwa Anti Kristus akan menjadi pelayan dari pembalasan yang benar dari Allah terhadap mereka yang telah dipanggil pada keselamatan, tetapi menolak Injil, dan lebih memilih untuk menyesuaikan pikiran mereka pada kejahatan dan kesalahan2.

Calvin: Karena sekalipun penguasaan Anti Kristus itu kejam, tidak ada yang binasa kecuali mereka yang layak mendapatkannya, bahkan lebih lagi, yang dengan persetujuan mereka sendiri memilih kematian (Amsal 8:36). Dan tidak perlu dipertanyakan, sementara suara dari Anak Allah telah terdengar di mana-mana, tetapi suara itu mendapatkan telinga manusia yang tuli, bahkan keras kepala, dan sekalipun orang2 yang mengaku Kristen itu banyak, tetapi hanya sedikit yang dengan sungguh2 dan dengan segenap hati telah menyerahkan diri mereka sendiri kepada Kristus.

Amsal 8:36 - “Tetapi siapa tidak mendapatkan aku, merugikan dirinya; semua orang yang membenci aku, mencintai maut.’”.

Calvin: Karena kita harus memperhatikan apa yang dinyatakan dalam Ul 13:3, bahwa hati manusia menjadi sasaran dari ujian, pada waktu ajaran palsu datang, karena ajaran2 palsu itu tidak mempunyai kekuatan kecuali di antara mereka yang tidak mengasihi Allah dengan hati yang tulus.

Ul 13:1-5 - “(1) Apabila di tengah2mu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, (2) dan apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, (3) maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh2 mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. (4) TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintahNya, suaraNya harus kamu dengarkan, kepadaNya harus kamu berbakti dan berpaut. (5) Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir dan yang menebus engkau dari rumah perbudakan - dengan maksud untuk menyesatkan engkau dari jalan yang diperintahkan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dijalani. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah2mu”.

Matthew Henry: Mereka adalah orang-orang yang tidak mengasihi kebenaran yang bisa menyelamatkan mereka. Mereka mendengar kebenaran itu (itu bisa saja), tetapi mereka tidak mengasihinya; mereka tidak tahan terhadap ajaran yang sehat, dan karena itu dengan mudah meminum ajaran2 palsu; mereka mempunyai sedikit pengetahuan yang bersifat khayalan tentang apa yang benar, tetapi mereka menuruti prasangka2 yang kuat, dan dengan demikian menjadi mangsa dari pembujuk2. Seandainya mereka mengasihi kebenaran, mereka akan bertekun di dalamnya, dan dipelihara / dijaga olehnya; tetapi tidak mengherankan jika mereka dengan begitu mudah berpisah dengan apa yang tidak pernah mereka kasihi. Dan tentang orang-orang ini dikatakan bahwa mereka binasa atau terhilang; mereka berada dalam kondisi terhilang, dan ada dalam bahaya untuk terhilang selama-lamanya.

Jamieson, Fausset & Brown: Kita bukan hanya harus menyetujui, tetapi mengasihi, kebenaran (Maz 119:97).

Maz 119:97 - “Betapa kucintai TauratMu! Aku merenungkannya sepanjang hari”.

Geoffrey B. Wilson: Mereka yang tanpa kasih terhadap kebenaran akan selalu senang dengan ketidak-benaran, karena di antara 2 perasaan / kecintaan yang bertentangan ini tidak ada daerah netral.

Yoh 3:19-20 - “(19) Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan2 mereka jahat. (20) Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak”.

Pulpit: Orang-orang yang menolak Alkitab kadang2 siap untuk mempercayai apapun kecuali Alkitab; mereka akan dengan rakus menerima dongeng apapun, hipotesa ilmiah manapun, sekalipun itu jelas tidak lebih dari hipotesa sementara / bersyarat, yang kelihatannya bertentangan dengan Alkitab.

Wycliffe: ‘Mereka yang binasa’. Penggunaan bentuk present participle APOLLUMENOIS menunjukkan bahwa proses itu sudah berjalan (bdk. 1Kor 1:18).

Hendriksen: Orang percaya yang sejati tidak pernah boleh takut termasuk dalam golongan minoritas. Hanyalah ‘sisa’nya yang akan diselamatkan. Semua yang lain akan dihukum.

Bdk. 2Tim 4:3-4 - “(3) Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru2 menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. (4) Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng”.

· “Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta” (ay 11).

Kata ‘kesesatan’ diterjemahkan berbeda-beda.

KJV: ‘strong delusion’ (= tipuan yang kuat).
RSV: ‘a strong delusion’ (= tipuan yang kuat).
NIV: ‘a powerful delusion’ (= tipuan yang kuat).
NASB: ‘a deluding influence’ (= pengaruh yang menipu).

Lenski: ‘error’s working’ (= pekerjaan kesalahan).

Lenski: Kesalahan bekerja, dan pekerjaannya selalu menghancurkan jiwa2. Gagasan / kepercayaan bahwa kesalahan itu tidak berbahaya merupakan sesuatu yang bersifat menipu. Banyak orang mempunyai kesalahan2 yang dikasihi; tetapi setiap kesalahan itu berbahaya.

Geoffrey B. Wilson: Satu saatpun Paulus tidak akan membiarkan pembacanya untuk mengkhayalkan bahwa kemenangan setan ini dicapai dengan mengorbankan kuasa tertinggi dari Allah di atas semua peristiwa. Penghindaran yang sering dilakukan dengan mengatakan bahwa Allah hanya ‘mengijinkan’ keberadaan dari kejahatan, atau bahwa penghukumannya hanyalah merupakan pekerjaan dari suatu hukum yang tidak berpribadi, tidak mendapatkan tempat dalam pemikiran sang rasul. Sekalipun dari ay 9 kelihatan bahwa setan bertanggung jawab bagi suksesnya manusia durhaka / tanpa hukum dalam menipu pengikut-pengikutnya, di sini ditunjukkan bahwa kontrol tertinggi dari Allah atas seluruh proses tidak bisa dikesampingkan.

Geoffrey B. Wilson: Dalam alam semesta yang diciptakan dan dikontrol oleh Allah, bahkan kejatuhan (ke dalam dosa) dan semua konsekwensinya ditentukan untuk melanjutkan rencana kekalNya. Sekalipun ini berarti bahwa Allah adalah penyebab tertinggi dari apapun yang terjadi, itu tidak membuatNya menjadi pencipta dosa karena setiap tindakan jahat merupakan akibat / hasil dari kehendak yang sengaja untuk mana orang itu bertanggung jawab.

Ro 9:10-18 - “(10) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. (11) Sebab waktu anak2 itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’ (14) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! (15) Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.’ (16) Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. (17) Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: ‘Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasaKu di dalam engkau, dan supaya namaKu dimasyhurkan di seluruh bumi.’ (18) Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendakiNya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendakiNya”.

Wycliffe: ‘Allah akan mengirimkan / Allah mendatangkan’ menunjukkan kedaulatan Allah, yang mengontrol tujuan2, bukan hanya dari milikNya, tetapi dari musuh2Nya. Penolakan terhadap terang menghasilkan kegelapan yang lebih hebat, seperti yang ditunjukkan oleh Mat 13:10-dst dan Ro 1:24-32.

Ro 1:24,26,28 - “(24) Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. ... (26) Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri2 mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. ... (28) Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran2 yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas”.

1Sam 16:14-16,23 - “(14) Tetapi Roh TUHAN telah mundur dari pada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang dari pada TUHAN. (15) Lalu berkatalah hamba-hamba Saul kepadanya: ‘Ketahuilah, roh jahat yang dari pada Allah mengganggu engkau; (16) baiklah tuanku menitahkan hamba2mu yang di depanmu ini mencari seorang yang pandai main kecapi. Apabila roh jahat yang dari pada Allah itu hinggap padamu, haruslah ia main kecapi, maka engkau merasa nyaman.’ ... (23) Dan setiap kali apabila roh yang dari pada Allah itu hinggap pada Saul, maka Daud mengambil kecapi dan memainkannya; Saul merasa lega dan nyaman, dan roh yang jahat itu undur dari padanya”.

1Sam 19:9 - “Tetapi roh jahat yang dari pada TUHAN hinggap pada Saul, ketika ia duduk di rumahnya, dengan tombaknya di tangannya; dan Daud sedang main kecapi”.

1Raja 22:22-23 - “(22) Jawabnya: Aku akan keluar dan menjadi roh dusta dalam mulut semua nabinya. Ia berfirman: Biarlah engkau membujuknya, dan engkau akan berhasil pula. Keluarlah dan perbuatlah demikian! (23) Karena itu, sesungguhnya TUHAN telah menaruh roh dusta ke dalam mulut semua nabimu ini, sebab TUHAN telah menetapkan untuk menimpakan malapetaka kepadamu.’”.

Ayub 12:16 - “Pada Dialah kuasa dan kemenangan, Dialah yang menguasai baik orang yang tersesat maupun orang yang menyesatkan”.

Yeh 14:9 - “Jikalau nabi itu membiarkan dirinya tergoda dengan mengatakan suatu ucapan - Aku, TUHAN yang menggoda nabi itu - maka Aku akan mengacungkan tanganKu melawan dia dan memunahkannya dari tengah-tengah umatKu Israel”.